Studi di China sebut virus Corona COVID-19 masih tinggal di dalam tubuh seseorang meski kondisi pasien sudah membaik atau gejalanya sudah mereda. Melalui studi tersebut peneliti melakukan beberapa kali tes swab tenggorokan pada pasien Corona COVID-19.
"Temuan paling signifikan dari studi kami adalah setengah dari pasien (yang diteliti) tetap memiliki virus, bahkan setelah gejala mereka membaik," jelas salah satu peneliti dari Yale School of Medicine Lokesh Sharma, dikutip dari Health24 pada Jumat (10/4/2020).
Bahkan pada kasus Corona dengan gejala berat pasien Corona disebut memiliki kemungkinan waktu shedding yang lebih lama. Di mana shedding merupakan masa seorang pasien dalam menularkan penyakit tersebut.
Para peneliti menyebut bahwa pasien Corona dapat menularkan virus dalam satu hingga delapan hari. Karenanya, mereka menyimpulkan masa karantina pasien perlu diperpanjang untuk menghindari risiko penularan meski kondisinya sudah membaik.
"Ini penting untuk memastikan bahwa Anda tidak menginfeksi orang lain," ungkap peneliti lainnya dari Chinese PLA General Hospital Dr Lixin Xie.
Glenn Fredly Meninggal dan Bahaya Meningitis
Dunia musik tanah air kembali berduka, musisi Glenn Fredly meninggal dunia pada Rabu (8/4/2020) pukul 18.47 WIB di RS Setia Mitra, Jakarta Selatan. Glenn meninggal karena penyakit meningitis yang diidapnya, dan dipastikan bukan karena virus Corona COVID-19.
"Akibat meningitis," kata perwakilan keluarga Glenn, Mozes Latuihamallo dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2020).
Apa itu meningitis?
Mengutip dari Mayo Clinic, meningitis adalah radang pada selaput atau membran yang menyelubungi otak. Penyakit ini umumnya dipicu oleh infeksi virus, tetapi infeksi bakteri dan parasit lain juga bisa menjadi penyebabnya.
Seperti apa gejala khas meningitis?
Dokter bedah saraf dari RS Mayapada, dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, mengatakan ada beberapa gejala khas yang bisa dirasakan oleh orang yang menderita meningitis.
"Ada gejala khas radang selaput otak seperti leher kaku jadi kakunya ditekuk seperti menunduk saja keras itu," kata dr Ryu, sapaan akrabnya, kepada detikcom, Kamis (9/4/2020).
"Terus nyeri leher bisa sampai ke dagu nyerinya, demam, sakit kepala, bisa mual bahkan muntah, kejang-kejang, terus ngantuk sampai dibangunkan pun dia melek tapi ngantuk lagi," lanjutnya.
Sementara itu, dr Ryu juga menjelaskan ada perbedaan gejala yang dirasakan oleh orang dewasa dan juga anak kecil atau bayi.
"Kalau pada bayi yang biasa muncul itu gatal-gatal dan nangis nggak berhenti-henti, nggak mau makan, sesak napas itu gejala-gejala pada bayi," tuturnya.
Siapa saja yang rentan terkena meningitis?
Menurut dr Ryu, meningitis bisa menyerang pada siapa saja yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
"Semua bisa, semua umur bisa. Setiap orang punya kerentanan sendiri terhadap bakteri dan virus," ucapnya.
Meski meningitis bisa menyerang pada siapa saja, dr Ryu mengatakan penyakit ini akan jauh lebih rentan terkena pada anak kecil. Sebab daya tahan tubuhnya yang masih terbilang lemah.
"Anak kecil lebih rentan, karena ketahanan anak-anak kan beda belum terpapar. Kalau orang dewasa itu sudah terpapar infeksi macam-macam, jadi daya tahan tubuhnya sudah bagus," jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar