Dalam berhubungan seks, beberapa wanita mungkin memiliki ketertarikan tersendiri pada tipe pria yang diimpikannya. Bahkan sebuah studi mengatakan ada tipe pria tertentu yang bisa membuat wanita mudah mengalami orgasme saat bercinta.
Dikutip dari Daily Star, studi ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Albany, Amerika Serikat, dengan cara menanyai para wanita dewasa heteroseksual tentang kehidupan seks mereka, termasuk seberapa sering mengalami orgasme saat bercinta.
Sayangnya hasil dari studi itu menunjukkan para wanita dewasa ini memiliki standar yang cukup tinggi bagi pria idamannya dalam berhubungan seks yaitu haruslah kaya, percaya diri, dan menarik.
"Intensitas orgasme saat bercinta dinilai dari seberapa tertarik wanita pada pasangan mereka dan berapa kali mereka berhubungan seks per minggu dan tingkat kepuasan seksualnya," tulis peneliti dalam studi tersebut.
Meski begitu, pada studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Psychology menemukan bahwa wanita yang lebih muda cenderung memilih pria yang penuh perhatian dan tulus daripada pria tampan tetapi cuek.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa pria yang kurang tampan, tetapi memiliki sifat yang tulus itu bisa meningkatkan daya tarik mereka kepada para wanita muda.
Jadi, setiap wanita memiliki kriteria yang berbeda-beda dalam memilih pasangan, tergantung dari usia dan pengalaman wanita tersebut.
Dokter Optimistis Terapi Transfusi Plasma Darah Bantu Obati Pasien Corona
Sampai saat ini, vaksin yang diharapkan bisa mengobati virus Corona COVID-19 masih belum diresmikan. Namun agar tetap bisa menolong para pasien, dokter optimistis melalui terapi transfusi plasma darah bisa membantu pasien Corona.
Menurut salah satu dokter di Orlando, Florida, Dr Juliana Gaitan, plasma darah pada pasien yang sudah sembuh dari infeksi Corona mengandung antibodi yang bisa melawan virus Corona COVID-19.
Gaitan mengatakan, terapi ini akan mulai ditawarkan terutama pada rumah sakit yang ada di negara tersebut. Selain itu, terapi ini juga sudah difasilitasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).
Dokter ahli paru dan spesialis perawatan kritis Dr Eduardo Oliveira, mengatakan terapi ini terbukti cukup berhasil mengobati pasien di Tiongkok. Ia optimis bahwa cara ini bisa membantu pasien virus Corona COVID-19 khususnya dengan kondisi kritis.
"Kami optimis bahwa pasien yang menerima plasma bisa semakin membaik. Namun, kami tidak bisa memastikan apakah plasma itu berfungsi seperti seharusnya atau tidak di tubuh pasien. Tetapi, kami akan terus memastikan bahwa terapi ini tidak memberikan dampak komplikasi seperti alergi," ujarnya.
Prosedur pendonoran juga membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi hampir sama dengan donor darah. Oliveira menjelaskan si calon pendonor harus dites apakah pernah terinfeksi positif COVID-19 sebelumnya lalu memeriksa darahnya.
Kriteria pendonor juga harus benar-benar sembuh dari virus Corona COVID-19 setidaknya 15 hari setelah dinyatakan sembuh dan bebas dari gejala-gejalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar