Selasa, 09 Maret 2021

AstraZeneca Tak Termasuk, BPOM Ungkap 3 Vaksin untuk Vaksinasi Gotong Royong

 Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengungkap vaksin AstraZeneca tak akan dipakai untuk vaksinasi mandiri. Hal ini sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah.

"Iya sebagaimana peraturan yang ada bahwa vaksin yang diberikan dalam gotong royong harus berbeda dengan program vaksinasi nasional," kata Penny dalam konferensi pers Selasa (9/3/2021).


"AstraZeneca tidak akan masuk ke dalam program vaksinasi gotong royong," lanjut Penny.


Ada tiga jenis vaksin Corona yang akan dipakai untuk vaksinasi gotong royong. Salah satunya vaksin Corona berteknologi mRNA Moderna.


"Vaksin Sinopharm sedang berproses, vaksin Novavax dan vaksin Moderna," beber Penny.


Sementara hari ini, Kepala BPOM sudah mengumumkan persetujuan vaksin Corona AstraZeneca dengan sebelumnya memperhatikan aspek keamanan serta mutu. Vaksin Corona AstraZeneca memiliki efikasi 62,1 persen dan mendapat persetujuan dari BPOM tanggal 22 Februari 2021.

https://movieon28.com/movies/requiem-for-a-vampire/


Vaksin COVID-19 AstraZeneca Dapat Izin BPOM, Akan Digunakan untuk Siapa?


 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin COVID-19 AstraZeneca. Ini artinya Indonesia kini sudah memiliki dua jenis vaksin COVID-19 yang bisa digunakan.

"Maka Badan Pengawas Obat dan Makanan menerbitkan izin penggunaan darurat EUA pada tanggal 22 Februari 2021 yang lalu. Vaksin ini dikemas dalam dus berisi 10 vial masing-masing 5 ml," jelas Kepala BPOM, Penny K Lukito, dalam konferensi pers, Selasa (9/3/2021).


Lebih detail Penny menjelaskan bahwa vaksin COVID-19 AstraZeneca akan diberikan untuk kelompok orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, termasuk lansia. Kategori penerima kurang lebih sama seperti vaksin COVID-19 Sinovac yang sudah digunakan sebelumnya.


"Vaksin AstraZeneca ini adalah untuk usia 18 tahun ke atas, jadi bisa untuk lansia. Kategori-kategorinya juga sama dengan vaksin Sinovac sebelumnya. Walaupun ini platformnya berbeda" ungkap Penny.


Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca dilaporkan tiba di Indonesia pada hari Senin (8/3/2021). Vaksin ini diterbangkan langsung dari Amsterdam, Belanda.


Vaksin COVID-19 AstraZeneca diketahui dikembangkan dengan metode atau platform yang berbeda dari vaksin COVID-19 Sinovac. Vaksin AstraZeneca tidak mengandung virus SARS-COV-2 yang dimatikan, melainkan virus lain yang dimodifikasi untuk memicu respons imun (viral vector).


BPOM Sebut Efikasi Vaksin AstraZeneca 62,1 Persen, Lebih Rendah dari Sinovac


Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap efikasi vaksin Corona AstraZeneca sebesar 62,1 persen. Lebih rendah dibanding efikasi yang tercatat dari hasil uji klinis fase-III vaksin Corona Sinovac di Bandung yaitu 65,3 persen.

Meski begitu, BPOM sudah menyetujui penggunaan vaksin Corona AstraZeneca dengan mempertimbangkan khasiat mutu dan keamanan vaksin. Per tanggal 22 Februari 2021, izin darurat penggunaan (EUA) dari BPOM diberikan.


"Efikasi vaksin dengan dua dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar dua bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,1 persen," sebut Penny dalam konferensi pers Selasa (9/3/2021).


Angka efikasi yang didapat sesuai dengan standar WHO terkait pemberian izin darurat vaksin Corona yaitu minimal 50 persen. Hasil evaluasi mutu vaksin Corona AstraZeneca termasuk soal produksi dan bahan kemasan secara umum memenuhi syarat BPOM.


"Berdasarkan hasil evaluasi tersebut dan juga pertimbangan manfaat dan risiko, maka Badan POM memberikan persetujuan penggunaan masa darurat atau emergency use authorization pada 22 Februari yang lalu, dengan nomor EUA2158100143A1," pungkasnya.

https://movieon28.com/movies/erotic-stories/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar