Tidak semua data statistik pariwisata Indonesia sepanjang Maret 2020 mengalami penurunan. Rata-rata lama menginap tamu asing dan lokal justru mengalami kenaikan.
Rata-rata lama menginap tamu asing dan lokal pada hotel klasifikasi bintang di Indonesia mencapai 1,83 hari sepanjang bulan Maret 2020.
Menurut data Badan Pusat Statistik yang diterima detikTravel, Kamis (7/5/2020), angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,02 poin jika dibanding rata- rata lama menginap di bulan yang sama tahun 2019 lalu.
Begitu pula jika dibandingkan dengan bulan Februari 2020. Rata-rata lama menginap pada Maret 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,09 poin.
Secara umum, rata-rata lama menginap tamu asing di sepanjang bulan Maret 2020 lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lama menginap tamu lokal, yaitu masing-masing 3,29 hari dan 1,71 hari.
Jika dirinci di setiap provinsi, rata-rata lama menginap tamu terlama pada bulan Maret 2020 tercatat di Provinsi Bali, yaitu 2,80 hari. Kemudian diikuti Provinsi DKI Jakarta yaitu 2,38 hari, dan Provinsi Sulawesi Barat selama 2,36 hari.
Sedangkan rata-rata lama menginap tamu yang terpendek terjadi di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Kalimantan Utara sebesar 1,35 hari.
Untuk tamu asing, rata-rata lama menginap paling lama tercatat di Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 8,35 hari. Sedangkan yang terpendek ada di Provinsi Bengkulu yaitu 1,00 hari.
Sementara itu, rata-rata lama menginap terlama untuk tamu Indonesia tercatat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 2,36 hari. Sedangkan yang terpendek ada di di Provinsi Sumatera Barat selama 1,32 hari.
Kerukunan 3 Umat Beragama di Kota Suci Yerusalem
Yerusalem adalah salah satu kota tertua di dunia yang disucikan oleh umat Yahudi, Islam dan Kristen. 3 Umat beragama hidup rukun dan damai di kota ini.
Berbagai peninggalan sejarah perkembangan agama yang masih terawat dengan baik menjadi daya tarik bagi Kota Suci Yerusalem. Meskipun terdapat tiga agama yang menjalankan kegiatan dengan bangunan-bangunan fisik yang bernilai sejarah tinggi, namun kerukunan umat beragama Yerusalem tetap terjaga dengan baik.
Untuk mengunjungi Kota Suci Yerusalem memang memerlukan usaha tersendiri dibanding kota-kota di negara lainnya. Hal ini disebabkan konflik wilayah termasuk daerah Yerusalem yang terjadi antara Israel dengan Palestina yang belum kunjung selesai.
Situasi ini membuat Israel cukup ketat dalam mengawasi perbatasannya termasuk dengan memeriksa wisatawan yang memasuki wilayahnya. Biasanya orang-orang Amerika akan masuk ke Yerusalem melalui kota Tel Aviv, sementara warga negara lain termasuk Indonesia akan masuk ke Israel menuju Yerusalem melalui Amman Yordania atau Kairo Mesir.
Penulis melakukan perjalanan menuju Yerusalem dari Amman Yordania melewati pintu perbatasan Allenby pada awal Desember 2019. Di perbatasan ini pemeriksaan cukup ketat dilakukan oleh petugas dari Israel. Dengan otoritasnya, petugas dari Israel bisa menolak kedatangan sesorang meskipun tanpa alasan yang perlu disampaikan.
Meskipun demikian, masuk ke Yerusalem melewati jembatan Allenby di Israel akan memberikan pengalaman tersendiri yang mengesankan.
Perjalanan melewati perbatasan masuk Israel yang cukup ketat, akan langsung terbayar ketika memasuki Yerusalem.
Di kota suci ini terdapat berbagai obyek yang menjadi tujuan wisata religi. Uniknya hampir semua objek wisata yang merupakan simbol agama bisa dikunjungi oleh wisatawan, apapun agamanya.
Keragaman umat beragama di Yerusalem yang tetap menjaga kerukunan dan saling menghormati kepada orang lain. Inilah yang bisa menjadi pelajaran penting bagi wisatawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar