Memasuki pedepokan kita akan disambut oleh tiga patung pemimpin agama, yang sedang khusuk bermunajat (baca: bermeditasi) dengan caranya masing-masing kepada Yang Maha Memberi hidup. Patung yang paling kiri adalah KONG ZI, tokoh sentral dalam agama Konghucu, yang tengah adalah Patung Sang BUDDHA SYAKAMUNI, dan yang paling kanan adalah patung LAO ZI, tokoh sentral dalam agama Taoisme.
Di depan ketiga patung tersaji sesajen berupa tumpukan bunga dan buah-buahan. Wangi semerbak dari kemenyan atau hio atau dupa ataulah apanya yang dibakar memenuhi seluruh sudut ruangan. Rasanya wangi yang tercium masuk menyentuh memenuhi segenap rongga dada.
Ketiga patung ini mengingatkan diriku, bahwa kita manusia, apapun rupa dan bahasnya, hanyalah jiwa-jiwa kering nan rapuh, yang sebenarnya sangat merindukan kehadiran Tuhanya. Karenanya, inti dari agama apapun, mengajarkan cara mendekatkan diri pada Tuhanya.
Apakah dengan bermunajat dalam sujud dan dzikir-dzikir yang panjang di keheningan sepertiga malam yang terakhir, ataukah bermeditasi dalam kesunyian, ataukah dengan lagu puji-pujian, pada intinya adalah untuk merasakan peristiwa intim, transedental, menyatu dengan kehadiran Tuhan pada jiwa-jiwa kita yang kering. Jiwa yang tenang, yang dekat dengan Tuhanya, bukankah itu sejatinya sumber kebahagiaan dan ketenteraman dalam hidup?
Hal lain yang menarik perhatian adalah ornamen interior atap padepokan yang indah. Rasanya tak kalah indah dengan seni fresco yang jamak ditemui di gereja-gereja katolik di Eropa. Di Inggris, apalagi di Itali. Eh, tetapi rupanya seni fresco ini juga sudah di adopsi di masjid kampung ku lho.
Aku cukup terperanjat kapan hari waktu pulang kampung, sholat di masjid dusun, di pelosok desa, kabupaten Banyuwangi sana, waktu menengadah ke atap kubah masjid. Wau, sebuah pemandangan seni yang mewah sekali untuk ukuran dusun kami.
Setidaknya mewah untuk cita rasa seni perkampungan petani tulen di dusun kami. Sebuah ornamen yang didominsi warna biru langit dengan hiasan kelap-kelip lampu hias. Indah betul jika dilihat malam hari. Kabarnya, seni fresco di masjid dusun kami itu menghapuskan puluhan juta rupiah.
Jumlah yang sangat besar di mata orang-orang dusun. Tetapi, kabarnya uang itu adalah sumbangan dari pemuda-pemuda dusun kami yang sukses jadi TKI di Korea Selatan dan Taiwan di tambah hasil penjualan kavling kuburan di depan masjid dusun.
Ohya, Padepokan ini terletak di Jalan Pantai Tikus, desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diresmikan oleh pak menteri agama bersama dengan pak menteri pariwisata pada Tahun 2015.
Nama desa dan nama padepokan ini rasanya terlalu Jawa. Rebo, bukankah itu cara orang-orang Jawa desa mengucapkan hari Rabu? Begitupun padepokan Puri Tri Agung. Bukankah itu juga terlalu Jawa juga? Padepokan kurang lebih artinya pondok, Puri artinya kurang lebih rumah, Tri artinya Tiga dan Agung artinya Besar. Yang kalau aku boleh menerjemahkan secara bebas artinya tempat yang merupakan rumah tiga orang besar. Tiga tokoh agama yang aku ceritakan di atas. Entahlah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar