Kasus Corona di Indonesia per Kamis (7/1/2021) mencatat rekor, nyaris 10 ribu kasus COVID-19. Tertinggi sejak pandemi Corona merebak, Indonesia mencatatkan penambahan tertinggi sebanyak 9.321 kasus.
Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, lonjakan kasus COVID-19 terjadi imbas libur panjang. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga diterapkan Indonesia mencegah dampak kasus Corona yang terus meningka pada fasilitas rumah sakit dan tenaga medis.
"Berat bagi saya untuk menyampaikan data ini, penambahan kasus positif harian per hari ini adalah yang tertinggi sejak awal pandemi, mencapai 9 ribu, bahkan angka ini meningkat hampir 500 hanya dalam waktu satu hari ini," kata Wiku di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (7/1/2021).
Berdasarkan data Worldometers, per Kamis (9/1/2021), Indonesia juga mencatat penambahan tertinggi kasus Corona baru, kasus kematian baru, hingga kasus aktif COVID-19. Berikut data detailnya.
Brunei Darussalam
Kasus baru: 173 kasus
Kasus aktif: 1 kasus
Kematian: -
Indonesia
Kasus baru: 9.321 kasus
Kasus aktif: 114.766 kasus
Kematian: 224 kasus
Kamboja
Kasus baru: 2 kasus
Kasus aktif: 23 kasus
Kematian: -
Laos
Kasus baru: -
Kasus aktif: 1 kasus
Kematian: -
Malaysia
Kasus baru: 3.027 kasus
Kasus aktif: 25.221 kasus
Kematian: 8 kasus
Myanmar
Kasus baru: 594 kasus
Kasus aktif: 13.925 kasus
Kematian: 14 kasus
Filipina
Kasus baru: 1.353 kasus
Kasus aktif: 23.675 kasus
Kematian: 9 kasus
Singapura
Kasus baru: 33 kasus
Kasus aktif: 222 kasus
Kematian: -
Thailand
Kasus baru: 9.636 kasus
Kasus aktif: 5.048 kasus
Kematian: 1 kasus
Vietnam
Kasus baru: 4 kasus
Kasus aktif: 121 kasus
Kematian: -
Timor Leste
Kasus baru: -
Kasus aktif: 9 kasus
Kematian: -
https://trimay98.com/movies/friend-request/
Kata BPOM Soal Beda Hasil Uji Efektivitas Vaksin Sinovac Turki-Brasil
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac mendapat perhatian karena jadi vaksin Corona pertama yang rencananya digunakan di Indonesia. Vaksin akan mulai disuntikkan ketika mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Kepala BPOM, Penny K. Lukito, menjelaskan EUA bisa diberikan setelah ada data uji klinis tingkat tiga yang menilai efikasi vaksin. Turki dan Brasil diketahui sudah melaporkan hasil uji klinis tersebut dengan data efikasi sekitar 78-91 persen.
Turki menyebut efikasi vaksin COVID-19 sinovac mencapai 91 persen, sementara Brasil menyebut efikasi vaksin COVID-19 Sinovac mencapai 78 persen.
Menurut Penny, perbedaan hasil uji nilai efikasi tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor yang unik di tiap negara. Oleh karenanya hasil pengujian tidak bisa dibandingkan secara langsung.
"Perbedaan efikasi antara uji klinik vaksin yang berbeda-beda di setiap negara tidak bisa dibandingkan. Artinya karena dipengaruhi faktor perbedaan jumlah subjek, pemilihan populasi subjek, karakteristik subjek, dan kondisi lingkungan masing-masing," papar Penny dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual pada Jumat (8/1/2021).
"Namun yang terpenting, kalaupun ada perbedaan nilai efikasi, regulasi persyaratan dari WHO adalah lebih besar dari 50 persen efikasi telah terpenuhi," lanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar