Menurut peneliti dari Balai Arkeologi Papua, pengguna koteka atau pakaian adat Papua untuk pria mulai berkurang. Kamu tahu nggak koteka terbuat dari apa?
Bagi traveler yang belum tahu, koteka merupakan pakaian tradisional khas Papua yang berfungsi untuk membungkus alat kelamin pria. Bagi Suku Dani, Koteka juga kerap disebut sebagai Holim.
Menurut peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada detikcom, Rabu (31/7/2019), koteka mulai ditinggalkan karena perubahan zaman.
"Sekarang, yang memakai koteka hanyalah generasi-generasi tua dan di wilayah yang jauh dari perkotaan," ujarnya.
Traveler mungkin sudah ada yang pernah melihat koteka seperti apa, baik melihat secara langsung atau lewat internet. Hanya saja, mungkin tak sedikit yang belum tahu perihal asal muasal koteka.
Faktanya, koteka terbuat dar buah labu yang memanjang. Bentuknya memang sedikit berbeda di Papua, apabila dibandingkan dengan buah labu yang identik dengan perayaan Halloween di Amerika Serikat.
Kebetulan, detikcom pun pernah bertandang ke Papua dan melihat langsung pohon labu yang menjadi asal muasal koteka beberapa waktu lalu.
"Namanya pohon koteka atau pohon Bobe. Itu buahnya yang dipakai untuk membuat koteka, seperti labu itu," cerita pemandu rombongan kami yang bernama Herriman Sihotang.
Di Papua, pohon koteka yang menghasilkan labu (Lagenaria siceraria) tersebut memang dipakai oleh masyarakat sekitar untuk dibuat koteka. Secara fisik buah labu tersebut berwarna kehijauan dan tidak berbentuk bundar, melainkan lonjong dan berlekuk.
Cara membuat koteka pun ternyata cukup mudah. Pertama, buah labu dipotong ujungnya sesuia 'ukuran penggunanya kemudian dipanaskan dengan cara ditaruh di atas bara api.
Proses ini penting dilakukan agar lebih mudah mengeluarkan isi buah nantinya. Setelah itu, buah dikeluarkan dan dijemur sampai benar-benar kering selama sehari hingga warnanya berubah cokelat keemasan.
Agar lebih indah, buah labu yang sudah kering itu pun dilukis dengan berbagai motif khas Papua agar tampak lebih indah. Selain dilukis, tak jarang koteka ditempeli dengan bulu burung cendrawasih di ujungnya. Malah tak jarang juga ditempeli dengan ornamen lain, di mana membuat koteka sebagai simbol prestige dan status pemakainya.
Selain menjadi alat penutup kelamin dan simbol kebanggaan, koteka juga menjadi salah satu suvenir yang dapat dibeli jika berkunjung ke Papua. Harganya bervariasi dari ukuran serta ornamen yang menghiasinya.
Jokowi: Labuan Bajo Premium, Danau Toba Super
Belum lama, Presiden Jokowi mendatangi Labuan Bajo dan lanjut ke Danau Toba. Tampaknya, Jokowi serius soal pariwisata.
Rabu (11/7) kemarin, Presiden Jokowi bersama jajarannya berkunjung ke Labuan Bajo, NTT. Sekitar 3 hari, Jokowi mendatangi beberapa destinasi di sana seperti Puncak Waringin hingga Pulau Rinca di Taman Nasional Komodo.
Labuan Bajo sendiri merupakan salah satu 10 Destinasi Prioritas atau juga disebut 10 Bali Baru. Oleh sebab itu, Jokowi menekankan pembangunan pariwisata di sana dan berkelas premium. Artinya, kualitas turisnya yang ditekankan.
"Segmentasi yang premium, oleh sebab itu penataan kawasan di Labuan Bajo penting sekali," jelas Jokowi.
"Yang ingin kita percepat pertama bandara, terminal akan kita besarkan, runway diperpanjang, maksimal tahun depan rampung semua. Kemudian pengelolaan akan dilelang, terutama kita ingin agar yang mengelola airport ini yang memiliki jaringan pariwisata internasional, sehingga yang datang ke sini turis-turis yang diharapkan meningkatkan devisa," paparnya.
"Kita akan rapikan sebagai pusat craft di Labuan Bajo. Ini total memang penataannya. Kemudian pelabuhan untuk kontainer akan dipindah ke tempat lain, di sini hanya untuk penumpang, pinisi. Yang dipindah kargonya aja," lanjut Jokowi menjelaskan.
Soal pelabuhan di sana, Jokowi ingin mengubahnya menjadi pelabuhan khusus yang melayani kapal penumpang. Bukan lagi kapal barang.
"Pelabuhan untuk kontainer akan dipindah ke tempat lain, di sini hanya untuk penumpang, pinisi. Yang dipindah kargonya aja," kata Jokowi.
Namun, masih ada satu masalah mengganjal di Labuan Bajo. Khususnya soal Pulau Komodo, terkait wacana penutupannya yang masih jadi pro kontra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar