Ada banyak hal yang selalu bikin kita rindu pada Yogyakarta. Salah satunya, sudah tentu angkringannya.
Udara malam menemani langkahku menuju sudut-sudut Kota Yogyakarta. Di kejauhan terlihat warung makan sederhana dengan cahaya remang-remang.Terlihat banyak pengunjung yang duduk beralaskan tikar, sedang bercakap-cakap ditemani secangkir minuman hangat. Langkahku tertuju pada sebuah warung makan gerobak dorong dengan atap ditutupi terpal plastik.
Angkringan adalah warung makan sederhana dengan menggunakan gerobak dorong dan ditutupi terpal plastik sebagai atapnya. Keunikan dari angkringan ini terletak pada gerobak dorongnya yang serba guna.
Selain digunakan untuk memanaskan air dan memasak, gerobak angkringan ini juga berfungsi sebagai tempat menaruh makanan dan sebagai meja makan para pembeli. Angkringan ini sangat terkenal di Yogyakarta, dan menjadi salah satu icon kuliner di Yogyakarta.
Awal berdirinya angkringan bermula dari para pedagang minuman dan makanan ringan yang tidak menggunakan gerobak, melainkan pikulan dahulu yang disebut pedagang hik. Nama hik bermula pada tradisi malam Selikuran (malam ke-21) di Keraton Surakarta.
Pada malam tersebut kota berhiaskan lentera yang dibawa para pedagang makanan. Para pedagang itu biasanya berteriak 'hiik iyeeeek'. Sampai sekarang istilah tersebut masih dipakai di Solo. Namun, di Yogyakarta mereka populer dengan nama Angkringan atau warung kucing.
Nama angkringan diambil dari Bahasa Jawa, yaitu 'ngankring' yang artinya duduk dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki lainnya. Di dalam budaya Jawa, cara duduk seperti ini biasanya tidak diperbolehkan karena dianggap tidak etis apalagi bila dilakukan pada saat makan.
Seperti yang disebutkan di atas, biasanya ada juga beberapa orang yang menyebut angkringan dengan nama warung kucing.
Kata 'warung kucing' diambil dari porsi makannya yang seperti porsi makan kucing. Porsi nasinya kira-kira hanya 1/3 porsi nasi pada umumnya dengan berbagai macam lauk pauk yang terdapat di dalam nasi angkringan tersebut.
Makanan dan minuman yang dijual di angkringan ini kalau dilihat, sebenarnya bukanlah makanan cepat saji. Bukan halnya seperti masakan cepat saji pada umumnya seperti di tempat-tempat makan modern.
Meskipun konsumen dapat langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang tersaji di sana saat angkringan tersebut dibuka. Akan tetapi, ada beberapa makanan dan minuman yang tetap membutuhkan proses yang memakan waktu sebelum dijual.
Berbagai macam makanan yang ada di angkringan antara lain nasi kucing yang berisi sambal teri/oseng tempe, aneka gorengan seperti tempe, tahu, pisang, bakwan, risol, risoles, lumpia, martabak, serta tidak lupa dengan aneka sate-satean seperti usus, telur puyuh, kerang, hati, ampela, jantung, dan kulit serta beberapa baceman seperti tahu, tempe, gembus, dan kepala ayam.
Tergantung selera konsumen aneka gorenngan dan sate-satean tesebut dapat dibakar. Selain makanan yang sudah disebutkan di atas terdapat minuman yang menjadi kekhasan angkringan, yaitu Wedang Jahe.
Tentunya minuman yang lain seperti teh, jeruk, susu jahe, kopi, lemon tea, dan susu. Minuman yang ada di atas dapat disajikan panas maupun dingin tergantung keinginan konsumen.
Harga makanan dan minuman di angkringan relatif murah. Namun, harga setiap angkringan berbeda-beda, untuk gorengan dibandrol dengan harga Rp 500, nasi kucing Rp 2.000, berbagai sate dari Rp 1.500-Rp 2.000, baceman Rp 1.000, kepala ayam Rp 3.500, wedang jahe Rp 2.500, jeruk dan teh Rp2.000,00.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar