Kamis, 03 September 2020

Pria Ini Malah Jadi Botak Gara-gara Terlalu Semangat Olahraga

Seorang pria bernama Liu Liang dari Hunan, China mengalami kebotakan karena olahraga yang dilakukannya terlalu berlebihan. Kejadian ini terjadi dua tahun yang lalu ketika mulai pergi ke tempat gym.
Dikutip dari laman World Of Buzz, setelah enam bulan melakukan olahraga di tempat gym, pria 24 tahun tersebut menyadari bahwa ia kehilangan banyak rambut. Dia merasa sangat kesal dengan kenyataan bahwa dia menjadi botak bahkan sebelum dia mencapai tubuh yang diimpikannya.

Untuk mencari tahu apa penyebabnya, Liu berkonsultasi dengan dr Zhang Yu yang bekerja di Departemen Dermatologi Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Chin Provinsi Hunan. Dokter mendiagnosisnya dengan androgenic alopecia.

Dikutip dari WebMD, androgenic alopecia adalah suatu kondisi yang bisa menyerang pria dan wanita. Pria dengan kondisi ini, mulai mengalami kerontokan rambut sejak usia remaja atau di umur awal 20-an, sementara itu wanita tidak mengalami penipisan rambut hingga usia 40-an atau lebih.

Dr Zhang melanjutkan, jika saat seseorang berolahraga maka produksi testosteronnya akan meningkat. Testosteron kemudian akan berubah menjadi dihidrotestosteron. Saat kadar dihidrotestosteron meningkat, ini memicu dan menyebabkan alopesia androgenik.

Setelah mengalami kebotakan, Liu kemudian berhenti berolahraga dan mulai untuk minum obat China dan pengobatan akupuntur. Saat melakukan pengobatan rambut Liu sudah tumbuh kembali.

Namun, awal tahun ini Liu kembali untuk olahraga dan menjadi botak lagi. Saat ini dia melakukan transplantasi rambut.

Ridwan Kamil Ungkap Kelebihan Jika Vaksin Corona Dibuat di Bandung

 Indonesia tengah mempersiapkan kandidat vaksin yang diproduksi di dalam negeri, yaitu vaksin merah putih, GX-19, Sinopharm, dan Sinovac. Vaksin Sinovac ini diproduksi oleh Bio Farma yang telah melakukan uji klinis fase ketiga.
Vaksin ini telah melewati fase 3 di Bandung, Jawa Barat yang dijadwalkan berjalan selama 6 bulan dan target selesai pada Januari 2021. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan vaksin yang diproduksi di Bandung ini memiliki berbagai kelebihan.

"Kelebihannya karena diproduksi di Bandung, maka harganya murah," ujarnya dalamwebinarYouTube, Kamis (3/9/2020).

"Jumlahnya bisa kita atur. Kita tidak bisa dikendalikan oleh barang, kalau barang jadi kita kan diimpor vaksinnya, nanti diatur antar negara...wah panjang," imbuhnya.

Berdasarkan data hasil uji klinis tahap awal kandidat vaksin Sinovac, CoronaVac bisa menginduksi terbentuknya antibodi dan memperkuat sistem imunitas tanpa efek samping yang merugikan. Bio Farma pun menargetkan vaksin ini bisa diproduksi pada kuartal pertama 2021.

Dalam pemaparannya, Ridwan meminta dukungan dan doa agar vaksin yang tengah diproduksi ini bisa segera hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, jika vaksin ada, pandemi yang melanda Indonesia saat ini bisa dikatakan berakhir.

Sudah 6 Bulan Berlalu, Ini Alasan Corona di Indonesia Belum Juga Teratasi

Sudah enam bulan menghadapi wabah Corona, gelombang pertama virus Corona di Indonesia belum juga usai. Ada tiga kesalahan yang disoroti ahli epidemiologi mengapa wabah Corona belum juga usai.
Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, menjelaskan salah satunya terkait masalah zonasi. Seperti halnya pengkategorian wilayah zona hijau, tidak benar-benar menandakan tingkat infeksi wilayah tersebut rendah.

"Karena mobilitas penduduk itu tidak bisa kita batasi. Misalnya 5 wilayah kuning hijau, dalam waktu berapa hari berubah karena ada laporan kasus, jangan gunakan zonasi hijau dan memberikan kesan kita aman dan masih ada penularan," paparnya dalam sebuah diskusi online, Kamis (3/8/2020).

"Zona hijau tidak merefleksikan yang sesungguhnya. Jadi saat mereka merasa aman, terjadilah klaster baru di sekolah, pabrik, kantor, karena membuat orang menjadi tidak waspada," lanjutnya.

Pandu menyoroti beberapa alasan lain yang membuat wabah Corona di Indonesia belum juga berakhir. Apa saja?

"Tidak memperkuat surveilans. Melupakan peran layanan primer dan masyarakat harus diajak sejak awal dan kemudian kita karena tadi disuruh patuh secara massal untuk melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) tanpa menyadari kewaspadaan itu membuat masyarakat lalai," pungkasnya.

Meningkatkan surveilans dan memastikan masyarakat melakukan protokol kesehatan dengan baik merupakan kunci yang dinilai Pandu bisa menekan penularan Corona.
https://cinemamovie28.com/killers/

Rabu, 02 September 2020

Disebut 10 Kali Lebih Menular, Mutasi Corona D614G Ada di 4 Negara Ini

 Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada akhir 2019 lalu, virus Corona yang menyebabkan COVID-19 kini telah bermutasi. Varian mutasi yang telah telah ditemukan dan ramai dibicarakan adalah mutasi Corona D614G.
Varian mutasi ini disebut-sebut para ilmuwan menjadi varian mutasi virus Corona yang paling menular sampai 10 kali lipat, walaupun banyak pakar menegaskan bahwa hal itu baru sebatas hipotesis dan butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Varian mutasi virus Corona ini pertama kalinya ditemukan pada akhir Februari lalu di Eropa, Amerika Serikat, hingga menyebar ke beberapa negara Asia, termasuk di beberapa kota di Indonesia.

Berikut beberapa negara di Asia yang juga menemukan varian mutasi virus Corona, yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Indonesia
Varian mutasi virus Corona D614G dilaporkan ada juga di Indonesia. Menurut Guru Besar Universitas Airlangga, Prof Chairul A Nidom, mutasi ini sudah ditemukan di Pulau Jawa sejak Maret 2020 lalu.

"Itu kan bukan hal aneh. Sudah lama ditemukan, di Indonesia sendiri dari data yang sudah dilaporkan itu ada beberapa," katanya pada detikcom, beberapa waktu lalu.

Namun, Prof Nidom belum bisa memastikan apakah mutasi virus Corona ini lebih menular hingga 10 kali lipat. Hal ini karena belum ada studi lebih lanjut yang bisa membuktikan hal tersebut.

"Jadi, kalau itu sebetulnya dugaan bahwa dengan perubahan atau mutasi dari (D) asam spartat ke (G) glisin di no 614 itu bisa mempercepat penularan, tetapi belum ada bukti, artinya bagaimana mempercepatnya," jelas Prof Nidom.

Menurut Prof Nidom, varian mutasi Corona ini sudah ada di beberapa wilayah di Pulau Jawa, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Selain itu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio menyebut beberapa kota lain yang juga memiliki varian mutasi tersebut. Beberapa kota yang terdapat mutasi Corona yaitu DKI Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya.

"Dihipotesiskan dengan dikaitkan kecepatan infeksi, tetapi itu baru diamati di laboratorium, jadi dari waktu pertama itu diidentifikasi, di tes di laboratorium, bahwa virus yang mengandung mutasi itu bisa menginfeksi sel, katanya 10 kali lebih cepat," ujar Prof Amin.

"Tetapi itu sekali lagi di laboratorium, jadi belum terbukti di komunitas," lanjutnya.

2. Malaysia
Pada Agustus lalu, otoritas kesehatan Malaysia melaporkan mendeteksi adanya varian mutasi virus Corona D614G di negaranya. Varian mutasi inii ditemukan Institut Penelitian Medis Malaysia.

Itu ditemukan pada empat kasus di antara dua klaster atau kelompok COVID-19 yang ada di Malaysia. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Kesehatan, Noor Hisham Abdullah.

"Kelompok Sivagangga dan kelompok Ulu Tiram," ungkapnya yang dikutip dari The Straits Times.

"Ini ditemukan 10 kali lebih menular dan mudah disebarkan oleh 'super-spreader' individu," lanjutnya.

3. Singapura
Negara tetangga Indonesia lainnya, yaitu Singapura juga melaporkan telah menemukan varian mutasi virus Corona D614G. Dr Sebastian Maurer-Stroh, Perwakilan dari Badan Sains, Teknologi, dan Penelitian Singapura, mengatakan juga sudah melakukan pencegahan terhadap penyebaran varian mutasi Corona yang ditemukan itu.

"Namun, tindakan penahanan atau pencegahan yang dilakukan ini sudah mencegah penyebaran virus ini dalam skala besar," jelasnya, dikutip dari Channel News Asia.

"Karena varian ini sudah beredar secara global, maka bisa ada di negara mana pun. Dan setiap negara dengan pengawasan aktif saja sudah melihatnya, terutama terkait dengan kasus impor dari pendatang," imbuhnya.

Selain melaporkan adanya varian mutasi Corona ini, Dr Maurer-Stroh juga mengungkapkan bahwa mutasi ini tidak selalu menjadi lebih ganas. Mutasi yang terjadi pada virus ini malah membuatnya menjadi tidak berbahaya.

4. Filipina
Melalui Philippine Genome Center (PGC), para peneliti di Filipina melaporkan adanya varian mutasi virus D614G yang dikonfirmasi berada di kota Quezon.

Pakar penyakit menular, Dr Edsel Salvana sebelumnya mengungkapkan bahwa lonjakan kasus infeksi yang terjadi di Filipina pada Juli lalu disebabkan karena mutasi ini. Ini mungkin saja bisa terjadi, meskipun varian mutasi itu belum terdeteksi di Filipina.

"Mutasi D614G membuat virus lebih menular. Ini bisa menyebar lebih cepat dan membanjiri sistem perawatan kesehatan kita, jika kita tidak menggandakan upaya pengendalian dan bisa menyebabkan jumlah kematian secara keseluruhan yang tinggi," pungkas Dr Salvana yang dikutip dari GMA News Online.
https://indomovie28.net/zoolander-2/