Baru-baru ini, viral di media sosial potongan cerita sekeluarga terpapar Corona. Sang pemilik akun @Nonameaja35 menceritakan dirinya kehilangan ibu dan ayah hanya selisih 30 menit.
Saat sang ibu dan ayah meninggal dunia selisih 30 menit, Syah kala itu tengah dirawat di RS, masih berjuang melawan infeksi COVID-19. Kabar duka pertama datang dari laporan meninggalnya ayah Syah, lalu kabar duka terkait ibunya.
"Waktu meninggal itu saya sudah dirawat di RS, jadi tidak diberitahu sama keluarga," kata Syah kepada detikcom Selasa (15/9/2020).
"Ayah dan ibu juga beda RS, jadi waktu meninggal itu sodara sedang proses pengurusan jenazah di RS tempat ayah dirawat, ternyata dapat telepon dari tempat ibu dirawat katanya meninggal juga, jadi sekeluarga bingung pada saat itu," lanjutnya.
Peristiwa meninggalnya ayah dan ibu Syah Fridan Alif, pemilik akun @Nonameaja35, terjadi 11 Juni lalu. Warga asal Sidoarjo ini menceritakan sang ayah pertama kali terpapar Corona dengan mengeluhkan gejala batuk kering 30 Mei lalu.
Usai sang ayah tertular Corona, ibunya pun ikut terinfeksi. Keduanya lalu sama-sama mengeluhkan gejala batuk disertai gangguan pada indra perasa dan penciuman, serta yang paling fatal sesak napas.
Tidak lama berselang, ternyata sang nenek juga dinyatakan positif Corona. Kondisi mereka terus memburuk setiap harinya, hingga akhirnya ketiganya tidak berhasil melawan COVID-19.
Syah sendiri dinyatakan positif Corona tidak lama dari laporan sang nenek yang ikut terpapar. Namun, asal muasal sang ayah terinfeksi tidak diketahui pasti, dugaan hingga saat ini ayah kemungkinan tertular saat menerima tamu di momen Hari Raya Idul Fitri.
"Covid nggak main2 lo ya, keluargaku kena semua, ayah dan mamaku meninggal dalam 1 hari, selisih 30 menit aja, kemudian besoknya nenekku juga meninggal, sedangkan aku dirawat 18 hari, dan skrg harus hidup sendirian, jadi jgn dianggap remeh," tulis Syah dalam akun Twitter miliknya @nonameaja35.
Viral Maba Dibentak karena Tak Pakai Ikat Pinggang, Netizen Tanya Esensinya
Di media sosial viral cuplikan video yang diduga ospek virtual salah satu kampus di Surabaya. Para mahasiswa baru (maba) di dalam video tampak dibentak-bentak oleh seniornya karena tidak memakai ikat pinggang.
"Enggak dibaca tata tertibnya?" ujar seorang wanita dalam video.
Video ospek ini kemudian jadi perbincangan di media sosial. Ada yang mengkritik mengapa ospek yang sudah virtual masih mempermasalahkan hal sepele, ada juga yang mendukung karena alasan demi melatih disiplin dan mental para mahasiswa baru.
"Emang marah-marah gini ngerubah seseorang jadi lebih baik? Ilangin deh cara ngedidik yang strict kayak gini. Bedain mana yang tegas mana yang cuma ninggiin suara. Respect buat mas-mas yang masih nanya alasan dulu sebelum ngegas sama kamu yang langsung minta maaf karena salah," komentar satu pengguna Twitter.
"... Setuju enggak setuju itu pilihan. Anda besok akan turun di tengah masyarakat, langsung diospek dengan kehidupan. Salam jiwa lemah," komentar pengguna lainnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dra Ratna Djuwita, Dipl. Psych, berkomentar ospek seharusnya bertujuan membantu mahasiswa baru mengenali budaya kampus. Ospek dengan cara membentak-bentak dengan alasan melatih disiplin tidak akan terlalu membantu aktivitas kuliah nantinya.
"Orientasi itu misalnya kalau mau nyari buku di perpustakaan bagaimana sih. Itu kan beda banget dari masa SMA," ungkap Ratna pada detikcom, Selasa (15/9/2020).
"Kalau soal harus pakai ikat pinggang sebagainya apakah itu menjadi penting ketika kuliah? Sering kali ditanyakan apakah mahasiswa senior, kalau kuliah disiplin enggak waktu datang ke kelas? disiplin nggak waktu mengerjakan tugas?" lanjutnya.
https://nonton08.com/survivor/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar