Rabu, 13 Januari 2021

Qualcomm Kenalkan Sensor Sidik Jari Ultrasonik Baru yang Lebih Ngebut

 Qualcomm mengenalkan sensor sidik jari dalam layar ultrasonik terbarunya di ajang CES 2021. Sensor bernama 3D Sonic Sensor Gen 2 ini membawa banyak peningkatan dibanding pendahulunya, mulai dari area sensor yang lebih besar dan performa yang lebih kencang.

Dikutip dari The Verge, Selasa (12/1/2021) sensor generasi terbaru ini memiliki area sebesar 8mm x 8mm, 77% lebih besar dibanding area permukaan generasi pertama yang sebesar 4mm x 9mm.


Area permukaan yang lebih luas berarti pengguna akan lebih mudah menempatkan jarinya di sensor secara akurat dan memungkinkan sensor untuk mengumpulkan lebih banyak data di setiap pemindaian.


Dengan menggabungkan sensor besar dan pemrosesan yang lebih cepat, Qualcomm menjanjikan sensor sidik jari 3D Sonic Sensor Gen 2 bisa membuka kunci ponsel 50% lebih cepat.


Sensor sidik jari generasi pertama yang diluncurkan Qualcomm adalah 3D Sonic Sensor, yang diluncurkan bersama Snapdragon 855 dan digunakan oleh lini Samsung Galaxy S10. Saat itu, hampir semua sensor sidik jari dalam layar menggunakan sensor optikal yang disebut lebih lambat dan kurang akurat dibandingkan sensor ultrasonik.


Sensor terbaru ini sebenarnya adalah sensor sidik jari bawah layar ketiga yang dikenalkan oleh Qualcomm. Setelah meluncurkan 3D Sonic Sensor pada tahun 2018, mereka mengenalkan 3D Sonic Max pada tahun 2019 tapi tidak pernah diluncurkan secara komersial.


Qualcomm mengatakan ponsel pertama yang akan menggunakan 3D Sonic Sensor Gen 2 akan dirilis pada awal 2021. Perusahaan asal Amerika Serikat ini tidak mengungkap daftar mitra vendor yang akan menggunakan sensor terbarunya, tapi sepertinya teknologi ini akan digunakan oleh lini Samsung Galaxy S21.


Samsung merupakan salah satu mitra terbesar sensor sidik jari Qualcomm, setelah sebelumnya menggunakan sensor buatan mereka di Galaxy S10, Note 10, S20 dan Galaxy Note 20.

https://nonton08.com/movies/the-proposal/


Data Black Box Pesawat Sudah Bisa Disimpan di Cloud


Kenapa data black box tidak disimpan di cloud? Pertanyaan ini kerap muncul setiap kali ramai pemberitaan evakuasi kecelakaan pesawat seperti kejadian Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di Kepulauan Seribu. Perusahaan ini coba mewujudkannya.

Ada banyak tantangan yang menyebabkan sistem streaming data black box secara real time tak diterapkan di semua pesawat. Sementara itu, sejumlah perusahaan saat ini berupaya menawarkan teknologi tersebut.


FLYHT Aerospace Solutions

FLYHT Aerospace Solutions di Kanada menyediakan layanan streaming data black box sesuai permintaan. Disebutkan FLYHT, perusahaannya sudah punya lebih dari 50 pelanggan, dan sistemnya terpasang di sekitar 400 pesawat. Dikutip dari Cbc.ca, Selasa (12/1/2021) First Air Canada adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang secara terbuka mengumumkan bahwa mereka menggunakan sistem milik FLYHT.


Sistem ini tidak secara terus menerus mengirim data, namun akan aktif jika terjadi kejadian abnormal. Saat terjadi insiden, sistem akan dengan cepat mengirimkan data ke server maskapai untuk analisis dan menerapkan tindakan korektif.


"Jika ada yang salah, kami dapat memberikan informasi lebih cepat tentang apa yang terjadi. Kami bisa mulai mengumpulkan informasi dan bersama-sama menguak teka-teki (penyebab kecelakaan) lebih cepat, jadi pihak penerbangan bisa mengabaikan berbagai konspirasi tentang insiden yang bertebaran di luar sana," kata Graham Ingham yang bekerja di FLYHT.

https://nonton08.com/movies/kembar-5/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar