Kisah haru datang dari anak Flaviro Ramus, Arturo Ramus, di Ekuador. Jenazah sang ayah yang berusia 55 tahun, salah satu korban Corona, dilaporkan hilang oleh rumah sakit setempat.
Sebelumnya, sang ayah dilaporkan merasa kesulitan bernapas pada 31 Maret lalu. Arturo yang berusia 24 tahun pun mengantar ayahnya ke rumah sakit terdekat dengan harapan bisa segera ditangani.
Namun sayangnya, ketika tiba di rumah sakit, staf medis setempat memberi tahu bahwa tidak ada kamar yang tersedia untuk merawat sang ayah.
"Para dokter mengatakan, 'tidak ada tempat tidur untuk pasien,' dan hanya itu," kata Ramos kepada CNN melalui telepon video dari rumahnya di Guayaquil.
"Jika kamu tetap di pintu mereka mengatakan mereka akan memanggil keamanan untuk mengusirmu," lanjut Ramos.
Tak berhenti sampai di situ, ia pun mencari kembali rumah sakit lain. Usai empat jam mengemudi, Ramos mengatakan ayahnya baru bisa dirawat di Rumah Sakit Umum Guasmo Sur. Rumah sakit tersebut adalah fasilitas ke-11 yang sudah ia datangi.
Ramos juga mengatakan bahwa ayahnya menghabiskan waktu terakhirnya di sebuah ruangan dengan dua pasien yang sudah meninggal. "Kedua mayat itu ada di lantai," katanya.
"Yang satu dibungkus dengan tas hitam, tepatnya kantong sampah, dan yang lainnya mati di lantai. Tidak ada yang merawat mereka," lanjut Ramos.
Ramos keluar dari rumah sakit sekitar jam 9:30 pagi pada tanggal 1 April untuk mengambil sarapan, pergi selama 15 menit. Ketika dia kembali, ayahnya sudah meninggal.
"Tidak ada yang bersamanya ketika dia meninggal," kata Ramos. Rumah sakit pun dilaporkan menolak mengomentari kasus ini.
Kematian dan lenyapnya jenazah ini menggambarkan bagaimana sistem perawatan kesehatan di kota terbesar kedua di Ekuador, runtuh dalam hitungan minggu setelah wabah Corona meledak pada bulan Maret. Banyak keluarga membuat pilihan untuk menempatkan orang yang dicintai di luar rumah karena takut akan infeksi dan karena baunya tidak tertahankan.
"Orang yang benar-benar sakit datang ke rumah sakit, sekarat. Kamu cenderung melakukan satu, melakukan apa yang bisa kamu lakukan, kemudian orang itu meninggal, dan kamu pindah ke yang berikutnya, dan orang itu meninggal, dan terus seperti itu," kata dokter yang tidak ingin disebutkan namanya dalam wawancara bersama CNN.
"Pada satu titik ada puluhan mayat antara kamar rumah sakit dan kamar mayat yang menunggu untuk dibawa pergi," kata dokter tersebut. "Tidak ada kantong mayat yang tersisa."
4 Fakta Tumor Otak Seperti Diidap Adi Kurdi 'Keluarga Cemara'
Kabar duka kembali datang dari dunia hiburan Indonesia. Adi Kurdi, pemeran Abah dalam sinetron 'Keluarga Cemara' meninggal dunia karena tumor otak yang diidapnya.
Adi Kurdi meninggal di RS Pusat Otak Nasional (PON) pada hari ini, Jumat (8/5/2020), pukul 11.30 WIB. Menurut sang istri, Bernadetta Siti Restyratuti, sebelum meninggal suaminya sempat menjalani perawatan untuk mengeluarkan cairan yang menyumbat di otaknya.
"Jadi tumor otak. Ada penyumbatan dan sekarang ini penuh cairan padahal sudah disedot," jelas Tuti, istri Adi Kurdi saat ditelepon detikcom, Jumat (8/5/2020).
Mengutip dari National Foundation For Cancer Research, ada beberapa fakta yang perlu diketahui terkait tumor otak yang diidap Adi Kurdi, antara lain:
1. Tumor otak primer jarang terjadi
Tumor otak primer atau yang memang bermula dari otak jarang sekali terjadi. Tumor otak yang paling umum ditemui adalah tumor sekunder, yang berasal dari tumor di organ lain yang bermetastasis hingga ke otak. Bisa bermula dari paru-paru, payudara, usus besar, atau prostat.
2. Jadi penyebab kanker otak yang tidak diketahui
Kebanyakan orang yang didiagnosis tumor otak primer, faktor risikonya tidak diketahui. Namun, seiring waktu tumor ini terbukti bisa meningkat menjadi kanker otak.
Meningkatnya risiko tumor otak ini terjadi seiring dengan bertambahnya usia, paparan radiasi, ataupun gangguan genetik langka seperti penyakit Von Hippel-Lindau, sindrom Li-Fraumeni, dan Neurofibromatosis (NF1 dan NF2).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar