Minggu, 22 Desember 2019

Mengenal Makam Penyebar Islam Pertama di Simeulue

Penduduk Pulau Simeulue di Provinsi Aceh mayoritas muslim. Kondisi itu pun tak lepas dari andil Teungku Diujung, penyebar agama Islam pertama di Simeulue.

Apabila berkunjung ke Simeulue, tak lengkap tanpa berziarah ke Makam Teungku Diujung di Kecamatan Simeulue Cut. Tim detikcom dan Bank BRI pun sempat singgah di sana saat berkunjung pada 28 Agustus hingga 5 September 2019 lalu.

Menurut penuturan warga lokal, makam dari Teungku Diujung kerap dikunjungi oleh banyak peziarah hingga pemuka agama populer seperti UAS dan lainnya. Hal itu pun dikarenakan oleh andil beliau sebagai pembawa agama Islam pertama ke Simeulue.

Singgah di makam, detikcom pun disambut oleh sang juru kunci yang bernama Marjunis. Baru empat tahun bekerja sebagai juru kunci, Marjuanis menceritakan sejarah di balik Teungku Diujung.

"Teungku Diujung ini berasal dari Padang pada abad ke 14-15 lebih kurang. Teungku diujung mau menjalankan haji pada masa Sultan Iskandar Muda. Untuk itu Sultan minta pada Teungku untuk menunaikan ibadah haji, kalau boleh ke Simeulue untuk meng-Islamkan. Karena saat itu belum Islam," ujarnya.

Sebagai syarat agar Teungku boleh naik haji, ia pun berangkat ke Simeulue. Tak sendiri, ia ditemani oleh Putri Simeulue atau Putri Melur yang adalah warga asli Simeulue untuk menunjukkan jalan.

Setibanya di Simeulue, Teungku pun disambut oleh pasukan dari Raja setempat. Mengetahui kedatangan Teungku, sang Raja pun menantang dirinya untuk beradu ilmu.

Konon kabarnya, pertarungan keduanya berlangsung sengit. Namun, pada akhirnya Teungku menang dan diizinkan untuk menyebarkan agama Islam di Simeulue.

di luar andil Teungku yang menyebarkan Islam di Simeulue, karomahnya pun masih diakui oleh masyarakat hingga saat ini. Buktinya, makam Teungku taak terjamah saat Tsunami Aceh tahun 2004 silam.

"Pas tsunami 2004 daerah kuburan ini tak kena tsunami. Diperkirakan jarak Tsunami 300 meter ke jalan habis semua," ujar Marjuanis.

Lebih lanjut, makam Teungku Diujung pun kerap diziarahi. Mulai dari hari biasa hingga hari besar, ada saja yang bertandang ke sana.

"Ramainya hari-hari besar Islam. Hari-hari lain tetap ada pengunjungnya. Tiap hari pasti ada yang kemari," tutup Marjuanis.

Itulah sedikit cerita dari Teungku Diujung, sang penyebar agama Islam pertama di Simeulue. Mampirlah jika liburan ke Simeulue.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Masjid Ramlie Musofa di Jakarta, Indahnya bagaikan Taj Mahal

Bingung mencari wisata religi di Jakarta? Nah, bagi kamu yang mencarinya bisa mampir ke Masjid Ramlie Musofa tepatnya di Jalan Danau Sunter Selatan 1 blok 1 10 nomor 12 C 14 A, Jakarta Utara.

Bangunan yang berada di seberang Danau Sunter, Jakarta Utara ini rupanya ialah sebuah masjid. Masjid Ramlie Musofa memiliki kesan mewah dan menawan karena berarsitektur layaknya seperti monumen Taj Mahal di India.

Lalu, seperti apa ya masjid yang menerapkan empat unsur budaya ini? Berikut ini beberapa fakta menarik mengenai Masjid Ramlie Musofa di Sunter yang dirangkum detikTravel:

1. Sejarah Masjid Ramlie Musofa

Masjid ini mulai dibangun oleh Ramli Rasidin pada tahun 2011-2016. Pembangunan masjid yang memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi ini mendatangkan bahan bangunan untuk mimbar berupa marmer dari Turki dan Italia loh, juga mendatangkan ornamen ukiran khusus dari Pulau Jawa.

Masjid ini terinspirasi dari kisah berdirinya monumen Taj Mahal yang menceritakan tentang pembangunannya menjadi ajang perwujudan cinta antara seorang raja terhadap istrinya. Hal itu menjadikan inspirasi bagi pemilik Masjid Ramlie Musofa ini untuk berharap masjid ini sebagai pembuktian cinta terhadap Allah, Islam dan keluarga.

2. Penamaan Masjid

Nama masjid ini sendiri pun berasal dari inisial keluarga sang pemilik, yaitu

Ramli Rasidin : Ram
Lie Njok Kim : Lie (istri)
Muhammad : Mu (anak pertama)
Sofia : So (anak kedua)
Fabian : Fa (anak ketiga)

Miangas, Jangan Menangis Lagi (2)

Mengemban pangkat camat khusus, Sepno bertugas dengan beban setengah bupati. Karena berada jauh dari Kabupaten Talaud, camat khusus Miangas diberi kewenangan untuk mengurus surat-surat dan dokumen penting seperti tanah dan pernikahan.

Penduduk Miangas mencari nafkah dengan melaut, berdagang dan berkebun. Hasil laut yang dimiliki Miangas sebenarnya sangat kaya. Bayangkan saja, pulau kecil ini di kelilingi oleh lautan lepas.

Lobster, kepiting sampai kakap merah bisa didapatkan jika laut sedang bersahabat. Sayangnya, Miangas berteman akrab dengan cuaca ekstrem. Gelombang tinggi dan angin kencang, membuat hasil laut sepi.

Apalagi, perahu yang digunakan masih tradisional berupa motor tempel atau pamboat. Pamboat bisa diisi 2-3 orang dalam cuaca bagus. Kalau angin kencang, tak ada pamboat yang berani melaut.

Saat cuaca ekstrem, masyarakat akan kembali ke darat untuk berkebun. Hasil utama dari kebun ini adalah kelapa. Buah kelapa yang dipanen akan dijadikan kopra. Kopra kemudian kembali diolah untuk menghasilkan minyak kelapa.

Yang membuat pulau ini tak biasa adalah organisasi adat yang masih diteruskan dari jaman leluhur. Ketua adat memiliki peran penting dalam memimpin hukum masyarakat.

Jabatan ketua adat akan dipegang oleh dua orang dengan gelar Mangkubumi 1 dan Mangkubumi 2. Di bawahnya ada 12 suku adat yang masing-masing diwakilkan oleh 2 kepala suku.

Kebetulan, ketua ada yang ada di sana adalah Mangkubumi 2. Mangkubumi 1 sedang dalam perjalanan menuju Kota Melonguane, ibukota Talaud. Dari Mangkubumi 2 ini saya tahu arti nama Miangas.

"Miangas artinya menangis. Nama itu diberikan oleh leluhur kami," ujar Ismael Essing sebagai Mangkubumi 2.

Saya terdiam cukup lama. Kenapa diberi nama menangis?

"Miangas masuk ke dalam kepulauan Talaud. Namun, pulau-pulau lain bagaikan saudara yang berdekatan. Sedangkan Miangas sendirian di laut lepas. Ini kenapa pulau ini menangis karena sendirian," jelas Ismael.

Lidah saya kelu. Bukan cuma karena arti nama pulau ini. Tapi juga keadaan masyarakat Miangas. Dikelilingi dengan lautan lepas dan cuaca ekstrem, masyarakat Miangas tak jarang menangis karena kekurangan bahan makanan.

"Hanya ada 2 cara untuk mencapai Miangas, lewat udara dan laut. Kalau cuaca ekstrem, seringkali kapal telat datang dan tidak ada bahan makanan," ujar Sepno.

Meski demikian, adanya jalur udara di setiap minggunya, sedikit membantu pergerakan masyarakat Miangas. Sedikitnya sudah ada pendatang dari pemerintahan dan wisatawan yang menginjakkan kaki di pulau ini.

"Hadirnya presiden Jokowi di Miangas membuat peningkatan sebanyak 60 persen kunjungan pejabat. Tapi wisatawannya belum terdata," cerita Sepno.

Selain kunjungan dari para pejabat negara, Miangas juga terbantu dengan hadirnya Bank BRI sejak tahun 2016. Sebelum adanya BRI, masyrakat harus pergi ke Melonguane hanya untuk menarik uang.

Beberapa tempat wisata yang saya kunjungi adalah pantai, mercusuar sampai tempat keramat leluhur Miangas. Semuanya cantik dan begitu menantang!