Jumat, 17 Januari 2020

Taksi Terbang Airbus Diproduksi Tahun 2020

 Tak perlu waktu lama lagi, taksi terbang buatan Airbus akan siap mengudara buat traveler. Mobil terbang ini sukses diuji coba pada bulan Mei lalu.

Vahana, begitulah nama taksi terbang besutan Airbus ini. Inovasi terbaru dari Airbus ini sudah diuji coba terbang di Oregon, AS pada awal Mei silam. Pada tes terbang ke-66 itu, Vahana berhasil mengudara dan mendarat dengan sempurna.

Dihimpun detikcom dari beberapa sumber, Senin (1/7/2019), Vahana merupakan moda transportasi yang disematkan teknologi VTOL (Vertical Take Off and Landing) alias bisa terbang dan mendarat secara vertikal, seperti layaknya drone dan helikopter.

Taksi Terbang Airbus Diproduksi Tahun 2020Foto: Istimewa/Airbus
Dalam video uji coba yang beredar, tampak Vahana bisa take off dan maju secara vertikal. Sayap Vahana juga bisa berputar ke konfigurasi penuh saat pesawat mencapai kecepatan 90 knot. Vahana sendiri bisa berakselerasi hingga mencapai kecepatan 160 km per jam.

"Setelah pesawat mencapai kecepatan penuh, transisi sudah komplet, maka pesawat ini bisa juga bersiap untuk melambat, dan mendarat," kata Zach Lovering, CEO Vahana.

Setelah melalui 2 tahun riset dan pengembangan, Vahana diuji coba pertama kali pada bulan Februari 2018 lalu. Saat itu, Vahana bisa mengudara hingga ketinggian 5 meter. Setelahnya, Vahana sudah menjalani puluhan kali uji coba.

Vahana rencananya akan jadi taksi terbang dengan kapasitas hanya 1 orang penumpang. Dari pihak perusahaan sendiri sudah merencanakan akan memproduksi Vahana secara massal di tahun 2020.

Mari kita nantikan, apakah taksi terbang ini akan jadi kenyataan tahun depan.

Petugas Lupa Kasih Kursi Roda, Nenek Ini Tertinggal di Pesawat

Kasihan betul nenek ini. Dia tertinggal di pesawat, gara-gara petugas bandara dan awak kabin lupa membawa kursi roda untuknya.

Baru-baru ini, penumpang pesawat Air Canada ketiduran di pesawat dan terkunci di pesawat. Rupanya, hal tersebut juga dialami penumpang yang sama pada pesawat Air Canada.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Senin (1/7/2019) nenek tersebut bernama Pamela Prescod yang berusia 69 tahun dengan kondisi tunanetra. Ceritanya pada awal bulan April 2019 kemarin. Dia naik pesawat Air Canada Rouge (anak perusahaan Air Canada) dari Bandara Pearson Toronto di Kanada menuju ke Barbados, negara kepulauan di Laut Karibia.

Saat pesawat mendarat dan penumpang turun, Pamela hanya terdiam. Sebab menurut pengakuannya, tidak ada petugas yang membantunya turun dan seharusnya dia dituntun turun dengan kursi roda.

"Itu saat-saat yang menakutkan dalam hidup saya. Di dalam pesawat, tidak ada siapa-siapa, saya sendirian," katanya.

Pamela akhirnya 'diselamatkan' oleh petugas kebersihan. Dia lalu dituntun turun dari pesawat dan melanjutkan perjalanan.

Pihak Air Canada sudah memberikan pernyataan dan meminta maaf. Menurut pihak maskapai, ada miskomunikasi antara petugas bandara dan awak kabin pesawat. Sehingga, Pamela tertinggal di pesawat selama sekitar 15 menit.

Air Canada juga sudah mengembalikan uang perjalanan Pamela dan memberi voucher penerbangan sebesar USD 500 atau setara Rp 7 juta. Namun pihak keluarga dari Pamela, menyebut bahwa Pamela mengalami trauma dan maskapai Air Canada harus membenahi standar pelayanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar