Minggu, 12 Juli 2020

Cerita Ibu Bekerja yang Dipecat Karena Anaknya Berisik Saat WFH

Seperti kebanyakan ibu, Dris Wallace asal Amerika harus bergelut dengan pekerjaan dan keluarga di masa pandemi Corona. Seorang account executive yang juga blogger tersebut pun WFH sambil mengurus dua anaknya yang masih kecil. Saat bekerja, Dris biasanya memang akan menerima banyak telepon dari bos dan klien selagi anak-anaknya bermain di sekitar. Tak disangka, hal itu membuatnya kehilangan pekerjaan.
"Minggu pertama bekerja dari rumah dimulai dengan sangat membuat stres dengan banyaknya telepon, email, dan ekspektasi tidak realistis. Tekanan dari bosku membuatku sangat stres. Anak-anak selalu menginterupsi dan bayiku mau menyusu setiap saat. Anak-anakku harus menungguku menyelesaikan sesuatu dulu untuk aku bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan. Hatiku hancur,"

"Dia menginstruksikanku bahwa saat telepon bisnis dengan klien dia tidak ingin mendengar suara anak-anak di belakang. Dia terus saja mengatakan bahwa itu tidak profesional dan aku harus mencari cara untuk membuat mereka diam," ujarnya dilansir Daily Star.

Mengetahui anak-anaknya bisa menjadi masalah, Dris sudah meminta agar bos memindahkan jadwal telepon dengan klien pada waktu-waktu anaknya tidur siang. Sayangnya hal tersebut ditolak bos yang bersikukuh untuk melakukan panggilan di jam makan siang ketika anak-anaknya sedang lapar dan tidak sabar. Dengan banyaknya rintangan, untungnya Dris bisa melakukan pekerjaan dengan baik dan tidak pernah menerima keluhan dari klien. Tapi sayangnya bos Dris merasa sebaliknya.

Dua bulan setelah menerapkan WFH, Dris ditelepon oleh pihak HRD dan diinformasikan bahwa ia harus berpisah dengan perusahaan. Perusahaan mengaku jika mereka kekurangan pendapatan karena Corona namun Dris berpikir ada alasan lain. Karena itu, ia mengaku merasa dikhianati setelah dua bulan bekerja tanpa lelah sambil mengurus anak di rumah.

Dris pun menceritakan kisahnya ini di Instagram dan jadi viral. Dalam sebuah unggahan, Dris bahkan berfoto dengan anaknya dan salah satu anak membawa tulisan 'Ibuku dipecat karena bosnya tidak suka mendengar suaraku di belakang'. Postingan itu sudah disukai lebih dari 18 ribu kali.

"Aku putus asa, aku sudah menumpahkan waktu, air mata, keringat, menunda memberi anakku makanan ringan ketika dia menginginkannya ketika bosku ingin aku langsung melakukan sesuatu. Dan apa yang aku dapat sebagai balasannya? Dipecat," tulis Dris di Instagram.

Gara-gara Pandemi Corona, Kasus Sindrom Patah Hati Meningkat

- Pandemi virus Corona COVID-19 disebut berkaitan dengan laporan peningkatan kasus sindrom patah hati. Menurut studi kecil yang dilakukan oleh para spesialis jantung di Ohio, Amerika Serikat, ini karena pandemi membuat orang-orang jadi lebih stres.
Sindrom patah hati sendiri adalah kondisi saat otot-otot jantung mengalami penurunan kemampuan memompa darah, disebut-sebut akibat respons stres emosi atau fisik yang ekstrem. Gejalanya mirip serangan jantung.

Kardiolog dr Ankur Kalra dari Cleveland Clinic mengatakan selama pandemi terjadi peningkatan kasus sindrom patah hati sampai lima kali lipat. Hal ini diketahui setelah ia dan timnya menganalisa data dari 258 pasien jantung selama 1 Maret sampai 30 April.

Hasilnya ditemukan bahwa sekitar 7,8 persen pasien mengalami sindrom patah hati. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka dari periode sebelum pandemi yaitu hanya sekitar 1,5 sampai 1,8 persen dari pasien jantung.

"Orang-orang saat ini tidak hanya khawatir ia atau keluarganya jatuh sakit, mereka juga harus berhadapan dengan masalah ekonomi, emosi, sosial, dan potensi kesepian serta isolasi," kata dr Kalra seperti dikutip dari Live Science, Minggu (12/7/2020).

Kalra dan timnya tidak menemukan perbedaan tingkat kematian pasien dalam studi. Sebagian besar yang mengalami kondisi sindrom patah hati ini bisa pulih, namun peneliti menekankan tetap ada kemungkinan seseorang bisa mengalami komplikasi yang fatal.

Studi ini telah dipublikasi di jurnal JAMA Network Open pada 9 Juli 2020.
https://cinemamovie28.com/star/kathleen-pollard/feed/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar