Destinasi terakhir di hari pertama VitaminSea adalah Desa Sade. Desa tradisional ini mrmbuat kagum pemenang VitaminSea.
Hari pertama, pemenang VitaminSea telah berkunjung ke beberapa destinasi. Setelah Bukit Marese, pemenang pun singgah di Pantai Kuta Mandalika. Dan perjalanan hari ini berakhir di desa tradisional, Desa Sasak Sade.
Desa Sade merupakan salah satu desa tradisional tertua di Lombok. Di kawasan desa ini terdapat 150 rumah dengan 150 kepala keluarga.
Menjelang sore, pemenang VitaminSea berkunjung ke Desa Sade dan mengintip langsung kawasan perdesaan ini.
Di sini peserta VitaminSea berkeliling desa dan melihat rumah-rumah tradisi yang masih beratap alang-alang. Juga banyak penduduk yang menjual tenun dan aksesoris seperti gelang di desa ini.
Masih kentalnya tradisi dan budaya di Desa Sasak membuat kagum peserta VitaminSea.
"Terlihat warganya masih menjaga tradisi supaya tidak terpengaruh dengan budaya lain. Aku berharap hal-hal seperti ini selalu terjaga," ujar Yayang Delfitia.
Teguh pun berujar yang sama. Dia juga tertarik dengan tradisi Desa Sasak yang masih terjaga.
"Orangnya di sini ramah dan welcome pada wisatawan. Budaya dan tradisi di Desa Sasak mengagumkan. Karena mungkin di tempat lain tabu seperti nikah sama sepupu. Juga tuh yang budaya menculik calon mempelai wanita sebagai salah satu cara melamar di Desa Sade," kata Teguh.
Setelah puas berkeliling, peserta VitaminSea pun berfoto-foto. Desa Sade menjadi destinasi terakhir untuk hari pertama berpetualangnya VitaminSea di Lombok. VitaminSea adalah kolaborasi detikTravel dan tiket.com berupa kompetisi untuk membawa para d'Traveler liburan gratis.
Ternyata, Setiap Kapal Pesiar Punya Kamar Mayat
Liburan di kapal pesiar, jadi pengalaman liburan yang berbeda. Tapi ternyata, di balik kemewahannya ternyata ada kamar mayat...
Berlayar naik kapal pesia, umumnya memakan waktu sampai berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Meski terdengar aneh, namun ada saja kemungkinan seseorang mengalami kejadian tidak mengenakkan saat berlayar. Termasuk, kematian.
Tentunya, ini jadi sangat sulit apabila terjadi hal darurat karena pusat bantuan berada di daratan. Namun, ternyata, setiap kapal pesiar umumnya memang memiliki kamar mayat, untuk menyimpan jenazah yang meninggal saat berlayar.
Dilansir detikTravel dari The Telegraph, Selasa (2/4/2019) rata-rata penumpang kapal pesiar Inggris berusia 57 tahun, yang artinya 40% berumur 65 tahun ke atas. Hal ini, membuat kapal pesiar mempersiapkan apapun yang bisa terjadi, meski buruk sekali pun, termasuk kematian.
Kapal pesiar legal untuk memiliki kantung jenazah dan kamar mayat. Umumnya, tempat untuk menyimpan mayat berukuran 3-4 jenazah. Selain itu, letaknya juga harus jauh dari ruang penyimpanan makanan.
Lalu, apa yang terjadi jika seseorang meninggal saat berlayar di kapal pesiar?
Awalnya, pihak kapal harus memberi pengumuman "Operation Bright Star", hal ini artinya menandakan sinyal aturan medis. Jika pengumuman menjadi "Operation Rising Star" berarti seorang penumpang telah meninggal dunia.
Selanjutnya, jenazah akan dimasukkan ke dalam kantong mayat dan ditempatkan di kamar mayat.
Kapal pesiar umumnya akan singgah ke sejumlah pelabuhan. Ada pelabuhan yang memiliki aturan untuk melepas mayat sesegera mungkin. Caranya, dengan mengeluarkan diam-diam agar penumpang lain tidaak melihatnya. Baru, kemudian sertifikat kematian bisa dikeluarkan baru mayat diterbangkan ke kota asal.
Namun, ada juga pelabuhan yang memiliki aturan untuk menjaga jenazah sampai kembali ke tempat asalnya. Hal ini dapat meminimalisir proses administrasi, selain itu kerabat juga bisa melanjutkan liburannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar