Minggu, 10 Mei 2020

Ilmuwan Prediksi Puncak Wabah Corona di Indonesia Terjadi di April

 Sejak awal wabah virus corona di Indonesia, banyak yang membuat prediksi laju penyebaranya. Melihat dari angka penularan yang tiap hari makin bertambah, beberapa pakar membuat prediksi mengenai akhir pandemi virus corona.
"Banyak yang membuat prediksi perjalanan wabah di Indonesia. Terus terang prediksi labnya agak sulit sekarang karena penyebabnya multifaktorial," sebut Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio kepada detikcom, Sabtu (28/3/2020).

"Saya pribadi memprediksi puncaknya akan terjadi dalam waktu dua-tiga minggu ke depan, setelah itu diharapkan jumlah kasusnya akan menurun. pertengahan puasa, mungkin pertengahan April ke Mei akan mencapai puncak," sambungnya.

Prediksi tersebut disebut akan tercapai apabila kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga jarak dan tidak bepergian saat tak perlu diterapkan semaksimal mungkin. Sebab, Prof Amin menyebut saat ini masih banyak yang menganggap virus corona bukan kasus serius, mirip flu biasa sehingga banyak yang mengabaikan imbauan tinggal di rumah atau social distancing.

Selain itu beberapa faktor yang bisa mempengaruhi lama atau tidaknya pandemi berakhir salah satunya kecepatan mendeteksi virus. Pendeteksian harus diupayakan untuk bisa mendeteksi secepat mungkin, baik dengan rapid test atau RT-PCR.

"Tentu kita juga harus membatasi ruang gerak virus juga dengan mengikuti anjuran tinggal di rumah. Ini memperkecil kemungkinan virus untuk menyebar," ucapnya.

Prof Amin menyebut kapasitas pengecekan virus di LBM Eijkman mencapai 180 sampel perhari. Lamanya proses penelitian akan berlangsung sekitar dua hari setelah LBM Eijkman menerima sampel pasien dari rumah sakit.

Duh, Cemas dan Stres karena Wabah Corona Bisa Turunkan Imunitas Tubuh

Meningkatnya kasus corona di Indonesia dari hari ke hari membuat sebagian orang merasa cemas bahkan stres. Padahal keduanya disebut bisa turunkan imunitas tubuh lho. Mengapa begitu?
Psikiater dari RS Jiwa Marzoeki Mahdi, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan hormon stres yang disebut kortisol bisa menjadi faktor imunitas tubuh menurun.

"Hormon stres yang muncul karena paparan (informasi) yang berlebihan tentang virus corona COVID-19 tadi, (hormon stres) itu namanya kortisol, kortisol itu menyebabkan kematian sel-sel tubuh," ungkapnya saat dihubungi detikcom Sabtu (28/3/2020).

Menurut dr Lahargo, sikap mental seseorang yang menghadapi fenomena virus corona COVID-19 dengan reaktif juga bisa berujung stres. Misalnya orang tersebut langsung memborong masker dan sembako, sikap reaktif ini lah yang bisa berujung stres.

"Kematian sel-sel tubuh ini yang menyebabkan imunitas atau kekebalan menjadi menurun. Jadi juga ada hormon yang namanya endorfin itu sebenarnya hormon yang bikin gembira, senang, itu menjadi tertekan karena si kortisol ini," tutupnya.

Viral Satu Keluarga Merokok karena Dianggap Bisa Cegah Virus Corona

Laman media sosial Twitter tengah dihebohkan dengan unggahan satu keluarga tengah menghisap rokok sin. Rokok tersebut diyakini keluarga tersebut bisa mencegah mereka terpapar virus corona Covid-19. Pasalnya, aksi merokok tersebut juga dilakukan oleh anak-anak di bawah umur dari anggota keluarga itu.
Video yang diunggah oleh akun @we*dsciet* di Twitter pada Kamis (26/3) memperlihatkan tiga anak kecil, yang dua di antaranya sedang merokok. Selain itu, ada juga tiga perempuan dan satu suara laki-laki.

"Kami menghadang virus corona, kami sekeluarga merokok, Insya Allah mudah-mudahan dengan izin Allah virus COVID-19 terhadang dengan Pr****t 19 (merek rokok) dengan izin Allah, Amin Ya Rabbal Alamin," ujar seorang pria pada video.

Unggahan yang sudah ditonton lebih dari 300 ribu kali itu mengundang pro kontra. Pasalnya keluarga tersebut mengklaim bahwa rokok yang dihisap adalah rokok sin atau rokok herbal.

Namun, meski yang dikonsumsi diklaim rokok herbal, semua rokok tetap menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan terlebih saat wabah virus corona. Disebutkan oleh vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas, merokok dapat mempengaruhi imun yang kita butuhkan untuk melawan virus.

"Berhenti atau tidak merokok tidak secara langsung mencegah infeksi COVID-19," kata dr Dirga pada detikcom beberapa waktu lalu.

Namun demikian dr Dirga menegaskan bukan berarti orang yang berhenti merokok bisa sama sekali bebas dari risiko terinfeksi virus corona. Harus dibarengi dengan menjaga kesehatan dan mematuhi anjuran physical distancing.

"Tapi seorang perokok memang lebih rentan terinfeksi atau sakit saluran napas. Rokok menyebabkan gangguan clearance mechanism saluran napas," lanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar