Minggu, 10 Mei 2020

Jokowi Ingatkan #JagaJarakDulu, Saling Melindungi dari Virus Corona

 Imbauan jaga jarak digencarkan pemerintah demi menangani kasus corona yang semakin meningkat di Indonesia. Sebelumnya juru bicara pemerintah dalam penanganan virus corona COVID-19, dr Achmad Yurianto, pun menilai kasus yang meningkat menandakan kontak dekat dengan positif masih terjadi di masyarakat.
Presiden Republik Indonesia (RI) menegaskan pentingnya jaga jarak melalui media sosial Twitter. Dalam postingan tersebut, kebiasaan 'jaga jarak' menjadi penting selama pandemi corona belum usai.

"Beberapa yang perlu kita jadikan kebiasaan selama pandemi korona belum berlalu. Tidak sulit menerapkannya, hanya membutuhkan kedisiplinan yang kuat. Jaga jarak, karena kita saling menjaga," tulisnya di akun Twitter @jokowi pada Sabtu (28/3/2020).


Joko Widodo
@jokowi
Beberapa yang perlu kita jadikan kebiasaan selama pandemi korona belum berlalu. Tidak sulit menerapkannya, hanya membutuhkan kedisiplinan yang kuat. 

Jaga jarak, karena kita saling menjaga.

Video terlekat
38 rb
09.19 - 28 Mar 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
12,8 rb orang memperbincangkan tentang ini

Bersama postingan tersebut, ada sebuah video tentang imbauan jaga jarak. Dalam video tergambar jaga jarak adalah cara untuk melindungi dari penyebaran virus corona.

Caranya dengan bekerja dan belajar dari rumah, beribadah dari rumah. Jika harus berinteraksi, jaga jarak minimal satu meter. Apabila menaiki transportasi umum masyarakat diimbau untuk sebisa mungkin jangan berdekatan.

"Ingat selalu, jaga jarak, kita saling menjaga," tulis imbauan dalam video tersebut.

Ilmuwan Prediksi Puncak Wabah Corona di Indonesia Terjadi di April

 Sejak awal wabah virus corona di Indonesia, banyak yang membuat prediksi laju penyebaranya. Melihat dari angka penularan yang tiap hari makin bertambah, beberapa pakar membuat prediksi mengenai akhir pandemi virus corona.
"Banyak yang membuat prediksi perjalanan wabah di Indonesia. Terus terang prediksi labnya agak sulit sekarang karena penyebabnya multifaktorial," sebut Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio kepada detikcom, Sabtu (28/3/2020).

"Saya pribadi memprediksi puncaknya akan terjadi dalam waktu dua-tiga minggu ke depan, setelah itu diharapkan jumlah kasusnya akan menurun. pertengahan puasa, mungkin pertengahan April ke Mei akan mencapai puncak," sambungnya.

Prediksi tersebut disebut akan tercapai apabila kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga jarak dan tidak bepergian saat tak perlu diterapkan semaksimal mungkin. Sebab, Prof Amin menyebut saat ini masih banyak yang menganggap virus corona bukan kasus serius, mirip flu biasa sehingga banyak yang mengabaikan imbauan tinggal di rumah atau social distancing.

Selain itu beberapa faktor yang bisa mempengaruhi lama atau tidaknya pandemi berakhir salah satunya kecepatan mendeteksi virus. Pendeteksian harus diupayakan untuk bisa mendeteksi secepat mungkin, baik dengan rapid test atau RT-PCR.

"Tentu kita juga harus membatasi ruang gerak virus juga dengan mengikuti anjuran tinggal di rumah. Ini memperkecil kemungkinan virus untuk menyebar," ucapnya.

Prof Amin menyebut kapasitas pengecekan virus di LBM Eijkman mencapai 180 sampel perhari. Lamanya proses penelitian akan berlangsung sekitar dua hari setelah LBM Eijkman menerima sampel pasien dari rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar