Selasa, 18 Februari 2020

Warga Suku Tengger Bersih-bersih Pura Sebelum Nyepi

Suku Tengger di Probolinggo melakukan berbagai persiapan Catur Brata Nyepi Tahun Saka 1941. Salah satunya aksi bersih-bersih pura.

Berbagai persiapan dilakukan Umat Hindu, Suku Tengger, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo sebelum melakukan pelaksanaan Catur Brata Nyepi Tahun Saka 1941. Salah satunya melakukan aksi bersih-bersih di Pura Luhur Poten, yang berlokasi di areal Padang Pasir, Kaldera, Gunung Bromo. Warga Suku Tengger yang tinggal di sekitar pura, bersama-sama membersihkan tempat peribadatan Umat Hindu tersebut.

Salah seorang warga Tengger, Sujono mengatakan, aksi bersih sebelum nyepi sebagai bentuk penyambutan pelaksanaan Nyepi. Selain itu, Umat Hindu bersyukur kepada Sang Hyang Widiwasa, lantaran bisa dipertemukan kembali dengan Nyepi.

"Bersih-bersih merupakan ungkapan syukur Umat Hindu, menyambut Pelaksanaan Nyepi. Serta bagian penyucihan diri dan tempat peribadatan Umar Hindu," terangnya, Rabu (06/03/19).

Dalam aksi bersih-bersih sendiri, warga menggunakan cangkul, sapu lidi dan peralatan kebersihan lainnya untuk mensucikan Pura Luhur Poten, yang menjadi pusat peribadatan Umat Hindu warga lereng Bromo.

Sementara Camat Sukapura, Yulius Christian menyampaikan di puncak Pelaksanaan Nyepi, diterjunkan sekitar 100 pasukan Jaga baya, yang berasal dari petugas Linmas Kecamatan Sukapura.

"Para pasukan Jaga Baya ini, nantinya akan ditempatkan sesuai desanya masing-masing yang melaksanakan Nyepi. Tugasnya yakni menjaga suasana Nyepi, agar tetap berlangsung khidmat," jelasnya.

Ketinggalan Kereta Sudah Biasa, Ini Ketinggalan Kapal Pesiar

Kejadian menyedihkan dialami sepasang turis yang tengah liburan di Bahamas. Entah bagaimana, mereka ketinggalan kapal pesiar persis di depan mata..

Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Rabu (6/3/2019), kejadian tak biasa itu dialami sepasang turis yang tengah liburan bulan madu dengan kapal pesiar Caribbean Cruise seperti diberitakan media The Sun.

Diketahui, sepasang turis itu adalah artis Kosta Rika, Maria Gonzales Roesch (26) dan suaminya, Alessandro Di Palma. Mirisnya lagi, mereka ketinggalan cruise di hari keenam dari total tujuh hari pelayaran mereka.

"Saya melihat geladak dengan dua kru kapal, dan mereka marah pada kami," ujar Maria.

Awalnya, Maria dan kekasihnya yang tengah turun beranggapan kalau kapal mereka akan berangkat pukul 17.30 waktu setempat. Namun, saat itu ternyata kapal mereka berangkat dua jam lebih awal.

Hal itu pun diketahui Maria saat mendengar bunyi sirene kapal mereka. Mendengar bunyi sirene, Maria dan pasangannya segera bergegas lari menuju kapal. Sayang, pintu sudah diangkat dan kapal sudah siap berlayar tanpa mereka..

"Ketika kami tiba di dermaga, kami begitu terkejut," ujar Maria.

Sambil pasrah, Maria dan suaminya harus melihat kapal mereka berlayar tanpa mereka. Parahnya lagi, paspor beserta dompet dan barang-barang mereka juga masih ada di dalam kapal.

Untung saja pihak kru kapal berhasil mengambil paspor dan dompet mereka dari kamar, dan menitipkannya pada perantara yang berjaga di dermaga.

Pergi ke kantor imigrasi, mereka pun menyadari kalau bukan satu-satunya yang tertinggal. Ternyata ada enam orang penumpang lain yang sama-sama ketinggalan kapal.

Pada akhirnya, Maria dan suaminya pun harus terbang ke perhentian terakhir kapal di Miami untuk mengambil sisa barang mereka. Yang bikin lebih lucu, ternyata ada penumpang yang mengabadikan momen keduanya berlari mengejar kapal dan viral!

"Sekarang saya dapat mengatakan kalau kejadian itu sangat lucu, dan kami punya cerita untuk dibagikan pada anak kami," ujar Maria.

Ada-ada saja ya traveler..

Senin, 17 Februari 2020

Kuy, Jelajah 3 Kelenteng Bersejarah di Ibu Kota

Weekend ini kenapa tidak mencoba sesuatu yang beda mengisi waktu luang? Yuk jelajah 3 kelenteng bersejarah di Kota Jakarta dan kenali budaya Tionghoa.

Jakarta, dalam sejarah panjang perjalanannya sebagai sebuah kota tentu memiliki banyak kisah mengenai penduduknya yang terdiri atas berbagai macam suku, agama, bahasa dan budaya. Seiring perjalanan sejarahnya, Jakarta yang pernah memiliki beberapa nama di masa lampau, seperti: Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia, sudah tersohor hingga ke mancanegara sebagai salah satu pusat perdagangan. Banyak pelaut dan pedagang manca negara singgah di kota pelabuhan ini.

Dalam buku 'Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta' karya A. Heuken Sj dituliskan bahwa sebagai Kota Pelabuhan, Jakarta sudah bercorak internasional sejak masih disebut Sunda Kelapa. Dan sejak berabad-abad yang lalu orang dari berbagai macam latar belakang suku, budaya dan agama sudah berinteraksi di tempat ini (A. Heuken Sj, 1997: 13). Interaksi sejak berabad-abad yang lalu tersebut  masih terus berlangsung hingga saat ini, memberikan warna dan keunikan tersendiri dalam kehidupan penduduknya.

Terdapat banyak peninggalan bersejarah yang dapat bercerita mengenai interaksi dari berbagai macam suku, agama bahasa dan budaya yang telah terjadi sejak masa lampau di kota ini. Salah satunya adalah Rumah Peribadatan warga dari etnis Tionghoa yaitu kelenteng.

Dari beberapa sumber sejarah kita mengetahui bahwa pada abad ke-16 pedagang-pedagang dan pelaut Tionghoa menjadi saingan kuatĂ‚  pedagang-pedagang Portugis, Inggris dan Belanda. Pedagang dan pelaut dari Tionghoa tersebut tentu pernah singgah dan berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa.

Ketika para pedagang dan pelaut itu berada di perantauan tentu saja mereka memiliki kebutuhan untuk menjaga identitas spiritualnya dan untuk memenuhi kebutuhan itu mereka membangun Kelenteng dimana mereka bisa saling berinteraksi, berkumpul dan berdoa dalam keyakinan dan tradisi mereka. Kelenteng-Kelenteng yang didirikan pun biasanya memiliki kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan spiritual dan tradisi masyarakat yang mendirikannya. Beberapa pedagang dan pelaut Tionghoa tersebut ada yang akhirnya menetap di seputaran Batavia, bekerja sebagai nelayan, pedagang, petani. dan sebagainya.

Di Jakarta terdapat beberapa Kelenteng bersejarah yang telah berusia ratusan tahun dan beberapa di antaranya telah menjadi cagar budaya karena tingginya nilai sejarahnya. Menurut penjelasan pemandu wisata dan beberapa sumber informasi, di Indonesia terkadang Kelenteng disamakan dengan Vihara, meskipun sebenarnya Kelenteng dan Vihara adalah berbeda.

Kelenteng merupakan tempat peribadatan umat Konghucu sementara Vihara merupakan tempat peribadatan umat Budha. Kerancuan ini terjadi karena setelah terjadinya peristiwa politik pada tahun 1965, pada tahun setelahnya ada pembatasan segala sesuatu yang mengandung unsur budaya Tionghoa.

Sehingga banyak umat Konghucu bergabung dengan salah satu agama dari 5 agama yang diakui negara saat itu, salah satunya adalah Budha yang mungkin lebih dekat secara tradisi. Begitu pula tempat peribadatannya mulai bergabung dan menggunakan nama Vihara. Namun seiring perjalanan waktu dan sejarah, pada saat ini Tahun Baru Imlek sudah diakui dan ditetapkan sebagai hari Libur Nasional.

Bertepatan dengan hari raya Imlek tanggal 5 Februari 2019 yang lalu saya berkesempatan mengikuti tour berkeliling beberapa Kelenteng bersejarah di Jakarta bersama komunitas wisatakreatif Jakarta yang dipandu oleh Ibu Ira dan Ibu Ameliya dari Team wisatakreatif Jakarta.

Bersama rombongan tur yang berjumlah sekitar 20 orang saya berkeliling ke beberapa Kelenteng bersejarah di Jakarta diantaranya yang akan dibahas dalam tulisan ringan ini adalah: Kelenteng Jin de Yuan (Vihara Dharma Bhakti) di Glodok, Kelenteng Sin Tek Bio (Vihara Dharma Jaya) di Pasar Baru ,dan Kelenteng Ancol (Vihara Bahtera Bhakti)