Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin Corona AstraZeneca telah tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021) sore. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun telah memberikan izin penggunaan darurat untuk vaksin ini digunakan di Tanah Air.
"Maka Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat EUA pada tanggal 22 Februari 2021 yang lalu, vaksin ini dikemas dalam dus berisi 10 vial masing-masing 5 ml," jelas Kepala BPOM Penny dalam konferensi pers, Selasa (9/3/2021).
Tak seperti vaksin Sinovac yang telah digunakan dalam program vaksinasi COVID-19, vaksin AstraZeneca mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM meski uji klinisnya tidak dilakukan di Indonesia.
Bagaimana izin penggunaan darurat bisa diberikan?
Menurut Penny, tak semua vaksin Corona yang diberikan izin penggunaan darurat harus melakukan uji klinis di Indonesia.
"Yang penting ada mutu, khasiat, dan keamanan didapatkan dari uji klinik yang sudah dilakukan," ucap Penny.
"Apabila sudah mendapatkan emergency use authorization dari negara lain akan lebih mudah lagi, karena akan kita lihat kelayakan baiknya evaluasi tersebut sehingga akan lebih cepat," lanjutnya.
Lebih lanjut, kata Penny, standar persetujuannya pun sama seperti vaksin Corona lainnya, yakni harus memiliki efikasi di atas 50 persen dan terbukti menunjukkan peningkatan titer antibodi.
"Jadi sama semuanya, hanya data hasil uji kliniknya untuk khasiat dan keamanan tidak harus melakukan uji klinik di Indonesia selama data-datanya valid," jelasnya.
Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin AstraZeneca terbukti memiliki efikasi sebesar 62,1 persen.
https://movieon28.com/movies/playtime/
Doni Monardo Geram Masih Ada 17 Persen Warga yang Tak Percaya Corona
Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut ada sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia yang masih tak percaya virus Corona COVID-19. Padahal, sudah banyak korban jiwa akibat penyakit ini.
"Orang tidak percaya COVID masih ada yang mengatakan 17 persen warga negara kita tidak percaya COVID, ini katanya rekayasa, ini katanya konspirasi," kata Doni dalam konferensi pers BNPB, Selasa (9/3/2021).
"Padahal kenyataannya yang meninggal secara global sudah lebih dari 2 juta orang. Di negara kita sudah sudah 37 ribu orang saudara-saudara kita yang wafat," tambahnya.
Doni Monardo pun merasa geram dan mempertanyakan apa alasan mereka yang masih tidak mempercayai COVID-19.
"Apalagi alasannya untuk tidak percaya dengan COVID ini? Saya kebetulan salah satu penyintas. Saya bisa merasakan betapa ganasnya COVID ini," ujarnya.
Menurut Doni, apabila kita tidak berhati-hati dan secara tak sengaja menularkan virus Corona ke kelompok rentan, seperti lansia dan orang yang memiliki komorbid, itu bisa berbahaya bagi kesehatan mereka.
Doni mengatakan, sebanyak 85 persen orang yang meninggal akibat COVID-19 adalah mereka yang memiliki komorbid dan berusia di atas 47 tahun.
"Jadi kalau kita memahami bagaimana ancaman COVID, kemudian kelompok yang relatif muda ini bisa memisahkan diri dan tidak sering berhubungan dengan kelompok rentan, mereka terpapar COVID jadi OTG pada akhirnya akan pulih," ucap Doni.
"Tapi begitu menyerang mereka yang lansia dan punya komorbid risikonya sangat fatal, apalagi jika terlambat dibawa ke rumah sakit," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar