Sabtu, 10 April 2021

5 Alasan Missionary Jadi Posisi Seks Terpopuler Meski Cuma Gitu-gitu Saja

 Tidak terbantahkan lagi, missionary adalah posisi seks paling populer di seluruh dunia. Tidak terbantahkan juga bahwa posisi ini paling monoton alias membosankan.

Tapi kok banyak yang suka ya?


Dikutip dari Hello Giggles, berikut 5 alasan posisi yang gitu-gitu saja tersebut tetap mendapat tempat di hati para pasangan suami-istri.


1. Bagus untuk komunikasi

Saling berhadapan adalah posisi seks yang paling memungkinkan untuk berkomunikasi secara intens. Tidak hanya verbal, masing-masing pihak juga lebih leluasa mengamati respons dan ekspresi pasangannya.


2. Tetap ada variasinya

Semembosankan-membosankannya posisi seks missionary, sebenarnya tetap ada variasi yang bisa diciptakan demi meningkatkan kenyamanan. Misalnya dengan menyelipkan bantal di bawah punggung untuk menopang tubuh sehingga stimulasi klitoris lebih optimal.


KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA

https://movieon28.com/movies/my-all-american/


Punya Diabetes, Bolehkah Ikut Puasa? Begini Aturannya Menurut Dokter


 - Diabetes merupakan salah satu penyakit komorbid yang memperparah dampak COVID-19. Menyambut Ramadhan di tengah pandemi, puasa rupanya bisa menjadi langkah baik bagi para pengidap diabetes, namun dengan syarat dan kondisi tertentu. Apa kata dokter?

"Kalau mereka yang gula darahnya sudah terkontrol saat berpuasa kecenderungannya gula darahnya semakin terkontrol lagi. Kalau tidak (dikontrol dulu), ada kondisi gula darah malah drop atau timbul ketosis," jelas dokter spesialis penyakit dalam dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dalam webinar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Jumat (9/4/2021).


Menurutnya, puasa memang kerap kali membawa dampak baik bagi tubuh, tidak terkecuali pada pengidap diabetes. Pasalnya, kadar gula lebih bisa dikontrol dengan berpuasa. Baik karena porsi yang tak berlebihan, atau jam makan yang teratur.


"Mereka yang diabetes, kalau sudah teratur, itu baru aman berpuasa," ujar dr Ceva.


Seiring bulan puasa di tengah pandemi COVID-19, pengidap diabetes alias orang-orang dengan risiko gejala berat dari infeksi COVID-19 wajib dapat perhatian khusus.


Jika pengidap diabetes sedang atau baru saja terinfeksi COVID-19, puasa bisa jadi aman dijalankan. Dengan syarat, kadar gula dikontrol lebih dulu.


Namun jika pengidap diabetes ini mengalami sejumlah gejala COVID-19 baik yang berat atau ringan sekali pun, lebih baik puasa tidak dilanjutkan dulu lantaran berisiko.


"Kalau demam atau ada gejala-gejala lain, lebih baik tidak melanjutkan puasa karena berisiko gula darah bisa melonjak naik, bisa juga turun drastis. Itu harus diperhatikan," terang dr Ceva lebih lanjut pada detikcom.


Ada Risiko Pembekuan Darah, WHO Tetap Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca


 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui adanya hubungan antara vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan kejadian pembekuan darah. Hal ini menyusul laporan dari Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) yang mengimbau para tenaga kesehatan dan masyarakat waspada terhadap efek samping tersebut.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan vaksin AstraZeneca masih tetap direkomendasikan. Alasannya kejadian pembekuan darah tersebut merupakan efek samping langka, masih lebih besar manfaat vaksin dalam mencegah angka kesakitan karena COVID-19.


"WHO, EMA, dan MHRA (BPOM Inggris -red) masih merekomendasikan karena manfaat vaksin COVID-19 AstraZeneca lebih besar daripada risiko efek samping yang langka ini," kata Tedros seperti dikutip dari situs resmi WHO pada Sabtu (10/4/2021).


"Semua vaksin dan obat bisa memiliki risiko efek samping. Pada kasus ini, risiko penyakit parah dan kematian karena COVID-19 berkali-kali lebih tinggi daripada risiko efek samping vaksin," lanjutnya.


Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Profesor Hindra Hingky Irawan menegaskan sampai saat ini tidak ada laporan kasus pembekuan darah karena vaksin AstraZeneca di Indonesia. Masyarakat diimbau waspada terhadap beberapa kemungkinan gejala, mulai dari pusing yang tak kunjung sembuh hingga nyeri di tungkai.


"Kalau pusing dikasih obat enggak membaik setelah 2 minggu, terus kalau ada sakit dada atau kesulitan napas, kalau misalnya sakit perut, nyeri tungkai, bengkak di tungkai, itu datang ke dokter untuk diperiksa," kata Prof Hindra pada detikcom.

https://movieon28.com/movies/day-of-the-dead-bloodline/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar