DKI Jakarta masih menjadi salah satu provinsi penyumbang kasus COVID-19 terbanyak di Indonesia. Total sudah ada 1.571.824 kasus Corona yang tercatat di ibu kota, per 12 April 2021.
Bagaimana sebaran kasus aktifnya saat ini?
Meski total kasusnya sudah mencapai 1,5 juta, namun sudah banyak pasien yang dilaporkan sembuh dari COVID-19. Berdasarkan data corona.jakarta.go.id, saat ini total kasus aktif Corona di DKI Jakarta ada sebanyak 6.271 pasien.
Pasien Corona ini tersebar di berbagai wilayah ibu kota. Disebutkan, sebanyak 2.947 pasien dirawat di rumah sakit dan 3.324 menjalani isolasi mandiri.
Berikut update sebaran kasus aktif COVID-19 di DKI Jakarta terkini dilihat dari 25 wilayah dengan pasien Corona atau kasus aktif terbanyak di ibu kota, per 12 April 2021 dikutip dari laman corona.jakarta.go.id.
Pademangan Timur (Jakarta Utara): 65 pasien
Pulo Gebang (Jakarta Timur): 58 pasien
Cipete Selatan (Jakarta Selatan): 57 pasien
Kapuk Muara (Jakarta Utara): 55 pasien
Pondok Kelapa (Jakarta Timur): 52 pasien
Cilandak Barat (Jakarta Selatan): 51 pasien
Duri Kepa (Jakarta Barat): 51 pasien
Pluit (Jakarta Utara): 49 pasien
Kelapa Gading Timur (Jakarta Utara): 48 pasien
Duren Sawit (Jakarta Timur): 47 pasien
Kampung Tengah (Jakarta Timur): 47 pasien
Pejagalan (Jakarta Utara): 47 pasien
Ciracas (Jakarta Timur): 46 pasien
Kebon Kosong (Jakarta Pusat): 46 pasien
Baca juga
Cipedak (Jakarta Selatan): 45 pasien
Pondok Bambu (Jakarta Timur): 44 pasien
Ciganjur (Jakarta Selatan): 43 pasien
Kalibata (Jakarta Selatan): 43 pasien
Kelapa Dua Wetan (Jakarta Timur): 43 pasien
Lenteng Agung (Jakarta Selatan): 43 pasien
Halim Perdana Kusumah (Jakarta Timur): 42 pasien
Pegadungan (Jakarta Barat): 42 pasien
Cipinang Muara (Jakarta Timur): 41 pasien
Jagakarsa (Jakarta Selatan): 41 pasien
Lebak Bulus (Jakarta Selatan): 41 pasien.
https://trimay98.com/movies/julieta/
Penting! Ini Syarat Tes GeNose Saat Puasa Ramadhan Agar Hasilnya Akurat
Tes GeNose C19 telah banyak digunakan untuk screening virus Corona atau COVID-19 di berbagai fasilitas publik saat ini, khususnya terkait syarat perjalanan jarak jauh. Peneliti mengungkap ada beberapa syarat yang harus dipatuhi sebelum menjalani tes GeNose saat puasa.
"Diupayakan pemeriksaan GeNose dilakukan saat pagi hari," ujar peneliti GeNose C19, dr Dian Kesumapramudya, SpA., M.Sc, PhD, dalam keterangan tertulis yang dikirim Humas Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada wartawan, Selasa (13/4/2021).
Dian menjelaskan pemeriksaan GeNose dianjurkan saat pagi hari maksimal 6 jam setelah sahur. Sebab jika tes dilakukan lebih dari 6 jam usai sahur dikhawatirkan ada peningkatan asam lambung. Kondisi itu dapat memengaruhi hasil pembacaan GeNose.
"Terkait peningkatan asam lambung ini sebenarnya bisa diakali dengan berkumur, tetapi tetap lebih baik jangan lebih dari 6 jam sesudah sahur pemeriksaan GeNose-nya," terangnya.
Anggota peneliti GeNose C19 lainnya, dr Mohamad Saifuddin Hakim, M.Sc, PhD menambahkan waktu lain yang dianjurkan untuk pemeriksaan GeNose adalah setelah berbuka puasa.
"Selain pagi, tesGeNose sebaiknya dilakukan 1 jam setelah berbuka puasa,"imbuhnya.
Terkait peningkatan asam lambung ini sebenarnya bisa diakali dengan berkumur, tetapi tetap lebih baik jangan lebih dari 6 jam sesudah sahur pemeriksaan GeNose-nya
dr Dian Kesumapramudya, SpA., M.Sc, PhD - Peneliti GeNose C19
Dia menjelaskan penggunas alat GeNOse pada waktu di luar bulan puasa diminta untuk tidak makan dan minum yang berbau khas. Selain itu pengguna juga diminta untuk tidak merokok sekitar 30 menit hingga 60 menit sebelum pemeriksaan. Dengan begitu meminimalisir terjadinya positif palsu hasil pembacaan GeNose C19.
Dian menambahkan terkait validasi eksternal GeNose 19. Dia mengatakan GeNose C19 tengah berproses validasi eksternal sebelum bisa masuk digunakan dalam penanganan COVID-19 nasional. Validasi eksternal merupakan uji diagnostik yang dilakukan secara independen oleh tim peneliti lain.
https://trimay98.com/movies/on-the-road/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar