Minggu, 22 Desember 2019

Menelusuri Mosaik Sejarah di Keraton Yogyakarta

Keraton Kesultanan Yogyakarta masih berdiri kokoh hingga saat ini. Seiring perjalanan telah menunjukkan jati dirinya dalam melawan penjajahan kolonial.

Salah satu tempat di Yogyakarta yang ramai dikunjungi terlebih pada masa liburan adalah Keraton Kesultanan Yogyakarta. Keraton yang menjadi simbol kota Yogyakarta ini masih berdiri kokoh di jantung kota dengan tradisi dan budayanya yang memberikan ruh pada kota serta masyarakatnya hingga hari ini. Pada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta sebagai Raja di Keraton Yogyakarta, beliau juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya berkesempatan mengunjungi Keraton Yogyakarta ini, pada hari Minggu tanggal 30 Juni 2019 yang lalu, untuk masuk ke Keraton Yogyakarta dikenakan tiket sebesar Rp.5.000 untuk wisatawan lokal.

Sejarah Keraton Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Mataram Islam yang telah berdiri lama sebelumnya yaitu pada sekitar abad ke-16 dan berpusat di Kota Gede. Sumber Sejarah menceritakan, dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram, Sultan Agung yang naik takhta menjadi Raja Mataram pada tahun 1613 dan berkuasa hingga tahun 1645 membawa Kerajaan Mataram pada masa kejayaannya dan menjadi salah satu Kerajaan terbesar di Tanah Jawa. Salah satu sifat dari Sultan Agung adalah rasa tidak sukanya dengan pihak penjajah kolonial VOC yang dianggap penuh kecurangan dan mau menang sendiri, hal tersebut dibuktikan ketika Sultan Agung dua kali menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dijabat oleh sang pendiri Batavia Jan Pieterszoon Coen. Pada tahun 1629, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia karena terkena penyakit kolera yang menurut beberapa sumber diakibatkan karena pencemaran Sungai Ciliwung yang dilakukan oleh tentara Mataram, Kedua serangan Mataram tersebut memang belum berhasil mengusir penjajah asing tersebut.

Namun, perjuangan Mataram tersebut menjadi inspirasi perjuangan bagi pewaris dan generasi setelahnya untuk melawan penjajahan Kolonial, sebut saja beberapa diantaranya yang kebetulan berasal dari lingkup Keraton Yogyakarta: perlawanan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) dan perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kumpeni Belanda, perjuangan Sultan Hamengku Buwono IX dalam memberikan dukungan penuh pada perjuangan Republik Indonesia untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat penuh serta segenap upayanya untuk membela Republik Indonesia yang masih muda di meja diplomasi hingga penjajah Belanda angkat kaki dari bumi Indonesia. Ketiga tokoh tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Berdasarkan apa yang tertulis dalam sumber informasi Keraton Yogyakarta (www.kratonjogja.id), sepeninggal Sultan Agung Kerajaan Mataram mengalami pasang surut dengan kisah konflik suksesi dan peralihan kekuasaannya yang dicampuri kepentingan Kumpeni Belanda hingga ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua yaitu: Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau lazim disebut Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi. Pada tanggal 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dimulailah babak awal Kesultanan Yogyakarta sejak saat itu.

Bila kita mengunjungi Keraton Yogyakarta dari arah Jalan Malioboro dan masuk dari arah Alun-alun Utara yaitu lapangan rumput luas dengan dua pohon beringinnya yang terkenal, tepat di sebelah selatan alun-alun kita akan menemui Bangsal Pagelaran yang merupakan bangunan utama Keraton. Di sebelah atas gerbang di bagian luar tampak hiasan-hiasan relief berupa lima lebah (tawon) yang melingkar di atas seekor buaya/biawak. Menurut brosur panduan Keraton Yogyakarta relief tersebut menunjukkan tahun pagelaran disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar