Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menginginkan proses pembangunan dan pengembangan kilang dipercepat. Untuk itu dia meminta agar prosesnya dibuat paralel agar menjadi efisien.
Hal tersebut disampaikan Luhut kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertamina dalam rapat koordinasi yang dilakukannya. Luhut ingin proyek-proyek kilang yang menurutnya bermodalkan hingga US$ 60 miliar alias Rp 840 triliun selesai dalam dua tahun dari sekarang.
"Tadi evaluasi semua proyek-proyek (kilang) itu. Di Pertamina itu ada proyek senilai capex-nya (modal) aja US$ 60 miliar dolar, jadi sekarang kita mau bikin paralel. Sehingga kita bisa percepat waktunya, 2 tahunan semua proyek itu harus selesai," ucap Luhut di kantornya, Senin (11/11/2019).
Luhut sendiri tidak menjelaskan proyek-proyek mana yang ia maksud. Termasuk rincian pembiayaan proyek yang disebutkannya hingga Rp 840 triliun.
Yang pasti kini pihaknya dengan Kementerian ESDM dan Pertamina sedang melakukan evaluasi proyek-proyek yang sedang berjalan dan mencari apa yang bisa diefisienkan. Dia menyatakan akan ada rapat lanjutan dengan Pertamina, dia meminta Pertamina membuat time table alias penjadwalan proyek.
"Itu mulai sekarang kita evaluasi satu-satu. Tadi kita identifikasi, minggu depan Pertamina akan lapor sama saya lagi bagaimana time table-nya," ucap Luhut.
Sementara itu Menteri ESDM Arifin Tasrif sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan membantu untuk mengatasi semua hambatan dalam pengembangan kilang. Salah satunya adalah dengan memudahkan peraturan perizinan.
"Pak Menko minta untuk bisa mempercepat. Semua hal yang jadi hambatan harus kita atasi. Misalnya, terkait peraturan perizinan dan masalah dalam negeri harus kita selesaikan," ucap Arifin yang juga ditemui di kantor Luhut.
"Pak Menko harap bisa segera mungkin," lanjutnya.
PT Pertamina (Persero) sendiri tengah mengebut pembangunan 6 kilang. Dari 6 kilang, 4 di antaranya merupakan perluasan yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Balongan, Cilacap dan Dumai.
Kemudian, dua sisanya merupakan kilang baru yakni Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan GRR Bontang.
Bahlil Bakal Bereskan Tumpang Tindih Lahan Proyek Lotte Chemical
Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan pagi ini melakukan rapat membahas soal investasi. Yang dibahas adalah mempercepat investasi Lotte Chemical yang akan membangun pabrik olahan bahan kimia.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang ikut dalam rapat mengatakan diskusi dilakukan untuk mengurai permasalahan lahan yang tumpah tindih pada lokasi pembangunan pabrik kimia Lotte. Dia mengatakan soal lahan akan diselesaikan urusannya oleh pihak Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
"Klarifikasi lahan tumpang tindih, tadi udah di-take care sama Pak Kepala BKPM," ujar Budi Karya usai rapat di kantor Luhut, Jakarta, Senin (11/11/2019).
Kemenhub sendiri diundang ke dalam rapat karena memiliki beberapa Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Untuk itu dia menyatakan apabila ada pembebasan lahan akan dibebankan atas nama Kemenhub.
"Kita memberikan izin untuk reklamasi, di situ juga (lokasinya), dekat Krakatau Steel, Banten. Kalau dia reklamasi, HPL-nya itu atas nama kita," ujar Budi Karya.
Sebelumnya, Lotte Chemical akan membangun pabrik pengolahan bahan kimia. Pabrik tersebut bernilai Rp 52,5 triliun dan berlokasi di Cilegon, Banten.
Groundbreaking-nya telah dilakukan sejak 7 Desember 2018 lalu yang juga disaksikan Airlangga Hartarto yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Namun, permasalahan lahan sempat mengganjal pembangunan proyek ini.
Sebelumnya diberitakan detikFinance rapat ini akan membahas ekspor nikel, namun ternyata membahas mengenai investasi Lotte Chemical.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar