Minggu, 16 Agustus 2020

BPOM akan Jelaskan Status 'Obat Corona' Unair

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan pihaknya akan memberikan penjelasan terkait evaluasi hasil uji klinis kombinasi obat virus Corona COVID-19, yang dikembangkan oleh TNI AD, Badan Intelijen Nasional (BIN), dan Universitas Airlangga (Unair).
"Akan ada penjelasan dari Badan POM," tegas Penny saat dihubungi detikcom, Minggu (16/8/2020).

Beberapa kombinasi obat yang sedang dalam proses pengajuan izin edar dari BPOM untuk penyembuhan pasien Corona, yaitu lopinavir-ritonavir-azitromisin, lopinavir-ritonavir-doksisiklin, dan hidroksiklorokuin-azitromisin. Disebutkan, kombinasi obat ini telah lulus uji klinis terhadap 754 pasien.

"Hari Rabu saya menghadap Kepala BPOM itu dalam rangka secara resmi mohon dukungan untuk percepatan izin. Hanya izin edar," kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, saat acara penyerahan hasil uji klinis obat Corona di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2020).

Andika juga menjelaskan, saat ini sudah tidak ada kendala terkait persiapan produksi kombinasi obat tersebut. Maka dari itu, ia berharap proses pengajuan izin berjalan dengan lancar dan cepat.

"(Kemungkinan kendala lain) tidak ada. Makanya, untuk rencana produksi sekarang kita hadirkan Kimia Farma, lembaga farmasi Polri, lembaga farmasi AD, IDI, Apoteker Indonesia. Sekarang kita akan inventarisir, bahan bakunya apa saja. Ketua tim penelitiannya ada di sini, segera kita rencanakan, termasuk proposal anggaran dan detailnya sambil menunggu izin itu tadi," ujarnya.

Blak blakan Rafia Arshad, Hakim Pertama di Inggris yang Berhijab

 Raffia Arshad mencatat sejarah dalam dunia penegakan hukum Inggris sebagai hakim pertama yang berhijab. Pada Mei bulan lalu dia ditunjuk sebagai Deputy District Judge wilayah Midlands setelah berkarier selama 17 tahun.
"Tanggung jawab ini sangat besar dan sangat penting. Tidak hanya untuk saya, tapi juga seluruh perempuan di dunia, terutama perempuan muslim. Saat ini upaya menghargai perbedaan bisa terdengar jelas dan keras," kata Raffia yang kini berusia 40 tahun dikutip dari Metro.

Arshad sudah bermimpi hendak berkarier dalam bidang hukum sejak usia 11 tahun. Namun dia ragu apakah bisa mencapai impian tersebut karena pilihannya menggunakan hijab. Dia juga sempat bertanya-tanya bagaimana kondisi muslim yang punya kondisi sama dengan dirinya.

Keraguan tersebut muncul karena Arshad berasal dari kelompok minoritas. Hasil statistik menunjukkan, dari 3.210 hakim yang memberi laporan pada Judicial Office hingga 1 April 2019, hanya 6 persen atau 205 orang yang memiliki latar BAME (kelompok etnis minoritas). Selain itu hanya 1.013 atau 31 persen yang merupakan hakim wanita.

Keluarga Arshad bahkan pernah menyarankannya melepas hijab, supaya keinginan memperoleh beasiswa tercapai. Saat itu, Arshad akan tes wawancara beasiswa di Inns of Court School of Law. Keluarganya berpikir peluang Arshad akan turun atau hilang karena menggunakan hijab.

"Saat itu aku memutuskan tetap menggunakan hijab karena ini adalah hal penting. Bagi saya hijab menandakan saya diterima tanpa harus berpura-pura. Saya tidak ingin menjadi orang lain untuk mengejar profesi saat ini," kata Arshad.

Arshad membuktikan diri sukses meraih beasiswa tanpa harus melepas hijab. Dengan beasiswa tersebut Arshad mengejar mimpinya belajar dan berkarier di bidang hukum. Keberhasilan ini sekaligus menjadi dasar yang meneguhkan langkah Arshad tetap mengenakan hijab selama belajar dan meniti berkarier.
https://kamumovie28.com/400-days/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar