Minggu, 16 Februari 2020

Mengunjungi Kota Kerajaan Terakhir Myanmar (3)

Jika Sanda Muni terdapat menara kecil yang tersebar di sekitar Pagoda utama maka di Kuthodaw terdapat menara juga namun berisi kitab sutra Buddha yang di ukir di sebuah batu dan di susun sesuai dengan urutan bab dan isi kitab sutra Buddha yang bertulisan bahasa Burma. Pada saat memasuki Kuthodaw ada seorang penjual sovenir yang menawarkan dagangannya dan juga menawarkan bedak tanaka, dan saya pun penasaran kemudian mencobanya.

Bedak yang ternbuat dari kayu tanaka yang katanya hanya ada di Myanmar ini di buat dengan menggosok batangnya kemudian serpihannya dicampur dengan air dan pelembab kemudian di tempelkan di pipi rasanya dingin dan ringan, ya seperti memakai bedak bedanya tidak di ratakan di wajah. Setelah ditempelkan kemudian di bentuk seperti daun, kreatif banget nih! Kemudian kami berkeliling dan tentu saja mengambil banyak sekali foto di pagoda ini.

Setelah itu kami lanjutkan perjalanan menuju ke Mandalay Hill yang terletak di sebelah utara Kota Mandalay. Mandalay Hill adalah sebuah bukit yang telah menjadi biara dan tempat ziarah utama umat Buddha di Burma. Akses yang dapat di tempuh adalah jalanan menanjak dari sebelah utara benteng mengikuti jalan sampai akhirnya sampai di parkiran atas. Untuk naik ke atas Pagoda dapat menaiki lift dan juga dapat menggunakan eskalator dari pintu masuk di bawah.

Setelah sampai di selasar atas ternyata udara di sini lebih dingin dan juga angin semilir yang berhembus menambah sejuk suasana siang ini. Memang waktu yang terbaik untuk berkunjung ke Mandalay Hill adalah pada saat subuh di mana kalian bisa menikmati sunrise dari bukit yang indah ini. Yang menjadikan Mandalay Hill patut untuk dikunjungi adalah keindahan arsitektur dan juga detail hiasan mozaik di sekeliling tembok yang ada di Pagoda ini. Hiasan Mozaik yang sangat detail, kemudian tulisan doa-doa di sekeliling tembok dan atap pagoda ini sangat detail dan indah saya seperti merasa di Maroko atau di India, namun memang sangat indah sekali berwarna-warni.

Berkeliling melihat-lihat dan kemudian mengambil beberapa foto tidak terasa waktu berjalan sangat cepat sekali sehingga kami harus mengakhiri kunjungan kami di Mandalay Hill ini. Namun sebelum turun ternyata di bawah area pagoda ada beberapa kios yang menjual baju tradisional khas Myanmar dan saya pun tergoda untuk membeli satu yang berwarna putih. Kemudian kami beranjak kembali ke kota mengurus check out dari hotel dan memesan taksi untuk kembali ke Terminal Mandalay, bergegas mengembalikan motor ke rental dan kembali lagi ke hotel, lalu langsung melanjutkan perjalanan ke terminal untuk menaiki bus yang akan membawa kami kembali ke Yangon.

Sampai di terminal kami harus menunggu beberapa saat sebelum bus kami siap, kami menaiki bus malam namanya Famous Bus Express harganya lebih murah dari JJ Express waktu berangkat ke Bagan dari Yangon dengan fasilitas yang sama. Akhirnya bus pun siap dan kami harus naik memulai perjalanan kembali ke Yangon untuk kembali ke Kuala Lumpur dan kemudian pulang ke Jakarta.

Demikian perjalanan selama di Myanmar, seru banget banyak hal tidak terduga dan juga sangat menantang. Memang traveling ke Myanmar sangat cocok untuk kamu yang suka tantangan, suka belajar sejarah, suka tempat yang sepi untuk merenung, suka tempat yang masih asli dan juga suka banget hal-hal di luar kebiasaan kita sehari-hari.

Yang penting selama traveling harap memperhatikan tradisi dan tata cara lingkungan sekitar. Menjaga ucapan, kelakuan dan tidak kalah penting juga menjaga kebersihan khususnya sampah yang harus di buang di tempatnya ya.

Mengunjungi Kota Kerajaan Terakhir Myanmar (2)

Sewa motor di Mandalay termasuk murah sekitar 200 ribu rupiah untuk 1 hari. Saya menyewa skuter matic untuk berkeliling dan kemudian kami langsung menuju Pagoda Mya Thein Tan yang berlokasi di Mingun seberang sungai Kota Mandalay melewati jembatan besar dan jalan menanjak berbukit di sisi Sungai Ayeyarwady.

Perjalanan satu setengah jam yang kami tempuh lumayan jauh namun terbayar begitu kami sampai di Pagoda yang megah menawan berwarna putih ini. Luar biasa sekali pagoda yang besar ini menjulang seperti gunung berwarna putih dan bermahkotakan makara keemasan di ujungnya.

Kami harus melepas alas kaki sebelum naik tangga untuk menuju ruangan utama dari pagoda. Dan di Pagoda Mya Thein Tan ini juga terdapat patung Budha namun hanya di tengah tidak di keempat sisinya. Begitu sampai di lantai paling atas kami melihat banyak orang juga yang melakukan ibadah seperti berkeliling lebih dahulu kemudian diakhiri dengan sembayang dan membakar dupa untuk dipersembahkan kepada Sang Buddha.

Hsinbyume atau dikenal juga dengan Mya thein dan Pagoda adalah yang terbesar di belahan utara Myanmar sekitar 10 kilometer dari tengah Kota Mandalay. Pagoda ini menggambarkan sebuah gunung meru dan di bangun di dasarkan pada deskripsi Pagoda Sulamani. Tujuh terasnya melambangkan tujuh jajaran gunung menurut mitologi Buddha.

Setelah puas mengambil gambar di sekitar Pagoda menawan ini akhirnya kami melanjutkan untuk melihat Sunset dari U Bein Brigde atau jembatan U Bein yang terkenal di daerah Amarapura Kota Mandalay. U Bein Bridge terkenal sebagai jembatan kayu terpanjang di Mandalay bahkan di Myanmar.

Keindahan U bein dapat kita nikmati pada saat sunset dan sunrise, karena kami sampai di Amarapura sudah sore maka ini adalah saat yang tepat untuk menikmati Sunset dari jembatan legendaris ini. Begitu sampai di U Bein yang kami lihat banyak sekali orang yang melewati tengah-tengah jembatan untuk berfoto dan menikmati sunset, namun untuk motor memang tidak diperbolehkan untuk melewati jembatan kayu ini, jadi kami mengambil sisi sebelah kiri dari jembatan di sisi danau ini.

Dan ternyata spot yang kami ambil ini memang tepat untuk menikmati Sunset di seberangnya. Ternyata di tempat kami berdiri banyak sekali anjing yang berkeliaran, dan juga banyak orang lokal yang bermain sepak takraw di tepian danau ini. Dan benar saja pada saat matahari mulai turun, pemandangan di sini sangat indah, di kejauhan terlihat perahu nelayan yang lewat, burung yang berterbangan menambah syahdu pemandangan sunset di sore hari itu.

Setelah menikmati Sunset kami kembali ke Kota Mandalay dan langsung ke terminal untuk memesan tiket bus kembali ke Yangon karena penerbangan kami kembali ke Kuala Lumpur harus kami tempuh dari Bandara Internasional di Yangon, kemudian kami lanjut makan di restoran ayam siap saji (karena ternyata tidak cocok dengan makanan lokal) kemudian kembali ke hotel dan beristirahat untuk persiapan menjelajah di esok harinya.

Setelah cukup beristirahat dan mandi keesokan harinya kami mengunjungi sebuah tempat yang bernama Sanda Muni dan juga Kuthodaw Pagoda yang letaknya berdekatan. Sanda Muni dan Kuthodaw Pagoda seperti mirip namun ada perbedaannya.