Memperingati Hari Pahlawan, mari sejenak mengenang Pertempuran Bojong Kokosan. Pertempuran antara tentara sekutu melawan Indonesia ini bak David vs Goliath.
Mendengar daerah Bojongkokosan maupun pertempurann Bojongkokosan, tentu kita merasa aneh. Tetapi bila mendengar pertempuran Bandung Lautan Api, tentu kita semua mengetahuinya.
Pertempuran itu merupakan peristiwa besar berupa pertempuran besar yang terjadi di kota Bandung antara tentara Indonesia dibantu rakyat melawan tentara sekutu yang diikuti pembakaran obyek-obyek vital di kota Bandung yang dilakukan oleh tentara Indonesia dan rakyat saat mundur dan harus meninggalkan kota Bandung.
Mematuhi perintah dari pemerintah pusat di Jakarta untuk menghentikan pertemuran dengan pihak sekutu. Pembakaran ini terpaksa dilakukan untuk mencegah jatuh dan dimanfaatkannya obyek-obyek penting tersebut oleh tentara sekutu.
Pada saat itu sebagai akibat dari kalahnya Jerman, Italia dan Jepang dalam Perang Dunia ke II (1939-1945) daerah-daerah yang dikuasai negara-negara tersebut harus dikembalikan kepada negara asal seperti Indonesia yang sebelum Jepang datang dikuasai Belanda.
Maka sesuai perjanjian Postdam di Berlin, Indonesia kembali menjadi wilayah Belanda. Hal inilah yang ditentang rakyat sehingga di Bandung, Surabaya, Ambarawa, Jakarta dan derah lainnya dimana pasukan Sekutu dari Inggris yang dibonceng NICA (pemerintahan Sipil Hindia Belanda walau sering dipersenjatai) menghadapi perlawanan dari tenara dan rakyat Indonesia.
Padahal pertempuran Bandung Lautan Api dimulai dari peristiwa penyergapan konvoi tentara sekutu yang hendak menambah jumlah tentara Sekutu dan amunisi mereka di kota Bandung, sehingga berpotensi semakin menekan tentara Indonesia dan rakyat di Bandung.
Untuk mencegah hal ini terjadi maka laskar pejuang bersama rakyat menyergap konvoi tentara sekutu yang sedang bergerak menuju ke arah Bandung dari Ibukota Jakarta. Penyergapan terjadi di daerah Parungkuda Sukabumi, tepatnya di belokan jalan raya utama menuju ke kota Bandung di daerah Bojongkokosan. Sehingga oleh warga sekitar dikenal dengan nama pertempuran palagan Bojong Kokosan.
Periode pertama Pertempuran ini berlangsung pada tanggall 9-12 Desember 1945 yang mengakibatkan 50 tentara Sekutu tewas, ratusan lainnya terluka dan 30 orang lainnya hilang. Sedangkan di pihak TNI dan rakyat 28 pejuang gugur.
Namun korban di pihak pejuang Indonesia dan rakyat semakin besar karena pada tanggal 10 Desember RAF (Royal Atr Force) yang merupakan angkatan udara Inggris melakukan pengemboman dari udara terhadap desa-desa yang dianggap menjadi basis pejuang Indonesia sehingga ratusan pejuang dan rakyat gugur dan terluka.
Banyaknya korban di pihak sekutu mengakibatkan perdebatan di dalam parlemen Inggris sendiri yang menentang keterlibatan Inggris dalam konflik yang terjadi antara Indonesia dengan Belanda.
Untuk mengenang kepahlawanan dan keberanian tentara Indonesia bersama rakyat Sukabumi, maka tanggal pertempuran dijadikan sebagai hari jadi Siliwangi, dan untuk pelajaran kepada generasi penerus didirikanlah monumen dan museum palagan perjuangan Bojong Kokosan di tempat terjadinya pertempuran ini.
Minggu pagi kami berangkat mengunjungi Palagan Bojong Kokosan. saat itu lalu lintas dari Jakarta menuju tempat ini cukup lancar. Dari Jakarta kami memasuki tol Jakarta-Bogor lalu kami mengarahkan kendaraan ke jalur Bogor-Sukabumi dan melewati daerah Cicurug.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar