Rabu, 15 Januari 2020

Indonesia Gencarkan Promosi Wisata di Pacific Exposition 2019

Untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan mancanegara, pemerintah Indonesia gencar melakukan promosi. Salah satunya melalui kegiatan Sound of The Pacific Concert yang menjadi pendukung event Pacific Exposition 2019.

Event yang akan dihelat di Skycity Auckland Convention Center, Selandia Baru, 13-14 Juli itu pun dipromosikan oleh Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya.

Menurutnya promosi dilakukan maksimal dengan melibatkan sejumlah ruang media, baik online maupun media mainstream, termasuk media sosial.

"Konser Sound of the Pacific muncul 1 halaman di Koran New Zealand Herald edisi akhir pekan dengan tiras 500.000 exp. Diharapkan iklan ini akan menarik banyak minat masyarakat di Auckland untuk berbondong ke Skycity Auckland Convention Centre 13 dan 14 Juli," tutur pria yang dikenal gemar dengan lagu country tersebut dalam keterangan tertulis, Senin (8/7/2019).

Sound of Pacific akan menghadirkan penyanyi asal negara-negara di kawasan. Seperti penyanyi Swiss asal Tonga, Mr Cowboyd/Sam Chookoon asal Samoa, Ellaphon asal New Zealand, Mi-kaisha Masella asal Australia, Erakah asal Fiji. Dari Indonesia yang akan tampil adalah Glenn Fredly. Selain itu ada juga lvan Nestorman, dan Papua Original.

"Mereka akan tampil bersama 4 penyanyi top dari Australia, New Zealand, Samoa, Tonga dan Fiji. Mereka akan tampil dalam semangat persaudaraan bangsa-bangsa di Pasifik. Sound of the Pacific Concert adalah bagian dari Pacific Exposition 2019 yang akan berlangsung dari 11-14 Juli di Auckland," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai kawasan Pacific cukup penting untuk pariwisata Indonesia.

"Sebagian dari wilayah Indonesia adalah Pasifik. Seperti Papua, Nusa Tenggara, Maluku. Kawasan Pasifik juga sedang berkembang sektor pariwisatannya. Untuk itu, kita harus mengambil peran. Kita harus menjadi yang terdepan di kawasan ini. Dengan posisinya, Indonesia bisa menjadi pintu gerbang buat kawasan Pasifik," paparnya.

Arief Yahya dijadwal tampil sebagai pembicara pada Tourism Forum. Di ajang itu, ia akan menyampaikan berbagai kesuksesan pariwisata Indonesia, termasuk capaian yang membuat pariwisata menjadi core economy bangsa.

Amsterdam, Kota Dosa yang Mau Berubah

Selama ini, Amsterdam dikenal dengan sebutan 'Sin City' alias Kota Dosa. Belakangan, julukan itu pelan-pelan mau dihilangkan.

Amsterdam merupakan destinasi favorit turis di Belanda. Suasana kota yang khas dengan ratusan kanal dan kehidupan masyarakat yang gemar naik sepeda menjadi daya tariknya. Belum lagi, terdapat berbagai atraksi wisata serta aneka penginapan dari kelas backpacker sampai yang mewah.

Merujuk pada julukan Sin City, ada dua hal mengapa Amsterdam disebut seperti itu. Pertama adalah ganja yang dilegalkan, sehingga para turis bebas menghisapnya di berbagai Coffee Shops yang tersedia. Kedua, sudah barang tentu si Red Light District tempat prostitusi yang dilegalkan.

Tak dipungkiri, Red Light District adalah daya tarik utama turis. Banyak turis penasaran, bagaimana sih wisata syahwat di sana?

Red Light District berada di dekat stasiun kereta Amsterdam Centraal. Orang Belanda menyebutnya dengan nama De Wallen, sebab lokasinya seolah tertutup.

Saat saya berkunjung ke Red Light District beberapa waktu lalu, suasananya sangat ramai. Kala itu weekdays, nggak kebayang kalau weekend.

Para pekerja seks menampilkan diri di etalase kaca berwarna merah. Jadi, 300-an rumah bordil punya tampilan depan berupa kaca yang besar seperti etalase dan terbagi berbilik-bilik. Di balik kaca itulah para pekerja seks menjajakan diri.

Mereka berpakaian seksi, menari-nari dan menggoda para pelanggan. Berharap ada yang tergoda dan masuk ke dalam bersamanya. Kemudian berakhir di kamar, yang lokasinya ada di ruang belakang dari etalase tersebut.

Bukan hanya itu, bahkan ada 'Live Porn Show' hingga Museum Prostitusi di dalam Red Light District. Alamak...

Seperti saya bilang tadi, banyak turis yang penasaran tentang Red Light District. Jika di masa lalu pengunjungnya adalah orang-orang yang mau melampiaskan syahwat, maka kini kebanyakan orang-orang yang sebatas datang karena penasaran.

Mereka yang penasaran akan berjalan melihat-lihat para pekerja seks di dalam etalase kaca. Di situlah muncul masalah.

Banyak turis yang masih saja bandel memotret para pekerja seks. Padahal, jelas-jelas itu ada aturan larangannya karena dinilai tidak menghargai privasi dan melecehkan. Asal tahu saja, kegiatan prostitusi di Red Light District sudah dilindungi pemerintah Belanda sejak tahun 1988.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar