Google memberikan sejumlah fitur baru untuk Chrome OS, yang bertepatan dengan 10 tahun kelahiran Chromebook. Apa saja fitur barunya?
Salah satu fitur tersebut adalah Phone Hub, yang bisa menghubungkan ponsel Android ke Chromebook. Lewat fitur ini, pengguna Chrome OS bisa membalas SMS, mengecek sisa baterai ponsel, menyalakan hotspot WiFi di ponsel, dan mencari lokasi ponselnya.
Phone Hub hadir dalam bentuk widget di taskbar yang juga menunjukkan sejumlah tab di Chrome yang sedang dibuka di ponsel, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (10/3/2021).
Bagi pengguna Chrome OS dan ponsel Android, tampaknya ini adalah hal yang berguna, karena dalam fitur ini juga tersimpan Wi-Fi Sync untuk mensinkronisasi jaringan WiFi yang pernah dipakai di ponsel dan perangkat Chrome OS lainnya.
Lalu ada juga fitur Nearby Share, yang berfungsi untuk mengirimkan file antar perangkat, yaitu antara perangkat Android dan Chrome OS, ataupun ke perangkat Android lainnya.
Fitur Screen Capture kini juga dibenamkan ke Quick Setting, di mana pengguna bisa merekam aktivitas yang ada di layar, atau sekadar mengambil tangkapan layar (screenshot), dan hasilnya bisa diakses di 'Tote' yang ada dalam Chrome OS Shelf.
Pengguna juga bisa meng-copy sampai dengan lima teks di Clipboard sebelum mem-paste di tempat lain tanpa perlu berpindah jendela. Lalu ada Quick Answers yang menampilkan informasi seperti definisi, terjemahan, atau konversi unit saat pengguna melakukan klik kanan di sebuah kata.
Kehadiran fitur-fitur baru ini membuat Chrome OS semakin mendekati Windows dan macOS, karena fitur-fitur tersebut sebelumnya sudah ada di dua sistem operasi itu.
https://nonton08.com/movies/ave-maryam/
Teknologi Deepfake Seru Sih, Tapi Bisa Jadi Ancaman Hoax
Belakangan ini ramai teknologi deepfake membuat sebuah foto seolah hidup kembali. Tapi, bila dijadikan sebuah video, teknologi bisa mengundang persoalan yang berujung hoax.
"Ancaman nyata dari dunia siber ke depan semakin beraneka ragam, misalnya yang sudah sering dibahas dan menjadi ancaman adalah hoax. Namun kini, ancaman hoax ditambah dengan model deepfake yang sungguh berbahaya," ujar pakar keamanan siber Pratama Persadha.
Ia mencontohkan, seperti aplikasi yang sedang viral, yaitu MyHeritage, yang kebanyakan digunakan oleh masyarakat untuk nostalgia dan hiburan semata.
"Yang menjadi pertanyaan ialah jika pemakaian aplikasi tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi, jelas masih aman. Namun kalau ada niatan untuk membuat hoax menggunakan deepfake, itu yang berbahaya," tuturnya.
Pratama yang juga Chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) mengungkapkan, karena sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa mendeteksi video yang dibuat oleh deepfake ini asli atau palsu.
"Deepfake merupakan salah satu hasil dari teknologi AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan buatan-red). Dengan deep learning, AI mampu menghasilkan pembelajaran yang berujung pada produk video maupun suara palsu," jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar