Minggu, 15 Desember 2019

Menjelajah Little Africa di Ujung Pulau Jawa

Tidak perlu jauh-jauh traveling ke Afrika untuk mendapat suasana sabana dengan fauna liar. Datang saja ke little Africa di Banyuwangi.
Taman Nasional Baluran merupakan salah satu destinasi wisata yang menjadi primadona masyarakat Banyuwangi saat ini. Taman Nasional yang dilindungi oleh pemerintah ini memiliki luas lahan sekitar 25.000 hektare yang di dalamnya hidup berbagai macam jenis binatang dan vegetasi. Hampir separuh bentang Baluran berupa Savana.

Taman Nasional Baluran tersebut juga mempunyai beberapa spot yang dijadikan sebagai pos pengamatan atau gardu pandang. Beberapa pos pengamatan tersebut di antaranya adalah seperti spot Curah Tangis, Popongan, Sirontoh, Manting, Batangan, Bama, Balanan hingga Semiah dan Bekol yang sangat populer di kalangan penikmat wisata alam.

Berkendara ke Taman Nasional Baluran cukup menyita waktu. Namun, kamu tidak akan menyesal. Setidaknya saya sama sekali tidak menyesal saat melihat savanna ini meski belum memasuki waktu musim kering yaitu waktu terindah Taman Nasional Baluran di mana kamu akan merasa seperti di Afrika.

Hewan yang paling banyak dan mudah ditemui di tempat wisata Baluran Banyuwangi ini adalah kera berekor panjang. Kera ini sangat friendly dan mudah untuk diajak bermain, apalagi jika kamu memberinya makan.

Kalau ditempat lain kera-kera takut air, di Baluran ini kera-kera malah senang berenang di air. Jumlah populasi kera di Baluran mencapai ratusan. Terbanyak diantara hewan-hewan lain.

Selain itu, sebanyak 44 jenis tumbuhan hidup subur di Baluran, di antaranya terdapat tumbuhan khas seperti widoro bukol, mimba dan pilang.

Di bulan Juli  - Juni kamu dapat melihat secara langsung kawanan rusa. Pada bulan tersebut juga terjadi musim kawin rusa dan monyet-monyet yang memancing kepiting dengan ekornya. Jika kamu beruntung, kamu akan menyaksikan proses kawin kawanan rusa.

Serta jika kamu berkunjung pada bulan Agustus September, kamu dapat melihat kawanan merak di Taman Nasional Baluran. Pada bulan tersebut sedang terjadi musim kawin merak.

Kalau kamu penasaran mau melihat indahnya little Africa dari Jawa Timur ini, kamu tinggal beli tiket pesawatnya via tiket.com. Opsi lain, kamu juga bisa naik kereta ke Banyuwangi dan dilanjut naik kendaraan lain. Tak usah jauh-jauh ke Afrika.

Kampung Seniman Potong Rambut dari Garut

 Garut tidak sekedar tentng dodol manisnya saja. Di sana banyak destinasi menarik, salah satunya kampung para tukang cukur.

Kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu kota di Jawa Barat, tepatnya kota Garut. Kota yang tenar akan kemanisan dodolnya ini, tenyata menyimpan beragam tempat yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Kampung Cukur Pendeuy.

Terletak di kampung Pendeuy, kecamatan Banyuresmi, kabupaten Garut, Jawa Barat. Kampung ini memang terkenal sebagai kampungnya tukang cukur, sebanyak 92% warga disini berprofesi sebagai seniman potong rambut. Dari remaja hingga orang tua dikenal pandai untuk urusan memangkas rambut.

Untuk menuju kampung Pendeuy saya menuju ke ujung utara kota Garut, setelah 30 menit mengendarai motor dengan jalan yang berliku dan sedikit menanjak saya tiba di Kampung Cukur Pendeuy. Sekilas terlihat seperti kampung biasa, namun semakin ke dalam beberapa tempat pangkas rambut mulai mengisi sisi jalan.

Di salah satu sudut kampung ini berdiri sekolah cukur yang bernama Barber School Abah Atrox, sebuah tempat untuk belajar seni memotong rambut. Memasuki sebuah gang, saya tiba di sekolah cukur milik Rijal Fadhilah atau yang akrab disapa abah Atrox dan disambut oleh salah satu siswa yang bernama Eky, sepintas nampaknya dia seumuran dengan saya.

Sembari berbincang dengan Eky saya berkeliling untuk melihat siswa lainnya yang sedang belajar mencukur. Barber School Abah Atrox berdiri sejak 2015, dan hingga kini telah menghasilkan ratusan tukang cukur profesional yang tersebar di berbagai barbershop di Indonesia. Saya pun juga sempat berbincang dengan Ade, salah satu siswa baru di sekolah cukur ini. Jauh-jauh dari Lampung ia datang ke Garut untuk belajar seni memotong rambut.

Tak terasa 30 menit kami berbincang, abah pun datang menghampiri saya. Sembari menyeruput segelas kopi kami berbincang di teras rumah Abah Atrox. Diawali dengan sejarah berdirinya Barber School Abah Atrox pada tahun 2015, dan kini telah menghasilkan ratusan tukang cukur profesional yang tersebar di berbagai barbershop di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar