Selasa, 18 Agustus 2020

Fakta tentang Brompton, Sepeda Mahal yang Jadi Incaran

Hingga akhir 2019 lalu predikat sepeda termahal salah satunya masih dipegang oleh Brompton. Tak tanggung-tanggung harga per unitnya bisa mencapai di atas Rp 50 juta, tergantung dari jenisnya.
Meski harganya tak murah, namun sepeda Brompton banyak digemari para goweser di tanah air baik yang pesepeda sejati atau hanya sekadar gaya hidup. Tak heran jika beberapa waktu lalu sampai ada yang berusaha menyelundupkan sepeda Brompton di atas pesawat Garuda Indonesia.

Brompton adalah sebuah merek sepeda lipat premium asal Inggris yang berkantor pusat di Greenford, London.

Berikut beberapa hal tentang Brompton yang perlu kamu ketahui:
1. Sejarah Brompton

Karena harganya yang mahal, Brompton menjadi sepeda lipat yang memiliki gengsi tersendiri di komunitas pesepeda. Nama Brompton berasal dari 'Brompton Oratory', sebuah gereja di London yang bisa dilihat dari jendela apartemen Andrew Ritchie ketika ia merintis usahanya pada tahun 1976.

Di tahun 1970-an, Ritchie dikenalkan oleh ayahnya kepada Bill Ingram, yang sedang mencari dana untuk Bickerton, perusahaan Inggris pelopor sepeda lipat.

2. Penjualan Awal Brompton

Setelah bertemu dengan Bill Ingram, Ritchie pun langsung mendesain sepeda. Sempat menawarkan hasil prototipe pertamanya ke perusahaan sepeda raksasa, namun Ritchie belum berhasil.

Meskipun hanya mendapat 30 pesanan, Ritchie justru membuat 50 sepeda lipat. Dengan berjalannya waktu akhirnya Ritchie mendapat dana yang cukup dari investor dan akhirnya berhasil memproduksi sepeda dengan kondisi yang layak di tahun 1988 di wilayah Brentford. London.

3. Brompton di Indonesia Harus Ber-SNI

Sepeda lipat dari Inggris, Brompton tidak bisa sembarangan beredar di Indonesia. Sepeda ini harus memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kepala Bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum Standarisasi Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan, produk apa pun yang dipasarkan di Indonesia, harus mengikuti SNI.

Terkait hal ini, Kasubdit Pengawasan dan Penegakan Hukum Standarisasi Industri BPPI, Kemenperin, Yosi menambahkan, mengacu Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 30 Tahun 2018 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Sepeda Roda Dua Secara Wajib, sepeda Brompton harus berlogo SNI. Sebab, Indonesia terikat peraturan World Trade Organization (WTO/Organisasi Perdagangan Dunia).

4. Harga Sepeda Brompton

Di negara asalnya, Brompton Bike dibandrol dengan harga Rp 28 juta untuk Brompton special edition. Jika ditambah pajak dan berbagai biaya lainnya maka harganya bisa mencapai Rp 34 juta setelah sampai di Singapura. Brompton di Indonesia memang dibandrol dengan harga jual yang lebih tinggi.

Kalau mengintip di beberapa marketplace, berbagai jenis sepeda Brompton bekas dibandrol dengan harga Rp 20 hingga Rp 35 jutaan tergantung jenisnya.

Banyak Wanita Ingin Lepas Bra Setelah Lockdown, Ini Efeknya untuk Kesehatan

Pandemi Corona membuat orang menyadari banyak hal. Selain ternyata mampu bekerja dari rumah, sejumlah wanita juga menyadari bahwa hidup tanpa bra terasa lebih nyaman. Selama berdiam diri di rumah, wanita merasa tak butuh pakaian dalam karena tidak perlu ke luar rumah. Di media sosial, mereka pun mengaku akan meninggalkan bra untuk selamanya tapi adakah efek sampingnya untuk kesehatan dan bentuk payudara?

Selama lockdown, bra dan celana jeans adalah dua busana yang ditinggalkan wanita. Mereka menggantinya dengan loungewear atau celana yoga bahkan daster yang lebih fleksibel dan nyaman dipakai di rumah. Baru merasakan nyamannya tidak pakai bra, beberapa wanita mengaku akan menyimpan pakaian dalam itu untuk waktu yang lama bahkan setelah lockdown.

"Aku tidak melihat bra akan kembali saat kita bisa ke luar lagi," "Jeans dan bra tidak akan pernah kembali ketika lockdown usai," "Sejak pandemi aku mengalami revolusi tanpa bra? Siapa yang setuju denganku?,"

Semua wanita tentu mengetahui bagaimana leganya saat bisa melepas bra setelah mengenakannya seharian. Ketika meninggalkannya selama berbulan-bulan kini mereka pun mulai terbiasa. Namun menurut pakar, tidak memakai bra dalam waktu yang lama punya efek samping yang berdampak di kemudian hari.

Pakar teknologi garmen, Victoria Shelton mengatakan bahwa payudara seharusnya didukung dengan bra. Jika tidak, payudara bisa mengalami kerusakan pada ligamen yang merupakan jaringan konektif untuk menjaga bentuk. Sedangkan Dr Riccardo Frati dari Frati Cosmetic Surgery menekankan pentingnya payudara untuk mencegah bentuknya yang kendur karena gravitasi dan usia.
https://nonton08.com/the-offering/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar