Kamis, 09 April 2020

Mengenal Pohon Menari yang Menghiasi Sampul Album Glenn Fredly

Pohon menari di Sumba Timur sempat diabadikan dalam sampul album Glenn Fredly. Seperti apa pohon menari itu?
Kepergian musisi top Indonesia untuk selamanya, Glenn Fredly, menyisakan sejumlah kenangan bagi penikmat musik tanah air. Salah satunya adalah album terakhirnya bertajuk Romansa ke Masa Depan yang rilis pada 14 November 2019.

Ada yang unik dari album ini. Tak hanya soal lagu-lagunya yang indah tetapi juga sampul album yang menggambarkan kekayaan alam Indonesia.

Foto yang digunakan dalam sampul album tersebut adalah pohon mangrove yang terletak di Pantai Walakiri, Desa Watukamba, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Jangan salah, ini bukanlah pohon mangrove biasa. Masyarakat kerap menyebutnya sebagai pohon menari.

Disebut pohon menari karena pepohonan mangrove ini memiliki ukuran yang beragam dan bentuknya yang meliuk-liuk mirip seperti orang yang sedang menari. Tak ayal, memotret pohon inipun seolah menjadi ritual wajib jika wisatawan datang ke Pantai Walakiri.

Selain mangrove, wisatawan yang datang ke pantai ini juga dapat melihat panorama laut yang teduh dan asri. Di sana juga terdapat nyiur-nyiur dan pohon cemara yang semakin menyejukkan suasana pantai.

Pantai Walakiri letaknya tak jauh dari Kota Waingapu. Jaraknya sekitar 24 kilometer yang dapat ditempuh kendaraan selama 30 menit. Pantai ini juga mudah ditemukan karena letaknya dekat dengan jalan utama yang menghubungkan Kota Waingapu dengan Kabupaten Melolo.

Waktu terbaik untuk datang ke Walakiri adalah saat matahari tenggelam dan ketika air laut sedang surut. Saat itu, wisatawan dapat melihat pemandangan mangrove yang eksotis berlatar cahaya langit yang mulai temaram.

1.295 Pekerja Sektor Pariwisata di Pangandaran Tak Digaji

Sektor ekonomi pariwisata di Kabupaten Pangandaran meradang akibat pandemi virus Corona. Ribuan pekerja sektor wisata dirumahkan karena hotel dan restoran tak beroperasi.

Kendati baru sekitar satu bulan penutupan seluruh objek wisata di Pangandaran ditutup akibat COVID-19, namun dampak yang ditimbulkan cukup signifikan. Utamanya, kepada hotel dan restoran.
Himpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kabupaten Pangandaran mencatat terdapat sekitar 145 hotel/penginapan dan 49 restoran berhenti beroperasi. Kondisi itu menyebabkan 1.295 pegawai terpaksa harus tinggal di rumah.

"Itu hasil pendataan kami, hasil pelaporan para pengelola hotel dan restoran kepada kami. Riil di lapangan boleh jadi lebih banyak, karena tak semua hotel dan restoran menjadi anggota PHRI," kata Ketua PHRI Kabupaten Pangandaran, Agus Mulyana, Rabu (8/4/2020).

Situasi ini menghadapkan para pengusaha itu pada kondisi dilematis. Opsi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) tak bisa menjadi pilihan, karena mereka tak mampu memberi pesangon.
"Alternatifnya ya dirumahkan, sebagian masih dipekerjakan untuk piket secara bergantian," kata Agus.

Dia mengaku tak punya pilihan lain, kecuali menanti kondisi pandemi COVID-19 ini segera berlalu.

Gingin Ginanjar (24) warga Desa Babakan Kecamatan Pangandaran, salah seorang pekerja hotel, mengaku sudah lebih dari sepekan tak bekerja.

"Dirumahkan ya otomatis tak dapat gaji. Tapi, daripada diam di rumah saya ikut teman menarik jaring ered di pantai timur. Lumayan untuk sekedar makan, paling tidak bisa dapat ikan untuk lauk nasi," kata Gingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar