Minggu, 22 Desember 2019

Menelusuri Mosaik Sejarah di Keraton Yogyakarta (2)

Bangsal Pagelaran yang merupakan bangunan utama Keraton ini terlihat begitu megah. Pagelaran merupakan area paling depan yang pada masa lalu sebagai tempat para abdi dalem menghadap Sultan ketika upacara-upacara Kerajaan dan bangunan di mana terdapat gerbang-gerbang tersebut merupakan tempat menunggu tamu-tamu untuk menghadap Sri Sultan. Menurut sumber informasi Keraton  Yogyakarta (www.kratonjogja.id) secara umum Kawasan Keraton Yogyakarta terdiri dari serangkaian ruang dan bangunan yang memiliki nama dan fungsi tertentu. Serangkaian ruang terbuka dalam Keraton disebut Pelataran.

Bangunan yang berada pada masing-masing Pelataran terdiri dari dua tipologi yang dikelompokkan berdasarkan struktur penyangga atap, yang pertama adalah bangsal, yaitu bangunan yang memiliki deretan tiang sebagai penyangga atap dan tidak memiliki dinding sebagai penyangga atap. Tipologi yang kedua adalah gedhong yang memiliki struktur penyangga atap berupa dinding. Kawasan inti di Keraton Yogyakarta tersusun dari tujuh rangkaian pelataran mulai dari Alun-Alun utara hingga Alun-Alun Selatan, secara singkatnya:

1. Pagelaran dan Sitihinggil Lor

2. Kamandungan Lor

3. Srimanganti

4. Kedhaton yang merupakan pelataran utama yang memiliki tataran hierarki tertinggi dalam kawasan Keraton Yogyakarta

5. Kemagangan yang saat ini digunakan untuk pementasan wayang kulit maupun beberapa kegiatan lainnya.

6. Kamandungan kidul yang merupakan salah satu bangsal tertua di Keraton Yogyakarta

7. Sitihinggil Kidul yang dahulu berfungsi sebagai tempat raja menyaksikan latihan para prajurit sebelum upacara Garebeg.

Di halaman Belakang Pagelaran terdapat dua buah relief perjuangan melawan penjajahan, di sisi kiri dari arah berjalan terdapat relief perjuangan Pangeran Mangkubumi. Menurut sumber sejarah informasi Keraton Yogyakarta (www.kratonjogja.id), Pangeran Mangkubumi adalah seorang ahli strategi militer ulung dan sejak awal sudah tidak suka dengan kelicikan VOC. Setelah keluar dari lingkup istana Mataram karena ketidaksukaannya terhadap pengaruh VOC, Pangeran Mangkubumi memulai serangan terbuka. Hanya dalam hitungan bulan hampir seluruh wilayah Kerajaan Mataram sudah berada di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi.

Perlawanan sengitnya terhadap VOC menimbulkan kerugian besar di pihak VOC dan menimbulkan tekanan besar pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa di Batavia waktu itu, Baron van Imhoff yang jatuh sakit dan kemudian meninggal. Akhirnya, pemegang kuasa VOC untuk wilayah pesisir Jawa Utara Nicholas Hartingh mendapatkan ide untuk mengajukan perundingan dengan Pangeran Mangkubumi, hingga ditandatanganinya perjanjian Giyanti sebagaimana telah dijelaskan di atas dan penobatan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Yogyakarta pertama dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Sifat tegas Sultan Hamengku Buwono I dan upayanya untuk menjauhkan campur tangan pihak asing dalam pemerintahannya menjadikannya salah satu pribadi yang paling disegani penjajah Belanda di tanah Jawa ini. Sultan Hamengkubuwono I terkenal pula keahliannya dalam hal arsitektur dan tata kota. Kita bisa melihat dari tata letak dan megahnya Keraton Yogyakarta. Kompleks Istana air Tamansari yang terkenal itupun juga hasil dari buah pemikirannya. Sultan Hamengku Buwono I wafat pada tanggal 24 Maret 1792.

Menelusuri Mosaik Sejarah di Keraton Yogyakarta

Keraton Kesultanan Yogyakarta masih berdiri kokoh hingga saat ini. Seiring perjalanan telah menunjukkan jati dirinya dalam melawan penjajahan kolonial.

Salah satu tempat di Yogyakarta yang ramai dikunjungi terlebih pada masa liburan adalah Keraton Kesultanan Yogyakarta. Keraton yang menjadi simbol kota Yogyakarta ini masih berdiri kokoh di jantung kota dengan tradisi dan budayanya yang memberikan ruh pada kota serta masyarakatnya hingga hari ini. Pada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta sebagai Raja di Keraton Yogyakarta, beliau juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya berkesempatan mengunjungi Keraton Yogyakarta ini, pada hari Minggu tanggal 30 Juni 2019 yang lalu, untuk masuk ke Keraton Yogyakarta dikenakan tiket sebesar Rp.5.000 untuk wisatawan lokal.

Sejarah Keraton Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Mataram Islam yang telah berdiri lama sebelumnya yaitu pada sekitar abad ke-16 dan berpusat di Kota Gede. Sumber Sejarah menceritakan, dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram, Sultan Agung yang naik takhta menjadi Raja Mataram pada tahun 1613 dan berkuasa hingga tahun 1645 membawa Kerajaan Mataram pada masa kejayaannya dan menjadi salah satu Kerajaan terbesar di Tanah Jawa. Salah satu sifat dari Sultan Agung adalah rasa tidak sukanya dengan pihak penjajah kolonial VOC yang dianggap penuh kecurangan dan mau menang sendiri, hal tersebut dibuktikan ketika Sultan Agung dua kali menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dijabat oleh sang pendiri Batavia Jan Pieterszoon Coen. Pada tahun 1629, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia karena terkena penyakit kolera yang menurut beberapa sumber diakibatkan karena pencemaran Sungai Ciliwung yang dilakukan oleh tentara Mataram, Kedua serangan Mataram tersebut memang belum berhasil mengusir penjajah asing tersebut.

Namun, perjuangan Mataram tersebut menjadi inspirasi perjuangan bagi pewaris dan generasi setelahnya untuk melawan penjajahan Kolonial, sebut saja beberapa diantaranya yang kebetulan berasal dari lingkup Keraton Yogyakarta: perlawanan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) dan perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kumpeni Belanda, perjuangan Sultan Hamengku Buwono IX dalam memberikan dukungan penuh pada perjuangan Republik Indonesia untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat penuh serta segenap upayanya untuk membela Republik Indonesia yang masih muda di meja diplomasi hingga penjajah Belanda angkat kaki dari bumi Indonesia. Ketiga tokoh tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Berdasarkan apa yang tertulis dalam sumber informasi Keraton Yogyakarta (www.kratonjogja.id), sepeninggal Sultan Agung Kerajaan Mataram mengalami pasang surut dengan kisah konflik suksesi dan peralihan kekuasaannya yang dicampuri kepentingan Kumpeni Belanda hingga ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua yaitu: Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau lazim disebut Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi. Pada tanggal 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dimulailah babak awal Kesultanan Yogyakarta sejak saat itu.

Bila kita mengunjungi Keraton Yogyakarta dari arah Jalan Malioboro dan masuk dari arah Alun-alun Utara yaitu lapangan rumput luas dengan dua pohon beringinnya yang terkenal, tepat di sebelah selatan alun-alun kita akan menemui Bangsal Pagelaran yang merupakan bangunan utama Keraton. Di sebelah atas gerbang di bagian luar tampak hiasan-hiasan relief berupa lima lebah (tawon) yang melingkar di atas seekor buaya/biawak. Menurut brosur panduan Keraton Yogyakarta relief tersebut menunjukkan tahun pagelaran disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.