Teror alat kelamin juga terjadi di Kabupaten Mojokerto. Pelaku menyasar seorang siswi SMA. Aksi pria mesum ini terekam kamera CCTV.
Ayah korban berinisial MZ mengatakan, putrinya yang kini duduk di bangku kelas XI SMA menjadi korban teror alat kelamin oleh seorang pria saat pulang sekolah pada Rabu (20/2). Gadis 16 tahun itu sedang berjalan kaki menuju ke rumahnya di salah satu perumahan yang ada di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
"Anak saya disamperi seorang pria, usianya sekitar 30-35 tahun, memakai baju hitam, motor mio hitam, helm hitam, badannya agak gemuk," mata MZ kepada wartawan di rumahnya, Selasa (5/3/2019).
Sebelum beraksi, lanjut MZ, pelaku berpura-pura menanyakan jalan di dalam perumahan tersebut kepada putrinya. Tanpa menaruh curiga, korban menjawab pertanyaan pelaku.
Setelah memberi penjelasan kepada pelaku, korban lantas melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya. Tak disangka, pelaku membuntuti korban. Masih dengan mengendarai sepeda motor, pelaku mengeluarkan alat vitalnya. Pelaku juga memainkan kemaluannya layaknya sedang beronani.
"Tak dihiraukan anak saya, tapi dikuntit terus. Anak saya disalip, anak saya ketakutan, ditengok anak saya karena disapa pelaku. Pelaku masih keluarkan kemaluannya," terang MZ.
Sembari ketakutan, korban mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di rumahnya. Saat kejadian, jalan di perumahan sedang sepi. Begitu korban masuk ke rumahnya, pelaku kabur.
"Saat anak saya masuk rumah, pelaku putar balik. Pelaku sempat melihat ke arah CCTV sambil tertawa," ungkap MZ.
Akibat teror alat kelamin ini, tambah MZ, putrinya mengalami trauma. "Saat itu anak saya syok berat, sekarang sudah membaik," jelasnya.
MZ menjelaskan, teror alat kelamin ini terekam kamera CCTV perumahan. Pihaknya mengaku belum melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialami putrinya.
"Kalau bukti ini (rekaman CCTV) cukup, kami musyawarahkan dulu dengan keluarga dan RT, kalau dibutuhkan kami laporkan," tandasnya.
Sebelumnya, teror alat kelamin juga terjadi di Karawang. Saat ini korban teror alat vital yang terdata sudah mencapai hampir 70 orang. Bahkan sejumlah guru perempuan turut jadi korban pria-pria mesum yang masih berkeliaran tersebut. https://bit.ly/2pIX6Xj
Teror Alat Kelamin Berlanjut, Guru Jadi Korban Terbaru
Sejumlah pria di Karawang, Jawa Barat, bikin geger karena ulahnya memamerkan alat vital di hadapan wanita. Para korban tak hanya dari kalangan siswi tapi guru perempuan turut menjadi korban teror tersebut.
Kasus asusila tersebut diketahui berlangsung sejak 3 tahun lalu. Berdasarkan penelusuran seorang guru salah satu SMP negeri di bilangan Jalan Ahmad Yani, sedikitnya 50 siswi telah jadi korban kelompok pria mesum tersebut. Ia khawatir korban akan terus bertambah sebab hingga kini, para pelaku belum tertangkap.
Sedikitnya tiga sekolah di bilangan Jalan Ahmad Yani tengah bekerja sama mengungkap kasus pamer alat vital tersebut. Selain minta tolong pada petugas berpakaian preman, mereka menelusuri jumlah korban sebenarnya.
"Pelaku membuka kaca mobil dan menanyakan alamat, siswi yang menghampiri biasanya sudah melihat pria itu tidak pakai celana dan memainkan alat vital mereka. Saat siswi menjerit, para pelaku kabur tancap gas," kata Wakil Ketua KPAI Jabar Wawan Wartawan saat dihubungi detikcom, Jumat (22/2/2019).
Saat ini korban teror alat vital yang terdata sudah mencapai hampir 70 orang. Bahkan sejumlah guru perempuan turut jadi korban pria-pria mesum yang masih berkeliaran tersebut.
"Makin banyak yang mengaku pernah jadi korban. Tidak hanya siswi, bahkan ada enam orang guru perempuan yang mengaku pernah jadi korban mereka. Sepertinya korban kejahatan ini cukup banyak," kata seorang guru salah satu SMP Negeri di Jalan Ahmad Yani, Karawang.
Peristiwa itu memicu keresahan guru dan murid di sekolah tersebut. Seorang guru kemudian melakukan pendataan untuk mencari korban lainnya. Sebab 3 tahun lalu, terdapat puluhan siswi yang jadi korban.
Guru tersebut mengungkapkan, rata-rata korban memendam peristiwa pamer alat vital itu. Bahkan perlu cara khusus dan privat saat membujuk para korban supaya berani mengaku. "Bahkan ada yang sudah 2 tahun baru mengaku pada kami. Perlu pendekatan khusus mengungkap kasus semacam ini," kata guru yang enggan identitasnya diungkap itu.
Saat ini, Polres Karawang memulai penyelidikan kasus tersebut. Personel Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sudah mewawancarai beberapa korban.
"Kita baru mulai lidik," kata Kepala Unit PPA Polres Karawang, Herwit Yuanita dengan singkat saat dihubungi via telepon, Jumat petang (22/2/2019).
Penyidik menggali kesaksian korban guna mencari petunjuk dalam kasus asusila tersebut. Selain itu, penyidik berkomunikasi dengan korban untuk menggali kronologi lengkap kasus tersebut. https://bit.ly/2QKjA5x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar