Pabrikan pesawat Airbus telah meluncurkan desain untuk A321 XLR. Sebuah pesawat ramping yang katanya akan bisa melayani penerbangan terpanjang di dunia.
Seperti dilansir CNN, Rabu (26/6/2019), pesawat itu direncanakan peluncurannya pada 2023 nanti. Kenapa ramping, karena hanya memiliki satu lorong saja.
Kata Airbus, pesawat ini akan memiliki jangkauan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni hingga 4.700 nm (mil laut) atau setara 8.704 kilometer. Tak hanya itu, kemampuan A321 XLR diklaim lebih rendah biaya untuk menempuh jarak seperti itu.
Efeknya, akan memungkinkan operator untuk membuka layanan jarak jauh baru. Utamanya pada rute yang jarang dilalui, seperti India ke Eropa atau China ke Australia.
Model baru ini memiliki jangkauan 15% lebih jauh dari pendahulunya, A321 LR. Oleh karenanya maskapai dapat membuka penerbangan transatlantik langsung antara benua Eropa dan Amerika.
Pesawat ini juga dilengkapi dengan fitur yang juga diklaim Airbus lebih ramah lingkungan. Pabrikan mengklaim akan membakar bahan bakar 20% lebih rendah per kursi, dan akan menghasilkan 5.000 ton lebih sedikit CO2 per tahunnya.
Airbus juga mengatakan bahwa pesawat itu memiliki kebisingan 50% lebih rendah bagi penumpang dan bandara. Pesawat canggih itu memiliki panjang 44,51 meter.
A321 XLR juga bakal dapat menampung antara 180 dan 220. Jumlah terbanyak bila operator memilih untuk memiliki kursi ekonomi saja.
Perubahan lain pada pesawat termasuk posisi baru tangki yang berada di belakang tengah untuk volume bahan bakar lebih banyak. Roda pendaratan telah dimodifikasi agar berat pesawat saat take-off maksimum 101 metrik ton.
"Kami memberikan apa yang diminta pasar. A321 XLR adalah pesawat dengan lorong tunggal untuk rute terpanjang yang akan tersedia sekarang," kata Guillaume Faury, CEO Airbus, dalam sebuah pernyataan.
Menurut Airbus, jenis A320neo adalah pesawat lorong tunggal terlaris di dunia dengan lebih dari 6.500 pesanan dari lebih dari 100 pelanggan. Itu sejak diluncurkan pada 2010.
Jakarta Masuk Kota yang Bakal Kena Overtourism
Overtourism merupakan suatu fenomena di mana sudah terlalu banyak kunjungan turis di suatu destinasi. Jakarta, salah satu yang akan mengalaminya.
Overtourism sudah dinilai sebagai suatu musibah. Sebabnya, suatu destinasi yang sudah kepenuhan turis bakal terkena dampak yang buruk. Dari tingkah turis nakal yang tidak terkontrol, kemacetan hingga rusaknya destinasi tersebut akibat vandalisme dan lainnya.
Nah, fenomena overtourism sudah melanda berbagai negara. Beberapanya seperti Amsterdam dan Roma. Bahkan, Amsterdam pun sudah tidak mau lagi menerima turis alias tidak lagi mempromosikan kotanya sebagai destinasi wisata.
Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (26/6/2019) World Travel & Tourism Council, oranisasi non profit dari Inggris yang bergerak pada bidang pariwisata, melansir kesiapan 50 destinasi yang bakal terkena overtourism di tahun 2030. Salah satu destinasinya, adalah Jakarta.
Kota-kota lainnya yakni Bangkok, Seoul, Auckland, Ho Chi Minh, Cape Town, Istanbul, Mexico City dan New Delhi. Satu hal yang dititikberatkan, akankah infrastruktur pariwisata di kota-kota tersebut mampu memenuhi pertumbuhan pariwisata?
"Ada risiko ketegangan di masa depan terkait dengan volume kunjungan, infrastruktur atau aktivitas yang menguji kesiapan untuk pertumbuhan kunjungan turis," kata laporan dari World Travel & Tourism Council.
Oleh sebab itu, infrastruktur pariwisata dari aksesbilitas hingga manajemen tata kota perlu diperhatikan. Supaya turis yang datang merasa nyaman, pun warga kotanya sendiri.
Lain sisi, beberapa kota di dunia dinilai sudah siap menghadapi fenomena overtourism. Sebut saja Singapura, Beijing, Chicago, Dubai, Hong Kong, Munich, Osaka, Shanghai, Tokyo dan Washington.
World Tourism Organisation dari PBB, menyatakan bahwa tahun 2018 lalu, ada 1,4 miliar kunjungan turis internasional di seluruh dunia. Ada peningkatan 6 persen dari tahun sebelumnya, dan angkanya diperkirakan akan tumbuh 3 persen menjadi 4 persen tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar