Senin, 13 April 2020

Meningitis atau Radang Selaput Otak, Bisa Disebabkan oleh Makanan?

 Meningitis menjadi penyakit yang diderita oleh Glenn Fredly sebelum akhirnya berpulang pada Rabu (08/04). Lalu apa itu penyakit meningitis? Dan apakah makanan bisa jadi salah satu penyebabnya?
Meningitis atau radang selaput otak merupakan infeksi cairan otak yang disertai dengan peradangan. Penyakit meningitis bisa disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan tertentu atau perawatan medis. Penyakit radang seperti lupus, beberapa jenis kanker atau cedera traumatis pada kepala atau tulang belakang. Namun penyebab yang paling sering terjadi adalah infeksi oleh virus, bakteri, parasit atau jamur.

Gejala meningitis:
- Demam tinggi secara tiba-tiba
- Sakit kepala parah
- Leher kaku
- Kejang
- Gangguan tidur, ingin tidur terus dan sulit bangun
- Sensitif terhadap cahaya

Bakteri atau virus yang menyebabkan meningitis dapat menyebar melalui batuk, bersin, ciuman atau berbagi peralatan makan, sikat gigi dan rokok.

Vaksin untuk pencegahan meningitis untuk anak hingga dewasa

1. Vaksin Haemophilus influenzae tipe b (HiB)


Hib adalah vaksin yang direkomendasikan untuk anak berusia sekitar dua bulan. Vaksin ini juga direkomendasikan untuk beberapa orang dewasa, termasuk orang dengan HIV/AIDS dan yang tidak memiliki limpa.

Di Indonesia, HiB diberikan sebanyak empat kali berturut-turut pada bayi usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan dosis terakhir pada usia 18 bulan. Konsultasikan dengan dokter, Posyandu, Puskesmas, atau layanan kesehatan lainnya.

2. Vaksin pneumokokus (PCV13)


PCV13 juga merupakan vaksin yang diberikan untuk mencegah infeksi kuman pneumokokus yang menyebabkan pneumonia, radang telinga, dan meningitis.

PCV13 diberikan pada anak-anak antara usia 2-5 tahun.

3. Vaksin polisakarida pneumokokus (PPSV23)


Vaksin PPSV23 diberikan pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa yang membutuhkan perlindungan dari bakteri pneumokokus.

Makanan Penyebab Meningitis
Meningitis bakterial bisa saja menyerang ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung Listeria monocytogenes.

Sumber penularannya bisa melalui susu mentah, susu yang proses pasteurisasinya kurang sempurna, sayuran mentah, daging ayam olahan, ikan mentah hingga ikan asap.

Dikutip dalam Winona Daily News, konsumsi makanan yang mengandung bakteri Listeria monocytogenes awalnya akan menyebabkan keracunan makanan.

Akan tetapi berbeda dengan keracunan akibat Salmonella atau bakteri lainnya yang umumnya hanya menimbulkan sakit pencernaan selama beberapa jam atau hari. Infeksi Listeria monocytogenes lebih berbahaya karena bisa terjadi selama beberapa minggu sebelum gejalanya muncul.

Ahli Epidemologi Sebut Obesitas Bisa Jadi Faktor Risiko Terinfeksi Virus Corona

Seorang ahli epidemiologi asal Perancis, Profesor Jean-François Delfraissy mengatakan obesitas bisa menjadi faktor risiko terinfeksi virus Corona COVID-19. Ia mengatakan, anak muda terutama yang mengalami kelebihan berat badan harus berhati-hati.
"Itulah sebabnya, kita khawatir Amerika yang diketahui memiliki masalah obesitas paling besar bisa lebih rentan," ujarnya yang dikutip dari Reuters.

Delfraissy mengatakan, sebanyak 17 juta dari 67 juta warga Prancis yang berisiko serius terinfeksi COVID-19 yaitu lanjut usia, ada penyakit penyerta, dan obesitas. Sebanyak 88 persen dari mereka yang terinfeksi itu hanya menunjukkan gejala seperti flu saja.

Ia menyebutkan, tingkat kematian anak muda karena COVID-19 ini sebanyak 2 persen. Tapi, saat mereka lebih rapuh, misalnya mengalami obesitas dan penyakit penyerta bisa melonjak menjadi 14 persen.

Di Prancis sendiri, kasus virus Corona di sana terus meningkat sejak pertengahan Maret. Jika sebelumnya 30.000 setiap hari, dan akan meningkat dalam dua minggu menjadi 100.000-250.000 kasus per harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar