Rabu, 08 Juli 2020

Hacker Korut Curi Data Kartu Kredit Lewat Toko Online

 Sindikat hacker yang disebut terkait dengan Lazarus Group asal Korea Utara menjebol sejumlah toko online dan mencuri data kartu kredit dari pembeli di toko tersebut.
Dilaporkan oleh SanSec, sebuah perusahaan keamanan siber asal Belanda, serangan tersebut menggunakan teknik skimming digital yang terus berkembang sejak 2015. Teknik semacam ini sebelumnya sering digunakan oleh hacker dari Rusia dan Indonesia untuk mencuri data kartu kredit dari toko online.

Teknik yang dimaksud adalah dengan menyusup ke server backend milik toko onlinenya. Caranya bermacam, dengan menggunakan email spearphishing lewat karyawan toko, dan lain sebagainya, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (7/7/2020).

Setelah berhasil menyusup, mereka akan memasukkan skrip malware ke laman checkout, di mana konsumen biasanya memasukkan data kartu kreditnya. Setelah transaksi berhasil diselesaikan, data kartu kredit itu akan dikirimkan ke server milik si hacker dan kemudian dijual di dark web.

Sindikat hacker ini mengembangkan jaringan global untuk memonetasi aksinya ini. Salah satunya adalah membajak dan mengalihfungsikan situs resmi untuk menjadi penyamaran aksi kriminal mereka, dan menjajakan hasil curiannya.

Situs yang mereka manfaatkan ini antara lain adalah situs agensi model dari Milan, Italia, toko musik klasik di Tehran, Iran, dan sebuah toko buku keluarga dari New Jersey, Amerika Serikat. Menurut para peneliti di Sansec, mereka menemukan kaitan antara aktivitas pencurian data kartu kredit ini dengan aksi peretasan sindikat hacker asal Korea Utara.

Bukti yang ada menunjukkan adanya kaitan dengan Hidden Cobra alias Lazarus Group, sindikat hacker yang ada di balik peretasan server Sony Pictures pada 2014, penipuan terhadap bank di Bangladesh pada 2016, dan dipercaya bertanggung jawab terhadap aksi ransomware WannaCry.

Teori Konspirasi Soal COVID-19 yang Seret Nama Bill Gates

 Konspirasi COVID-19 membawa nama Bill Gates, Founder of Microsoft yang terkenal sebagai seorang filantropi. Apa yang membuat namanya ikut terseret dalam derasnya informasi terkait coronavirus?
Berikut ini dirangkum detikINET beberapa hal yang menjadikan Bill Gates sasaran para penganut teori konspirasi COVID-19:

1) Pendanaan WHO terbesar
Sukses dengan bergemilang harta, Bill Gates membangun Bill and Melinda Gates Foundation dan menaruh fokus terhadap kesehatan di dunia. Ini yang membuat ia dikritik habis-habisan karena ia bukanlah orang yang memiliki latar belakang di urusan kesehatan terutama vaksin.

Yang menjadi sorotan lainnya, yayasan Gates merupakan pendana terbesar di WHO setelah Amerika mundur. Teori liar menuduh Gates dan WHO adalah dalang di balik pandemi virus corona. Meski begitu, tidak bisa membuktikannya.

2) ID2020 yang Beraliansi dengan Microsoft dan Gavi
Konspirasi lain adalah kabar akan adanya sertifikasi digital yang membuat orang disisipi implan microchip saat vaksinasi beredar. ID2020 adalah program yang dicurigai oleh orang-orang yang percaya Gates penyebab pandemi COVID-19.

Semua bermula ketika Bill Gates dengan semangat menjawab pertanyaan di forum Reddit pada bulan Maret silam.

"Nantinya, kami akan memiliki sejumlah sertifikat digital untuk menunjukkan siapa yang telah pulih atau diuji baru-baru ini atau kapan ketika kami punya vaksin untuk para penerimanya," kata Bill Gates.

Mengutip Biometric Update, ID2020 Alliance merupakan program identitas digital baru bekerja sama dengan Pemerintah Bangladesh, aliansi vaksin Gavi, dan mitra lainnya dari pemerintahan, akademisi, dan yayasan kemanusiaan. Program ini ditujukan untuk memanfaatkan imunisasi sebagai kesempatan untuk membangun identitas digital.
https://indomovie28.net/astro-boy-tetsuwan-atom-episode-26/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar