Lampung memiliki banyak pantai cantik yang cocok untuk short escape saat weekend. Salah satu yang rekomendasi adalah Panti Sari Ringgung.
Mudik tahun 2019 ini kami jalani ke provinsi Lampung, ujung bagian timur pulau sumatera yang berbatasan dengan Selat Sunda. 12 tahun kami sekeluarga tidak mudik ker umah Pak De di kawasan Bandar Sri Bhawono di Lampung Timur.
Selepas Idul Fitri hari pertama, kami bergegas menuju kekota Bandar Lampung yang ditempuh selama 1,5 jam. Dan hanya berbekal dari peta mbah google, kami menuju ke pantai yang berada di pesisir selatan kota Bandar Lampung.
Lampung dianugerahi kawasan perbukitan yang subur dengan hutan-hutan yang masih perawan, sebagian lagi menjadi kebun produktif dan dikelilingi oleh pantai yang cantik mulai dari sisi utara hingga timur lampung. Dari kota Bandar Lampung kami menuju pantai Sari Ringgung dengan jarak tempuh 30 menit.
Begitu tiba masuk di kawasan wisata, setiap wisatawan dikenakan tarif HTM : Rp 15 ribu/orang dan mobil dikenakan tarif Rp 20 ribu/mobil. Total 3 dewasa + 2 anak-anak + 1 mobil dikenakan tarif masuk Rp 70 ribu.
Kawasan wisata ini telah dikelola sebagai private beach dan bukan open beach yang bebas dinikmati oleh masyarakat. Oleh karena itu siapkan kocek lebih agar dapat menikmati beragam fasilitas tambahan seperti penyebrangan ke pasir timbul. Ada banyak gazebo disekitaran pantai yang bisa dijadikan sarana peristirahatan sementara untuk keluarga, tarif per gazebo Rp 100ribu.
Begitu memasuki kawasan pantai berpasir putih yang cantik, anak-anak segera bergegas untuk ganti baju dan tidak sabar untuk mencelupkan kaki di air pantai yang jernih. Pemandangan perbukitan hijau di sekitarnya yang ciamik menambah ketenangan. Ombak laut yang kecil dan pasir putih yang landai sangat cocok untuk anak-anak dan keluarga berenang dengan tenang tanpa perlu khawatir.
Ada spot menarik yang disajikan seperti ayunan di pinggir pantai pasir putih, luangkan waktu sambil berendam, mencari kerang atau ganggang seperti bunga laut cantik yang tumbuh subur di dasar pantai. Kejernihan air begitu terasa. Spot taman bermain anak juga disediakan sehingga mereka bisa main perosotan atau ayunan secara gratis. Bahkan ada satu spot perosotan yang bisa langsung terjun ke pantai di saat sedang pasang, sayang sore itu sedang surut sehingga tidak bisa digunakan.
Apabila Anda berminat untuk menyeberang ke pulau pasir timbul dikenakan biaya penyeberangan 200 ribu dan bisa mampir ke masjid apung. Tapi kami sekeluarga hanya menghabiskan waktu sepanjang waktu di pantai pasir putih yang cantik dengan semilir angin sepoi-sepoi serta pasokan oksigen yang sangat segar dari perbukitan hijau yang masih ditumbuhi hutan sekunder lebat.
Setelah selesai bermain di pantai, kami bisa bilas di toilet dengan air bersih dan ruang ganti yang memadai dan dikenakan biaya Rp 3 ribu perorang.
Indahnya Perjalanan Menuju Pantai Pink Lombok
Pantai Pink di Lombok, NTB terkenal akan pasir pantainya yang berwarna pink. Hanya saja, perjalanan ke sana juga indah.
Selamat datang di Lombok. Pertama denger kata Lombok, langsung terkoneksi membayangkan keadaan pantai. Angin yang sepoy-sepoy, pasir yang berkilau dan air laut yang jernih. Mencari pantai di Lombok itu sangat mudah, karena hanya jarak beberapa meter pantai sudah terlihat.
Keindahan alam yang tertuju di setiap pantainya memberikan suasana yang beda. Ada yang terlihat biru segar, air yang hijau dan batu-batu cokelat bahkan ada pasir yang berwarna pink. Kali ini akan mengulas tentang perjalanan menuju Pantai pink. Pantai yang terletak di Pulau Lombok Timur, Kecamatan Jerowaru.
Apakah benak pertama yang dipikirkan tentang pantai pink? Pantai bernuansa warna Pink kah? Sayangnya hanya pasir yang berwarna pink, itu pun terjadi di sore hari. Loh, kok bisa warna pink? Jadi gini, warna pink itu berasal dari karang merah yang mati dan terlebur, tercampur dengan pasir dan pantulan sinar matahari sore.
Perjalanan menuju pantai pink, akan melewati jalan yang sangat indah. Lokasi pantai di kecamatan Jerowaru ini memberikan sensasi foto yang instagramable banget. Gak bakal nyangka kan, kalo jalanannya aja begini indah.
Selanjutnya akan memasuki jalan yang terjal, agak serem sih kalo naik motor dan memasuki waktu sore. Seperti kota yang tidak berpenghuni. Maka itu alasan utama kenapa aku mendatangi pantai pink di pagi. Meski suasana gelap dan seakan tidak berpenghuni, aku menemukan dua objek yang menurut ku aneh.
Di suasana yang seperti tidak berpenghuni ini, aku menemukan mushola yang terletak di setiap kuranglebih 50 meter. Sangat dekat bukan? Tidak hanya bangunan mushola yang seada-adanya, tapi di setiap mushola disediakan mukena dan perkakas sholat lainnya.
Mushola satu ke mushola selanjutnya bisa terlihat mata. Mungkin penduduk Kecamatan Jerowaru ini sengaja memberikan tempat beribadah bagi pengunjung yang menuju pantai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar