Jumat, 21 Mei 2021

Sumber Antioksidan untuk Cegah Penuaan Dini Akibat Radikal Bebas

 Hidup sehat saat muda maupun di masa tua merupakan dambaan semua orang. Untuk mencapai itu, diperlukan perencanaan salah satunya mengurangi risiko berbagai penyakit dan penuaan dini baik secara fisik maupun psikis.

Dikutip dari berbagai sumber, salah satu teori yang paling populer di kalangan ilmuwan tentang penyebab penuaan dini adalah radikal bebas. Radikal bebas merupakan zat berbahaya yang sangat reaktif dan bersifat merusak jaringan dan organ tubuh manusia. Kerusakan ini menimbulkan berbagai penyakit di usia senja.

https://maymovie98.com/movies/open-graves/


Berbagai faktor, baik dari internal maupun eksternal tubuh yang bersifat sebagai perusak kesehatan dan mempercepat penuaan disebut sebagai radikal bebas. Sinar matahari, radiasi, rokok, alkohol, narkoba, polutan, kekurangan sayur mayur dan buah adalah beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi proses penuaan.


Adapun faktor internal radikal bebas seperti pada kulit, yaitu terjadinya kerusakan jaringan kulit. Hal itu disebabkan saat sel kulit, serat kolagen, dan serat elastin yang berfungsi menjaga agar kulit tetap muda menipis.


Tubuh memerlukan antioksidan untuk menekan radikal bebas dan dampak negatifnya. Dengan antioksidan, kerusakan jaringan organ tubuh dan risiko terserang berbagai penyakit di usia tua dapat dicegah.


Zat antioksidan dapat diperoleh melalui tubuh, meskipun ada beberapa zat yang harus diperoleh dari luar tubuh. Vitamin dan mineral yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari adalah antioksidan yang diperoleh dari luar tubuh.


Vitamin C, Vitamin E, karotenoid, beberapa mineral seperti zinc, selenium, mangan, cuprum, dan sebagainya adalah antioksidan yang optimal diperoleh melalui berbagai kerja sama antara unsur-unsur tersebut. Lalu hampir semua makanan dapat menjadi sumber antioksidan.


Semua biji-bijian, buah, sayur mayur, daging, makanan laut, susu adalah sumber antioksidan. Vitamin E alami misalnya, banyak ditemukan dalam gandum, minyak sayur, sayur berdaun hijau, kuning telur, dan kacang-kacangan. Sedangkan vitamin C alami ditemukan dalam buah.


Pro vitamin A juga antioksidan penting bersumber dari karotenoid yang banyak ditemukan dalam buah aprikot, wortel, blewah, bit, daun singkong, daun bayam, dan ubi merah. Sumber antioksidan terbaik memang berasal dari sumber makanan alami.


Namun, jika sumber alami terbatas, maka kamu dapat mengonsumsi makanan tambahan atau suplemen antioksidan. Salah satunya ialah Samcorbex.


Samco Farma

Samcorbex mengandung 500 mg vitamin C dan vitamin B complex yang dapat membantu memenuhi kebutuhan asupan vitamin C harian sekaligus meningkatkan imunitas. Tak terkecuali dalam vitamin yang berperan sebagai antioksidan. Selain Samcorbex, ada juga Samcemin dengan suplementasi vitamin C 100 yang membantu menjaga sistem imun tak hanya mencegah sariawan, tetapi dapat mencegah infeksi COVID-19.


Dengan mengonsumsi Samcorbex atau Samcemin 1-2 kali sehari 1 kaplet tentu akan meningkatkan kesehatan selama beraktivitas. Kini Samcorbex dan Samcemin bisa didapatkan di apotek-apotek terdekat dan e-commerce seperti Shopee, Lazada dan Tokopedia. Keduanya juga bisa diperoleh melalui distributor-distributor PT Samco Farma yakni, PT Merapi Utama Pharma, PT Daya Muda Agung, dan PT Prima Galvin Sukses untuk area Jabodetabek atau dapat menghubungi Sales Representative, Almer di nomor 081288715581.


Bagi yang berada di luar Jabodetabek, saat ini keduanya bisa ditemukan pada distributor PT Cahaya Mutiara Farma untuk area Jawa Timur, PT Marrykha Mitra Mustika di Jawa Tengah, PT Kwatro mandiri Ekavisi di Jawa Barat, PT Mitra Bina Multi Sejahtera di Sumatera Utara, PT Talang Gugun Sari Nusantara di Sumatera Barat, PT Sinar Prima Lestari di Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi, PT Aditama Makmur Sentosa di Lampung, PT Nitijaya Cipta Makmur di Banjarmasin, PT Sehat Inti Permata di Bali dan Lombok.


Informasi lengkap mengenai produk dan distributor dapat mengunjungi website resmi PT Samco Farma di www.samcofarma.co.id.

https://maymovie98.com/movies/gods-of-egypt/

Bio Farma: Tes Antibodi Sendiri Usai Vaksin Corona Tak Ada Manfaatnya

 Penasaran dengan efektivitas vaksin Corona, beberapa orang berinisiatif melakukan tes antibodi sendiri di laboratorium. Peningkatan kadar antibodi dianggap mewakili efektivitas vaksin.

Meski tak disarankan oleh Kementerian Kesehatan RI, tes antibodi usai vaksin Corona rupanya cukup banyak diminati. Salah satunya oleh anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay. Dari hasil tes antibodi yang dilakukannya itu pula, Saleh mempertanyakan efektivitas vaksin Corona yang dipakainya.

https://maymovie98.com/movies/kung-fu-panda-secrets-of-the-scroll/


"Waktu itu saya tes imunitas saya setelah sebulan, dapat 6,28. Kemarin, sebulan setelah itu saya tes lagi. Dapat 8,28," ungkap Saleh dalam rapat di DPR RI, Kamis (20/5/2021).


Saleh semakin mempertanyakan efek perlindungan vaksin Corona karena sepekan setelah tes antibodi, dirinya malah terinfeksi COVID-19.


"Karena kalau imunitas 6,28; 8,28; itu nggak usah disuntikkan pun sudah ada di situ, Pak. Mestinya. Mestinya, saya nggak paham soal kedokteran. Tapi mestinya itu kan pasti ada kekebalannya kan, masak nggak ada," sebutnya.


Menanggapi kebingungan tersebut, Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), M.TropPaed menegaskan bahwa tes antibodi setelah vaksin Corona tidak disarankan. Alasannya, WHO pun tidak menggunakan tes antibodi sebagai standar untuk mengukur efektivitas vaksin.


Dan kita nggak tahu reagen-reagen yang dipakai itu dia mengukur titer antibodi yang mana, karena nggak semua antibodi memberikan perlindungan. Yang memberikan perlindungan, neutralizing antibody," tegas Prof Hindra.


"Kekebalan itu bukan cuma antibodi saja, ada kekebalan seluler yang biasanya diperiksa pada waktu clinical trial (uji klinis)," pambah Prof Hindra.


Lalu bagaimana para ilmuwan mengukur efektivitas vaksin Corona?

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir dalam kesempatan yang sama membagikan pengalamannya sebagai relawan uji klinis. Menurutnya, rangkaian pemeriksaan antibodi dalam darah dilakukan beberapa kali, sebelum dan sesudah penyuntikan, baik vaksin maupun plasebo. Hasilnya, lalu dibandingkan.


"Kalau seandainya sekarang kita melakukan uji antibodi tersebut, mau dibandingkan dengan data apa?" jelas Honesti.


Tes antibodi yang beredar di pasaran tidak akurat dan tidak bermanfaat. Simak penjelasannya di halaman berikut.


Karena tidak ada data pembandingnya, Honesti menyebut tes antibodi sendiri setelah vaksin Corona tidak ada manfaatnya. Terlebih, para ilmuwan sepakat bahwa tes antibodi yang beredar di pasaran umumnya tidak sensitif dan saat ini sudah banyak ditinggalkan.


Honesti mencontohkan, dua bulan setelah penyuntikan dosis kedua uji klinis ia melakukan tes antibodi karena penasaran apakah dirinya mendapat vaksin atau plasebo. Menurut Honesti, hasilnya saat itu selalu non reaktif.


"Artinya kalau saya non reaktif, berarti saya kelompok plasebo kan? Antibodi saya nggak muncul. Sebulan yang lalu data saya dibuka, ternyata saya masuk kelompok vaksin," kata Honesti, menegaskan bahwa tes antibodi tidak akurat.


Perhitungan efikasi

Dalam uji klinis, efikasi atau kemanjuran vaksin Corona juga diukur dari proporsi temuan kasus terinfeksi pada kelompok penerima vaksin dengan kelompok penerima plasebo atau obat kosong. Vaksin Corona dikatakan manjur ketika temuan kasus positif pada kelompok penerima vaksin lebih rendah dibanding kelompok plasebo.


"Nanti kalau dapat yang 67,5 persen pun, itu sebetulnya terjemahannya orang yang tidak divaksinasi 3 kali lebih berisiko untuk terinfeksi," jelas Prof Hindra.

https://maymovie98.com/movies/the-road-to-god-knows-where/