Sabtu, 09 Mei 2020

Tim Pakar COVID-19 Gambarkan Kondisi Pasien Corona di Indonesia

 Data yang terintegrasi di Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Indonesia menyajikan gambaran umum mengenai kondisi pasien yang saat ini sedang ditangani dan menjalani perawatan. Hingga kini jumlah pasien positif virus Corona di Indonesia tercatat 13.112 kasus dengan 2.494 sembuh, dan 943 meninggal dunia yang tersebar di seluruh provinsi.
"Dari gambaran kasus yang ada, kalau dari gejala positif, ternyata yang paing sering itu batuk. Batuk itu paling tinggi," kata Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Sabtu (9/5/2020).

Selain itu dari segi usia, disebutkan oleh Prof Wiku bahwa usia paling rentan tertular Corona adalah kelompok di atas 45 tahun. Sekitar 85 persen pasien yang meninggal juga rentang usianya di atas 50 tahun.

"Kondisi penyakit penyerta kebnyakan memiliki hipertensi, diabetes melitus, jantung, kemudian penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)," sebutnya.

Selain itu yang juga menjadi perhatian adalah dari segi jenis kelamin. Dari semua pasien COVID-19, kelompok jenis kelamin yang paling rentan terinfeksi adalah laki-laki.

"Kalau kita lihat sekitar 60 persen yang positif adalah orang-orang berjenis kelamin laki-laki, mereka lebih rentan, dan ini adalah gambaran nasional," pungkasnya.

Studi Temukan Kombinasi Obat yang Bantu Pasien Corona Sembuh Lebih Cepat

 Kombinasi tiga obat antivirus dan penguat sistem kekebalan tubuh disebut membantu pasien pulih lebih cepat dari infeksi virus Corona. Dilansir dari CNN International, penelitian yang dilakukan oleh tim dokter di Hong Kong menyebut meski pendekatan ini membutuhkan lebih banyak pengujuan, diharapkan dalam waktu dekat akan ada pengobatan lain untuk pasien COVID-19.
Saat ini satu-satunya pengobatan yang disetujui adalah Remdesivir, yang disebut mempercepat penyembuhan pasien namun persediaannya masih terbatas.

Untuk itu, Dr Kwok-Yung Yuen dari Universitas Hong Kong dan rekannya menguji kombinasi obat HIV dari ritonavir dan lopanivir bersama dengan obat antivirus umum ribavirin dan obat multiple sclerosis yang disebut beta interferon. Hasilnya disebut signifikan dalam mengobati pasien.

Pasien dalam penelitian ini semua memiliki gejala ringan hingga sedang dan dirawat dalam waktu tujuh hari. Tim dokter kemudian membagi kelompok pasien yang diberi kombinasi obat HIV, lopinavir-ritonavir dan suntikan beta interferon, lainnya hanya diberi obat HIV saja.

Pada pasien yang diberi kombinasi tiga obat tersebut dinyatakan negatif virus Corona setelah tujuh hari. Sementara yang mendapatkan obat HIV masih menunjukkan terinfeksi Corona di hari ke-12. Laporan ini dituliskan dalam jurnal medis Lancet.

Peter Chin-Hong, yang merawat pasien virus Corona di University of California San Francisco, mengatakan penelitian ini menawarkan harapan baru dalam pandemi.

"Penelitian ini benar-benar menyegarkan karena memberi tahu kami bahwa remdesivir bukan satu-satunya obat dan mungkin ada pilihan lain. Obat-obatan ini memiliki rekam jejak keselamatan," kata Peter yang tidak terlibat langsung dengan penelitian tersebut.

Disebutkan bahwa saat ini dokter dan apoteker mengeluh sebab tidak tahu rumah sakit atau klinik mana yang akan mendapatkan remdesivir, obat untuk pasien Corona yang diberi otorisasi penggunaan darurat oleh FDA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar