Menjadi garda terdepan di utara Indonesia membuat Miangas begitu seksi untuk wisata. Namun, apakah Miangas siap?
Dalam ekspedisi bersama Bank BRI, detikcom menjelajahi Miangas selama seminggu mulai dari 8-15 September 2019. Layaknya pulau-pulau terdepan lainnya, wisata ke Miangas sebenarnya terdengar sangat menggoda.
Sebagai pulau kecil di perbatasan, Miangas punya matahari sebagai salah satu primadona wisatawan asing.
"Di sini sebenarnya tempat wisata, cuma tak ada dana tidak ada," ujar Yan Piter Lupa, Kepala desa Miangas.
Melihat langsung keadaan Miangas, tim detikcom mendapati hanya ada 2 penginapan yang tersedia untuk wisatawan di pulau ini. Penginapan ini pun sebenarnya adalah rumah warga.
Setelah ada kunjungan dari Presiden Jokowi 2 tahun 2016, barulah ada peningkatan dari kunjungan pejabat daerah sebanyak 60 persen.
"Pemdes sudah memberikan sosialisasi kepada warga. Warga bisa membuka satu kamar untuk tamu di rumahnya. Ini bisa menambah pendapatan warga," jelas Kades.
Namun beberapa hal dirasa menjadi kendala, seperti anak-anak dalam keluarga. Warga takut, tamu akan terganggu dengan adanya anak kecil dalam rumah.
"Baru-baru ada kegiatan BUMN. Ada target untuk pembuatan cottage di Miangas. Bangunannya sudah ada, tapi belum ada isinya, belum diresmikan juga," ungkap Yan Piter.
Hal lain yang tak kalah penting adalah transportasi menuju Miangas. Asal tahu saja, penerbangan yang ada hanyalah seminggu sekali menggunakan Wings Air.
Kalau lewat jalan laut? Bisa lebih lama.
Hal ini dikarenakan kondisi ekstrem Miangas. Kapal yang tadinya seminggu dua kali, bisa mundur sampai dua minggu sekali. Bahkan pernah sampai sebulan tak ada kapal yang bersandar.
Kapal-kapal tersebut berangkat dari Melonguane menuju Kratung dan Miangas. Gelombang besar dan angin kencang, biasanya membuat kapal hanya bisa berlayar sampai Kratung.
"Berharap ada bantuan dari Pemda, karena kontribusi pemda agak minim. Kita ingin memajukan perbatasan," ujar Sepno Lantaa, Camat Khusus Miangas.
Kalau dilihat dari tempat wisata, yang paling menarik dari Miangas adalah Pantai dan tempat keramat yang bersejarah. Adat istiadat di Miangas pun sangat kental.
"Kita memakai ketua-ketua adat untuk menjelaskan sejarah dari tempat ini. Kami berharap ada pelatihan dasar untuk pemandu. Wacana pernah didengungkan, tapi cuma sebatas rencana," jelas Sepno.
Untuk lamanya durasi liburan biasanya satu minggu. Waktu ini disamakan dengan jadwal penerbangan yang ada.
"Untuk penerbangan diharapkan untuk menambah jadwal. Tapi nanti dibicarakan dengan pihak Wings Air," tutur Sepno.
Menelusuri Mosaik Sejarah di Keraton Yogyakarta
Keraton Kesultanan Yogyakarta masih berdiri kokoh hingga saat ini. Seiring perjalanan telah menunjukkan jati dirinya dalam melawan penjajahan kolonial.
Salah satu tempat di Yogyakarta yang ramai dikunjungi terlebih pada masa liburan adalah Keraton Kesultanan Yogyakarta. Keraton yang menjadi simbol kota Yogyakarta ini masih berdiri kokoh di jantung kota dengan tradisi dan budayanya yang memberikan ruh pada kota serta masyarakatnya hingga hari ini. Pada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta sebagai Raja di Keraton Yogyakarta, beliau juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya berkesempatan mengunjungi Keraton Yogyakarta ini, pada hari Minggu tanggal 30 Juni 2019 yang lalu, untuk masuk ke Keraton Yogyakarta dikenakan tiket sebesar Rp.5.000 untuk wisatawan lokal.
Sejarah Keraton Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Mataram Islam yang telah berdiri lama sebelumnya yaitu pada sekitar abad ke-16 dan berpusat di Kota Gede. Sumber Sejarah menceritakan, dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram, Sultan Agung yang naik takhta menjadi Raja Mataram pada tahun 1613 dan berkuasa hingga tahun 1645 membawa Kerajaan Mataram pada masa kejayaannya dan menjadi salah satu Kerajaan terbesar di Tanah Jawa. Salah satu sifat dari Sultan Agung adalah rasa tidak sukanya dengan pihak penjajah kolonial VOC yang dianggap penuh kecurangan dan mau menang sendiri, hal tersebut dibuktikan ketika Sultan Agung dua kali menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.
Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dijabat oleh sang pendiri Batavia Jan Pieterszoon Coen. Pada tahun 1629, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia karena terkena penyakit kolera yang menurut beberapa sumber diakibatkan karena pencemaran Sungai Ciliwung yang dilakukan oleh tentara Mataram, Kedua serangan Mataram tersebut memang belum berhasil mengusir penjajah asing tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar