Berdasarkan data dari Singapore University of Technology and Design (SUTD), prediksi akhir dari wabah Corona ternyata mengalami perubahan. Jika sebelumnya wabah Corona di Indonesia diprediksi selesai pada 6 Juni, kini bergeser menjadi 23 September.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, data SUTD menunjukkan wabah Corona di Singapura akan selesai lebih dulu pada 12 Juni 2020. Sementara Malaysia akan menyusul di belakangnya pada 16 Juni 2020 mendatang.
Data yang dimuat dalam laman web SUTD "When Will COVID-19 End" ini menggunakan artificial intelligence (AI), yang berbasis pada model matematika tipe susceptible-infected-recovered (SIR). Model ini diregresikan dengan data dari berbagai negara untuk memperkirakan kurva siklus hidup pandemi.
Selain itu, data ini juga akan memperkirakan kapan pandemi tersebut akan berakhir di masing-masing negara di dunia. Dilengkapi dengan kode dari Milan Batista dan data terbaru yang dihimpun dari Our World in Data.
"Situs ini menampilkan proyek penelitian independen, tidak didanai oleh lembaga apapun, tidak terikat pada perusahaan, pemerintah, atau partai politik mana pun. Kami menerima jika ada masukan yang sangat besar, feedback, saran dan dukungan dari orang-orang serta komunitas di dunia yang memungkinkan untuk perbaikan berkelanjutan dari penelitian ini," tulis dalam situs tersebut.
Situs tersebut juga menyebutkan bahwa data prediksi hanya ditujukan untuk penelitian dan pendidikan, sehingga sangat mungkin ditemukannya kesalahan. Maka dari itu, para pembaca terus dihimbau untuk berhati-hati saat melihat prediksi itu.
"Pada dasarnya, prediksi itu tidak pasti. Pembaca harus mengambil prediksi apa pun dengan hati-hati. Optimis yang berlebihan berdasarkan perkiraan tanggal akhir adalah berbahaya karena dapat melonggarkan disiplin dan kontrol kita dan menyebabkan perputaran virus dan infeksi, dan harus dihindari," lanjut keterangan dalam situs SUTD.
8 Tips Diet Saat Puasa Plus Bonus Daya Tahan Tubuh Naik
Puasa terkadang menjadi kendala atau alasan untuk menunda diet. Jangan salah, saat puasa kita juga bisa berdiet plus dapat bonus daya tahan tubuh naik.
Dokter gizi dr Cindiawaty Pudjiadi, MARS, MS, SpGK, mengatakan, diet bukan makan sedikit banget. Kata diet itu sebenarnya pengaturan makan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan kita.
Kalau kita penyandang diabetes, dietnya menjadi diet untuk diabetes. Contoh lain misalnya kalau kita kolesterolnya naik, dietnya adalah diet rendah kolesterol.
Kalau kita mau menurunkan berat badan, lanjut dokter yang memiliki Instagram @drcmeal ini, dietnya yakni diet rendah kalori. Tapi jangan salah, diet rendah kalori itu bukan berarti makan sedikit banget.
"Kita bisa tetap diet untuk menurunkan berat badan, tapi makannya tetap banyak," ujar dr Cindi kepada detikcom, Sabtu (09/05/2020).
Kalau makanan yang kita konsumsi bergizi lengkap dan seimbang, maka sebenarnya dapat makan banyak. Kalau ingin tahu seberapa banyaknya untuk diri kita masing-masing, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.
"Di saat ini sudah makin mudah untuk berkonsultasi, sudah ada telemedicine, jadi tetap bisa tahu apa yang perlu dikonsumsi. Tapi tetap dari rumah, apalagi sekarang kita harus PSPB," kata dokter yang berpraktik di RS Medistra ini.
Nah, saat puasa pada masa pandemi virus corona ini, kita tetap bisa menjalankan diet untuk penurunan berat badan dan bonus daya tahan tubuh naik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar