Menurut Dimas, jika siang hari, Gunung Slamet akan terlihat indah dengan berpagar bentang alam yang menawan. Walau saya tak bisa menyaksikannya, bagi saya tak masalah. Saya masih tetap semangat untuk terus menuju puncak Bukit Agaran.
Semenit dua menit berlalu jalanan pun berganti dengan kontur pegunungan. Tikungan tajam dan sesekali kami harus mengalah dengan kendaraan lain akibat jalan yang cukup sempit. Belum lagi, penerangan yang cukup minim membuat kami harus hati-hati.
Sekira dua puluh lima menit dari penginapan, kami telah sampai di pintu masuk obyek wisata ini. Tapi perjalanan belum selesai. Kami harus melewati jalan makadam lagi hingga tiba di parkiran. Di sana, telah banyak warung penjual makanan dan minuman hangat bagi pengunjung. Sempat gembira karena telah sampai di lokasi, namun kenyataan pahit harus saya terima.
Ternyata, saya harus trekking lagi sekitar satu kilometer dengan medan menanjak sebelum sampai di puncak bukit. Walau sedikit kecewa, namun saya masih tetap semangat. Apalagi, rute trekking yang saya lalui diterangi dengan temaram lampu yang dipasang oleh penduduk sekitar.
Oh ya, obyek wisata ini masih dikelola secara swadaya oleh warga desa. Jadi, fasilitas yang ada memang masih sederhana. Meski begitu, manurut saya sudah cukup lengkap.
Setapak dua tapak kaki saya berjalan menanjak dengan sesekali nafas yang mulai berat. Dimas memilihkan jalan yang terjal karena selain diterangi lampu, jaraknya juga lebih dekat dibandingkan jalan lain yang cukup mudah namun memutar dan gelap.
Sesekali, saya melihat bapak-bapak membawa headlamp sambil membawa nampan dan gelas-gelas. Dalam hati saya bertanya, mengapa beliau membawa semua itu tapi segera dijawab oleh Dimas. Ini adalah salah satu bentuk pelayanan dari pengelola wisata kepada pengunjung Bukit Agaran yang ingin memesan makanan dan minuman dari warung makan di bawah.
Jadi, bapak-bapak itulah yang mengantarkan makanan dan minuman bolak-balik dari bawah ke atas. Sungguh, ini hal unik dan mengesankan pertama yang saya lihat selama saya traveling.
Tak terasa, sembari bergurau dengan Dimas, saya telah tiba di puncak. Lansekap Kota Semu Purwokerto dan wilayah Kabupaten Banyumas lain langsung terhampar jelas dengan kerlip lampu yang menawan. Sebelum saya menikmati itu semua, saya harus membayar tiket dulu seharga 5.000 rupiah kepada petugas tiket.
Dan, saya berkesempatan untuk menikmati fasilitas internet agar bisa segera mengunggah foto terbaik saya di Instagram dengan membayar 1.000 rupiah per jam. Dengan harga itu, saya mendapat kupon wifi yang dipasang di puncak bukit.
Lagi-lagi, saya semakin ternganga dengan fasilitas unik nan sederhana yang ditawarkan wisata ini. Menikmati Bukit Agaran dari puncak adalah kenikmatan sendiri. Ada beberapa spot foto yang menarik untuk dijadikan latar belakang gambar diri. Mulai bentuk tangan, rumah, dan meja kursi.
Asli, tempat ini benar-benar keren. Gemerlap lampu dari bawah dan dari spot foto menjadi pemanis yang sungguh elok. Selain memandang alam dari atas bukit, di Bukit Agaran pengunjung juga bisa menyewa tenda untuk dijadikan tempat bermalam. Saya melihat beberapa mahasiswa dari Purwokerto datang dan singgah untuk menikmati gemerlap Bukit Agaran.
Sambil terus memandang gemerlap Purwokerto, saya jadi membayangkan bisa menyaksikan gemerlap serupa di Dubai. Dari atas Burj Khalifa, salah satu gedung tertinggi di dunia, saya sungguh ingin menikmati gemerlap kota-kota di Dubai. Saya juga ingin melihat air mancur yang menari yang hanya bisa saya saksikan di Dubai. Semoga pada suatu saat nanti saya bisa berkesempatan menikmati gemerlap Dubai yang indah dan tak ada duanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar