Minggu, 24 November 2019

Pahala Mansury Dirut Baru BTN, Chandra Hamzah Komut

Pahala N Mansury ditunjuk menjadi Direktur Utama Bank BTN (Persero) Tbk mengisi posisi kosong yang sebelumnya ditempati oleh Maryono. Sementara Chandra Hamzah menjadi komisaris utama bank sektor perumahan tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Jumat (22/11/2019).

"Pahala ada tugas baru juga sebagai dirut BTN dan komutnya Pak Chandra Hamzah," katanya.

Pahala sebelumnya diketahui menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero). Pahala menggantikan Arief Budiman yang sebelumnya duduk di kursi Direktur Keuangan Pertamina.

Pahala Mansury merupakan sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Kemudian, dia memperoleh gelar pendidikan lebih tinggi yakni MBA Finance dari Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat (AS).

Pria kelahiran tahun 1971 itu memulai karirnya sebagai konsultan manajemen di Andersen Consulting sampai tahun 1997. Pada tahun 1998, Pahala bekerja paruh waktu di salah satu sekuritas di New York.

Pahala bergabung dengan Booz Allen & Hamilton sebagai konsultan senior selama satu tahun di 1999. Pada tahun yang sama ia juga sempat bergabung dengan Boston Consulting Group sebagai pemimpin dalam beberapa proyek perbankan.

Beberapa tahun berselang atau di tahun 2003, Pahala kemudian memulai kariernya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank Mandiri menjadi salah satu pijakan penting karier Pahala sebab dari sini kariernya terus meningkat.

Di tahun 2010, Pahala dipercaya sebagai salah satu direktur Bank Mandiri. Jabatan itu dia dapat setelah menjabat sebagai EVP Coordinator Finance & Strategy and Chief Financial Officer.

Selanjutnya, pada April 2017, Pahala dipercaya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Dia menjabat sebagai orang nomor satu maskapai pelat merah selama 17 bulan atau berakhir kemarin (12/9/2018) saat RUPSLB Garuda Indonesia.

Mencari Calon Dirut Bank Mandiri, Siapa Paling Cocok?

 Semenjak Kartika Wirjoatmodjo ditunjuk menjadi Wakil Menteri BUMN, posisi Direktur Utama Bank Mandiri Kosong. Saat ini sementara bank milik negara itu dipimpin oleh Wadirut Sulaiman Arif Arianto yang merangkap menjadi Plt Dirut.

Lalu kira-kira siapa yang cocok memimpin salah satu bank terbesar di Indonesia itu?

Ekonom Senior Indef yang juga mantan Komisaris Bank Mandiri, Aviliani menilai ada beberapa nama sosok berasal dari internal yang berpeluang besar menjadi dirut. Ada dua nama, yakni Royke Tumilaar yang kini menjabat sebagai Direktur Corporate Banking dan Pahala N Mansury mantan direksi Bank Mandiri yang kini jadi Direktur Keuangan Pertamina. https://bit.ly/37AkY0e

"Kalau menurut saya dari dalam yang potensi yang dulu pernah diusulkan Pak Royke dan Pak Pahala yang sekarang di Pertamina. Itu adalah dua yang punya potensi yang saya lihat. Pak Royke kan dulu juga beberapa kali diusulkan jadi dirut," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Rabu (6/11/2019).

Sementara jika dipilih dari luar, Aviliani memprediksi akan diisi oleh Sulaiman yang kini jadi Wadirut Bank Mandiri. Namun menurutnya Bank Mandiri lebih baik memiliki pemimpin yang berasal dari internal perusahaan.

Aviliani sendiri memprediksi sosok yang paling kuat adalah Royke. Sebab menurutnya selain berasal dari internal, Royke memiliki pengalaman di bidang bisnis bank kredit dan treasury.

"Kalau di perbankan harus punya pengalaman paling penting 2, kredit sama treasury. Karena income yang paling besar dari situ," katanya.

PR yang Harus Dikerjakan

Aviliani mengatakan, siapapun sosok yang akan memimpin Bank Mandiri ada beberapa PR yang harus diselesaikan. Pertama Bank Mandiri sebagai bank nomor 2 terbesar di Indonesia sudah menjadi katalisator industri perbankan, sehingga harus terus dijaga kinerjanya.

"Karena begitu ada masalah dengan kinerjanya itu akan kena yang lain. Oleh karena itu untuk menjaga ke depan PR-nya satu menjaga performance karena ini merupakan indikator," tegasnya.

Kedua, siapapun dirutnya harus mampu membangun ekosistem bisnis Bank Mandiri. Sebab selama ini Bank Mandiri memiliki banyak jenis bisnis namun tidak bisa berjalan selaras. Ketiga Bank Mandiri harus mempercepat pengembangan fintech. https://bit.ly/33huyBQ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar