Seorang penumpang pesawat wanita ditegur oleh awak kabin untuk mematikan ponsel. Tak terima, dia marah dan joget tak senonoh.
Hal itu terjadi di maskapai Spirit Airlines di Bandara Orlando, Florida, AS. Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Rabu (10/4/2019) seorang penumpang wanita tersebut marah-marah setelah ditegur awak kabin untuk mematikan ponsel, karena pesawat akan lepas landas.
Dia mengumpat kata-kata kasar. Bahkan, dia berjoget twerking (memakai rok) dan menunjukan bagian pantatnya ke arah penumpang.
Akhirnya, penumpang wanita tersebut dikeluarkan dari pesawat oleh awak kabin. Para penumpang lainnya pun bersorak kegirangan, karena mereka juga geram oleh perilaku penumpang wanita itu
Pihak maskapai Spirit Airlines tidak memberitahu kelanjutannya. Kabarnya, penumpang wanita itu dalam keadaan mabuk.
Belanja Sepatu Kulit di Sidoarjo Seperti Sandiaga Uno
Untuk Debat Pilpres terakhir, Cawapres Sandiaga Uno berbelanja sepatu kulit di Sidoarjo. Traveler juga bisa belanja sepatu serupa di sentra kerajinan kulit ini.
Di sela-sela kampanye akbar di Magetan, Jawa Timur, Cawapres 02 Sandiaga Uno menyempatkan waktu untuk mampir belanja sepatu kulit di Sidoarjo. Sepatu kulit ini rencananya akan dia gunakan untuk Debat Pilpres Terakhir yang digelar Sabtu (13/4).
Sidoarjo selain dikenal dengan Lumpur Lapindo, memang dikenal dengan sentra kerajinan kulitnya. Lokasinya berada di Kecamatan Tanggulangin. Jaraknya hanya sekitar 20 km-an dari Bandara Internasional Juanda.
Menyebut nama Tanggulangin, orang pasti sudah sangat identik dengan produk kerajinan kulit, baik itu sepatu atau tas. Soal kualitas, sudah tidak perlu diragukan lagi. Produk-produk Tanggulangin sangat layak untuk diekspor ke luar negeri.
Sejarah kerajinan kulit di Tanggulangin sendiri sudah dimulai dari tahun 1939. Pada tahun 1976 mulailah dibangun Koperasi Industri Tas dan Koper (INTAKO).
Memasuki area industri kulit Tanggulangin, traveler akan disambut oleh banyak ruko. Di setiap ruko dipajang produk-produk kulit dari sepatu maupun tas dengan desain terkini.
Sebelum memutuskan untuk belanja, traveler bisa melihat-lihat dulu apakah ada yang menarik atau tidak. Istilahnya, Windows Shopping dulu. Kalau ada yang menarik hati, baru dibayar dan dibawa pulang.
Harga produk kulit di Tanggulangin mulai dari puluhan ribu, sampai ada yang puluhan juta rupiah. Traveler tinggal pilih saja yang sesuai dengan kemampuan kantong. Terkadang ada juga pedagang yang barangnya bisa ditawar.
Sandiaga Uno sendiri mengaku akan fokus pada produksi nasional dan menggerakkan ekonomi Indonesia dengan menggenjot ekspor. Menurutnya produk berbahan kulit dari Tanggulangin memiliki potensi ekspor.
"Fokus kami adalah menggerakkan ekonomi rakyat. Ekonomi yang fokus pada produksi lokal. Kami berkomitmen untuk mengurangi impor yang bisa dipenuhi oleh produksi dan pekerja anak negeri," pungkas Sandi.
China Punya Cara Unik untuk Blacklist Wisatawan Nakal
Keberadaan turis atau wisatawan nakal memang jadi momok di dunia pariwisata. Namun, pengelola pariwisata Beijing punya cara khusus untuk menangani turis nakal.
Tak hanya dianggap suka bertingkah di luar negeri, Pemerintah China sendiri ternyata juga kerepotan menghadapi tingkah warganya di dalam negeri. Dinas pariwisata Beijing misalnya, sampai ingin mem-blacklist turis nakal yang berulah di sana.
Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Rabu (10/4/2019), media lokal menyatakan kalau pihak manajemen taman Beijing ingin membuat daftar turis nakal melalui kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pengenal wajah.
"Teknologi pengenal wajah dan lainnya akan digunakan untuk mendeteksi kelakuan yang tidak beradab," ujar salah satu petugas setempat, Mi Shanpo seperti diberitakan media Global Times.
Sistem baru itu diharapkan dapat mendeteksi wajah wisatawan lokal yang kedapatan berulah. Di mana nantinya mereka dapat diusir agar tak berulah lagi.
Kebijakan itu dibuat untuk mengantisipasi kelakuan wisatawan lokal yang seringkali kelewat batas saat mengikuti festival bersih-bersih makam atau dikenal dengan Ceng Beng di Indonesia.
Menurut CNN, kebijakan tersebut hadir sebagai reaksi dari kelakuan wisatawan lokal yang kedapatan memanjat pohon, mengambil bunga dan merusak tanaman selama festival itu berlangsung. Termasuk beberapa orang yang memancing di dekat danau dan berdagang di taman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar