Senin, 13 Juli 2020

Pengisi Suara Doraemon Meninggal, Ini Faktor Risiko Stroke dan Serangan Jantung

 Dunia hiburan Tanah Air kembali berduka. Pengisi suara Doraemon, Nurhasanah, meninggal dunia. Kabar ini disampaikan oleh Agus Nurhasan yang merupakan mantan dubber Suneo.
"Innalillaahi wainnailaihi roji'uun. Setelah kepergian Is Andespa (dubber Giant pertama), Hamdani Hasni (dubber Suneo pertama), Prabawati Sukarta (dubber Shizuka pertama) kini baru saja menyusul Nurhasanah (dubber Doraemon kedua)" ujar Agus dalam postingan di akun Facebook miliknya, Minggu (12/7/2020).

Menurut Bima Sakti selaku dubber karakter Giant, Nurhasanah meninggal karena sakit stroke dan jantung yang diidapnya.

"Iya sakit stroke semenjak Desember 2017, karena komplikasi jantung," sahut Bima, Minggu (12/7/2020).

Penyakit stroke dan jantung memiliki faktor risiko yang mirip, yakni sama-sama berhubungan dengan sistem pembuluh darah.

"Terutama stroke iskemik (penyumbatan di pembuluh darah otak), kejadiannya hampir sama dengan serangan jantung (penyumbatan di daerah pembuluh koroner atau pembuluh darah yang memperdarahi jantung)," kata dokter jantung dari RS Mayapada, dr Ayuthia Putri Sedyawan, BMedSc, SpJP, FIHA, beberapa waktu lalu.

"Keduanya memiliki faktor risiko yang juga mirip. Misalnya darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan lain-lain," lanjutnya.

Karena adanya beberapa kemiripan tersebut, maka maka sangat mungkin mengalami kedua jenis penyakit sekaligus. Artinya ketika seseorang punya riwayat penyakit jantung, maka orang tersebut juga berisiko mengalami stroke. Demikian juga jika pernah stroke, maka ada risiko mengalami serangan jantung.

6 Imbauan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Soal Potensi Corona Airborne

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui munculnya bukti-bukti yang melihat virus Corona COVID-19 bisa menular lewat udara alias airborne. Selama ini virus dianggap bisa menginfeksi lewat paparan langsung droplet (percikan liur) dari orang sakit atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah.
Dalam dokumen yang diunggah pada 9 Juli 2020, WHO memperbarui pedoman mode transmisi COVID-19. Disebutkan bahwa beberapa studi melihat bahwa ada kemungkinan droplet berukuran ekstra kecil (mikrodroplet) yang dihasilkan saat batuk atau bersin dapat membuat virus bertahan lama di udara.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menekankan penularan secara airborne ini dapat terjadi terutama di ruangan tertutup. PDPI mengimbau agar masyarakat tidak panik dan mengikuti protokol kesehatan tambahan.

Berikut imbauan PDPI dalam rilis yang diterima detikcom dan ditulis Minggu (12/7/2020):

1. Masyarakat tetap waspada dan tidak panik.

2. Hindari keramaian baik itu tempat tertutup maupun tempat terbuka.

3. Gunakan masker di mana saja dan kapan saja bahkan dalam ruangan.

4. Ciptakan ruangan dengan ventilasi yang baik seperti, membuka jendela sesering mungkin).

5. Tetap jaga kebersihan tangan serta hindari menyentuh bagian wajah sebelum mencuci tangan.

6. Selalu terapkan jaga jarak pada aktivitas sehari-hari.
https://kamumovie28.com/cast/mirei-kiritani/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar