Otoritas kesehatan sedang menyelidiki kasus seorang dokter di Florida Selatan, Amerika Serikat, yang meninggal karena kondisi langka dua minggu setelah menerima dosis pertama vaksin virus Corona Pfizer.
Dikutip dari NBC, dr Gregory Michael, ahli kandungan di rumah sakit Mt. Sinai Medical Center selama lebih dari satu dekade, meninggal pada tanggal 3 Januari. Menurut istrinya Heidi Neckelmann, dia telah divaksinasi pada 18 Desember.
Meskipun saat ini tidak ada bukti medis atau ilmiah yang menunjukkan bahwa kematian Dr. Michael dipicu oleh vaksin, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) sedang melakukan penyelidikan rutin atas insiden tersebut karena jangka waktu yang singkat antara kedua peristiwa tersebut.
"CDC, FDA, dan badan federal lainnya meninjau data pemantauan keamanan vaksin COVID-19 secara teratur dan menyajikan informasi ini kepada kelompok kerja ahli keamanan vaksin," kata organisasi itu dalam sebuah pernyataan.
"CDC akan mengevaluasi situasi saat lebih banyak informasi tersedia dan memberikan pembaruan tepat waktu tentang apa yang diketahui dan tindakan yang diperlukan."
Neckelmann mengatakan bahwa dr Michael mulai mengalami gejala aneh beberapa hari setelah menerima dosis vaksin, termasuk bercak kecil di tangan dan kakinya.
Dia akhirnya dirawat di ICU dengan diagnosis Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP), suatu kondisi langka di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang fragmen sel yang ditemukan dalam darah yang dikenal sebagai trombosit. Pada orang dewasa, ini bisa menjadi kronis.
"Dua hari sebelum operasi terakhir, dia mengalami stroke hemoragik yang disebabkan oleh kurangnya trombosit yang merenggut nyawanya dalam hitungan menit," tulis Neckelmann dalam sebuah posting Facebook.
Pfizer mengatakan bahwa perusahaannya mengetahui penyelidikan CDC atas kasus tersebut, mengeluarkan pernyataan yang sebagian mengatakan bahwa para pejabat 'secara aktif menyelidiki, tetapi kami tidak yakin saat ini bahwa saya ada hubungan langsung dengan vaksin tersebut'.
"Belum ada sinyal keamanan terkait yang diidentifikasi dalam uji klinis kami, pengalaman pasca-pemasaran sejauh ini atau dengan platform vaksin mRNA. Sampai saat ini, jutaan orang telah divaksinasi dan kami terus memantau semua kejadian buruk pada individu yang menerima vaksin kami," tulis keterangan Pfizer.
https://kamumovie28.com/movies/young-mother/
Dicekal Permanen Twitter, Ini Tanggapan Donald Trump
Akun yang biasa diandalkan presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk bersuara, kini telah dicekal Twitter secara permanen. Sang presiden pun mengeluarkan tanggapannya.
Seperti diberitakan, Twitter memutuskan menutup akun Trump karena dicemaskan akan memicu kekerasan lebih lanjut. "Setelah review mendalam tweet terkini dari @realDonaldTrump dan konteksnya, terutama bagaimana penerimaan dan interpretasinya di Twitter, kami secara permanen menangguhkan akun itu terkait risiko bisa jadi pemicu kekerasan lebih lanjut," sebut Twitter.
Dalam tanggapannya, Trump mengaku sudah memprediksi kejadian ini. "Saya sudah memprediksi hal ini akan terjadi," demikian pernyataan Donald Trump yang dikutip detikINET dari ABC News.
Akan tetapi, Trump tidak menyerah. "Kami bernegosiasi dengan beberapa situs lain dan akan mengumumkan sesuatu yang besar segera, kami juga melihat kemungkinan membangun sendiri platform kami dalam waktu dekat. Kami tidak akan dibungkam," tambah dia.
"Twitter bukan tentang free speech. Mereka mempromosikan platform radikal kiri di mana beberapa orang paling jahat di dunia diizinkan untuk berbicara dengan bebas," demikian kritikan Donald Trump pada Twitter.
Belum jelas aplikasi apa yang akan digunakan selanjutnya oleh sang presiden. Selama ini, Twitter-nya dengan sekitar 88 juta follower merupakan aplikasi favorit bagi Donald Trump.
Trump juga telah diblokir dari Facebook tanpa batas waktu. Demikian pula aplikasi Parler yang sering digunakan oleh pendukung Trump telah dilarang oleh Google.
"Kami percaya risiko mengizinkan Donald Trump melanjutkan pemakaian layanan kami dalam periode ini terlalu besar. Maka, kami memperpanjang blokir yang sudah kami lakukan di Facebook dan Instagram-nya tanpa batas dan untuk setidaknya dua minggu ke depan sampai transisi damai selesai," demikian keputusan yang diambil oleh pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar