Bunga Rafflesia mekar setahun sekali dan sedang mekar saat ini. Kamu yag mau lihat bisa datang ke Kebun Raya Bogor.
Masyarakat sering menyamakan dua bunga raksasa asli Indonesia, Amorphophallus titanum dan Rafflesia. Padahal yang disebut dengan bunga bangkai adalah Amorphophallus titanum.
Amorphophallus sendiri juga banyak jenisnya yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, Amorphophallus paleoniifolius, merupakan salah satu keluarga bunga bangkai juga, dan umbinya bisa dimakan.
Bunga Amorphophallus paleoniifolius berukuran kecil dengan tinggi sekitar 40-50 cm, dan masyarakat lebih mengenal dengan sebutan suweg.
Dua bulan ini, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat kedua jenis bunga raksasa ini sedang mekar. Pada bulan lalu satu individu Rafflesia patma Blume (Raffl) mekar. Pada tanggal 2 Oktober 2019 mekar lagi satu individu.
Bunga Rafflesia patma yang merupakan endemik jawa ini habitat aslinya bisa ditemui di sekitar Pangandaran di Jawa Barat. Dulu sekali, bunga ini dibawa oleh H Loudon ke Kebun Raya Bogor pada tahun 1800 dan pertama kali mekar pada tahun 1852.
Selanjutnya Rafflesia yang berukuran kecil ini sudah beberapa kali mekar di Kebun Raya Bogor. Ini merupakan sebuah prestasi mengingat di Kebun Raya Bogor merupakan satu-satunya bunga Rafflesia yang bisa tumbuh dan mekar diluar habitatnya atau ex-situ.
Masa mekar bunga Rafflesia adalah 2-3 hari, dan pada saat mekar akan mengeluarkan bau busuk hingga banyak dikerubuti oleh lalat. Serangga ini pula yang akan membantu penyerbukan bunga Rafflesia.
Perlu diketahui, Rafflesia merupakan parasit murni yang mengambil unsur hara di akar tanaman inangnya. Di Kebun Raya Bogor, Rafflesi patma menempel pada akar anggur hutan yang menjadi inang tetapnya.
Jadi jangan salah sebut lagi ya, Rafflesia bukan bunga bangkai.
Akhir Pekan di Solo, Yuk Main ke De Tjolomadoe
Bekas pabrik gula De Tjolomadoe bisa jadi pilihan untuk akhir pekan ini. Instagenik dengan bangunan khas jaman dulu, museum ini bikin kamu betah seharian.
Sering mendengar pepatah Ada gula Ada Semut? Ternyata Indonesia pernah menjadi menjadi surganya produksi gula di masa lalu. Dilihat dari sejarah De Tjolomadoe ini, kita dapat mengetahui bahwa gula pernah membawa kesejahteraan dan menempatkan Indonesia dalam konstelasi perdagangan dunia. Semua cerita tentang Gula dan masa jayanya di tanah air ini dirangkum dalam sejarah De Tjolomadoe.
Berlokasi di Jalan Adi Sucipto Solo, De Tjolomadoe ini berdiri megah dan cantik berwarna putih. Kalau dilihat dari miniatur yang terlihat di dalam museumnya, De Tjolomadoe ini bentuknya dahulu dan sekarang tetap sama. Hanya saja bagian dalamnya saat ini di fungsikan sebagai museum yang bercerita tentang gula.
Awal mulanya De Tjolomadoe ini dibuat oleh Mangkunegara IV yang ingin mengembangkan lahan perkebunan tebu dan membuat pabrik gula. Distribusi dan ekspor gula di tahun 1920-an sangat berjaya, bahkan Indonesia di tahun 1930 menjadi eksportir gula terbanyak nomer 2 di dunia setelah Kuba. Salah satu penyumbang gula terbesarnya adalah PG Colomadu.
Pastinya saat kalian mengunjungi De Tjolomadoe ini melihat sudut-sudut ruangan yang klasik dan instagramable membuat ngga tahan ingin berfoto. Namun saat kalian menengok sejarah Pabrik Gula De Tjolomadoe ini, rasanya seperti masuk ke dalam mesin waktu dan kembali ke tahun 1861.
Cara mempresentasikan sejarah pabrik gula Tjolomadoe ini dibuat sangat menarik. Sehingga para pengunjung pastinya akan tenggelam di dalamnya.
Tidak hanya area luarnya saja yang dipertahankankan namun area dalamnya juga. Nama stasiun dalam proses produksi pabrik gula ini tetap di pertahankan.
Ada Stasiun Gilingan yang berisi sejarah De Tjolomadoe, kemudian Stasiun Ketelan yang berfungsi sebagai area kantin, Stasiun penguapan sebagai area Arcade, Stasiun Karbonatasi sebagai area art dan craft dan kemudian ada Sakara Hall yang bisa menjadi lokasi multifungsi untuk acara ataupun konser.
Menariknya di dalam area Stasiun Gilingan terselip instalasi seni, yaitu bernama Taman Magis Wara. Arti dari Taman Magiswara ini adalah taman para raja.
Di dalamnya terdapat ukiran bunga, gunung dan kain batik berwarna warni seperti berada di taman. Kemudian saat lampunya mati seluruh ukiran dan batiknya akan menyala glow in the dark.
Taman Magiswara ini menrupakan representasi dari PG Colomadu, sebagai simbol gotong royong, kemandirian antara Mangkunegara dan warganya. Dibuat oleh tempa yaitu kolaborasi 2 seniman Putud Utama dan Rara Kuastra.
PG Colomadu ini tutup di tahun 1998 dikarenakan supply tebu berkurang dan juga dampak dari krisis moneter. Tahun 2018 maret proses revitalisasi selesai dilakukan dan De Tjolomadoe ini diresmikan. Kemudian menjadi de Tjolomadoe yang bisa kalian datangi saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar