Selasa, 07 Januari 2020

Bukit Cantik di Purwokerto yang Memesona Saat Malam

Di Purwokerto, ada satu bukit cantik yang memesona saat malam hari. Bukit Agaran namanya, bisa melihat gemerlap lampu kota dari ketinggian.

Apa yang ada di pikiran kita ketika mendengar wisata Purwokerto? Pasti wisata Baturraden yang terkenal akan pemandian air hangatnya. Dan tentunya, Gunung Slamet yang memagari kota ini menjadi magnet bagi keindahan bentang alamnya. Kalau bagi saya, Bukit Agaran adalah tujuan utama yang bisa saya rekomendasikan.

Awalnya, saya tidak memiliki tujuan pasti selain ke Baturraden. Namun, pengemudi ojek wisata yang saya sewa menyarankan saya untuk mendatangi tempat ini di waktu malam. Menurutnya, letaknya tak begitu jauh dari pusat Kota Semu Purwokerto. Tepatnya berada di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas.

Kalau diukur, ya sekitar 15 kilometer dari pusat kota menuju arah utara. Untungnya, saya singgah di daerah Buaran, Purwokerto Utara yang dekat dengan Kecamatan Baturraden. Jadi, perjalanan yang saya tempuh lebih dekat dan tentunya bisa memangkas waktu perjalanan.

Dimas, pengemudi ojek yang mengantarkan saya sudah siap selepas salat Magrib. Dengan baju hangat yang saya kenakan, saya siap untuk berjuang menaklukkan medan sepanjang perjalanan malam itu. Mula-mula, kami melewati persawahan dan pemukiman penduduk di sekitar Purwokerto utara.

Menurut Dimas, jika siang hari, Gunung Slamet akan terlihat indah dengan berpagar bentang alam yang menawan. Walau saya tak bisa menyaksikannya, bagi saya tak masalah. Saya masih tetap semangat untuk terus menuju puncak Bukit Agaran.

Semenit dua menit berlalu jalanan pun berganti dengan kontur pegunungan. Tikungan tajam dan sesekali kami harus mengalah dengan kendaraan lain akibat jalan yang cukup sempit. Belum lagi, penerangan yang cukup minim membuat kami harus hati-hati.

Sekira dua puluh lima menit dari penginapan, kami telah sampai di pintu masuk obyek wisata ini. Tapi perjalanan belum selesai. Kami harus melewati jalan makadam lagi hingga tiba di parkiran. Di sana, telah banyak warung penjual makanan dan minuman hangat bagi pengunjung. Sempat gembira karena telah sampai di lokasi, namun kenyataan pahit harus saya terima.

Ternyata, saya harus trekking lagi sekitar satu kilometer dengan medan menanjak sebelum sampai di puncak bukit. Walau sedikit kecewa, namun saya masih tetap semangat. Apalagi, rute trekking yang saya lalui diterangi dengan temaram lampu yang dipasang oleh penduduk sekitar.

Oh ya, obyek wisata ini masih dikelola secara swadaya oleh warga desa. Jadi, fasilitas yang ada memang masih sederhana. Meski begitu, manurut saya sudah cukup lengkap.

Setapak dua tapak kaki saya berjalan menanjak dengan sesekali nafas yang mulai berat. Dimas memilihkan jalan yang terjal karena selain diterangi lampu, jaraknya juga lebih dekat dibandingkan jalan lain yang cukup mudah namun memutar dan gelap.

Sesekali, saya melihat bapak-bapak membawa headlamp sambil membawa nampan dan gelas-gelas. Dalam hati saya bertanya, mengapa beliau membawa semua itu tapi segera dijawab oleh Dimas. Ini adalah salah satu bentuk pelayanan dari pengelola wisata kepada pengunjung Bukit Agaran yang ingin memesan makanan dan minuman dari warung makan di bawah.

Jadi, bapak-bapak itulah yang mengantarkan makanan dan minuman bolak-balik dari bawah ke atas. Sungguh, ini hal unik dan mengesankan pertama yang saya lihat selama saya traveling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar