Jumat, 23 April 2021

Baru Lagi! Ilmuwan AS Temuan Varian Corona BV-1, Kemungkinan Lebih Menular

 Para ilmuwan di Texas A&M University Global Health Research Complex (GHRC) mengidentifikasi varian baru COVID-19 yang namanya BV-1. Baru ketemu satu kasus dengan gejala ringan, tetapi dinilai mengkhawatirkan.

Menurut para ilmuwan, temuan ini perlu dilaporkan ke dunia meski belum bisa dipastikan seberapa signifikan pengaruhnya. Yang pasti, varian ini memiliki mutasi yang sama dengan beberapa variants of concern (VoC).


"Varian ini mengkombinasikan penanda genetik secara terpisah berkaitan dengan penularan yang cepat, penyakit parah, dan resistensi tinggi untuk menetralkan antibodi," kata virolog dari GHRC, Ben Neuman, dikutip dari tamu.edu, Jumat (23/4/2021).


Varian baru ini terdeteksi pertama kali pada sampel saliva atau air liur mahasiswa Texas A&M yang menjalani program pemeriksaan. Sampel tersebut terdeteksi positif pada 5 Maret, lalu dites ulang dan terkonfirmasi di rumah sakit.


Pemeriksaan berikutnya pada 25 Maret menunjukkan mahasiswa tersebut masih positif, mengindikasikan bahwa varian ini mungkin menyebabkan infeksi lebih lama dibanding COVID-19 biasa pada usia 18-24 tahun. Hasil negatif baru didapat pada pemeriksaan ketiga , 9 April.

https://tendabiru21.net/movies/executioners/


Live! e-Life: 'Puasa Bikin Kurus atau Gemuk?'


- Ramadhan adalah saatnya umat Islam melakukan ibadah puasa selama 1 bulan penuh. Saat berpuasa, seseorang tidak akan makan dan minum selama kurang lebih 12 jam, dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Hal ini yang membuat banyak orang beranggapan bahwa bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menurunkan berat badan.

Akan tetapi, nyatanya tak sesederhana itu. Banyak orang justru mengalami peningkatan berat badan saat berpuasa. Padahal, ibadah puasa sejatinya menyehatkan karena bisa menurunkan kadar kolesterol dan mengendalikan tekanan darah.


Lalu, apa yang menyebabkan kenaikan berat badan pada saat puasa? Selain itu, pola makan seperti apa yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan gizi selama berpuasa?


Untuk itu, kali ini e-Life akan mengangkat tema "Puasa Bikin Kurus Atau Gemuk?" bersama Ahli Gizi, Mochammad Rizal, S.Gz. Jangan lewatkan tayangan live streaming interaktifnya hanya di detikcom, Jumat (23/4/2021), pukul 16.30 WIB.


Bagi kamu yang mau tanya-tanya bisa bergabung lewat Zoom yang id-nya akan dibagikan pada saat acara berlangsung. Jangan ketinggalan ya!


Tampak Mirip, Ini Bedanya Gejala Corona Vs Malaria


Menjelang Hari Malaria Sedunia di Minggu (25/4/2021), Kementerian Kesehatan membeberkan data kasus malaria yang masih sulit tereliminasi di tahun ini. Pasalnya, beberapa wilayah bahkan tak berhasil mengeliminasi satupun kasus malaria, seperti Papua, Maluku, dan Papua Barat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Didik Budijanto menjelaskan penemuan kasus malaria masih menjadi tantangan terlebih di tengah pandemi COVID-19.


"Yang pasti adalah sama-sama punya gejala demam, sehingga kita jangan sampai terkecoh dengan ini, perlu ada pendekatan atau perlu pemeriksaan diagnostik yang lebih tepat," tutur Didik dalam konferensi pers Jumat (23/4/2021).


Menurut Mayo Clinic, gejala malaria umumnya disertai dengan beberapa keluhan seperti berkeringat hingga nyeri dada dan perut.


Berikut perbedaan gejala Corona vs gejala malaria.


Gejala malaria

Demam

Panas dingin

Sakit kepala

Mual dan muntah

Nyeri otot dan kelelahan


Gejala malaria yang muncul disertai:

Berkeringat

Sakit dada atau perut

Batuk


Tampak mirip, sebenarnya ada perbedaan gejala malaria dan gejala COVID-19. Gejala COVID-19 lebih beragam, dan hanya memiliki beberapa gejala khas.


Dikutip dari situs resmi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular AS (CDC), gejala COVID-19 sejauh ini meliputi.


Demam atau kedinginan

Batuk

Kelelahan (Kelelahan)

HIlangnya kemampuan mencium dan merasakan sesuatu


Gejala berat

Sesak napas atau kesulitan bernapas


Gejala tak biasa

Nyeri otot atau tubuh

Sakit kepala

Kehilangan rasa atau bau baru

Sakit tenggorokan

Hidung tersumbat atau meler

Mual atau muntah

Diare

Panas dingin

Pilek

https://tendabiru21.net/movies/cintapuccino/

Warga India Kabur ke RI, Pakar Ingatkan Risiko Masuknya Varian Baru Corona

 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap ada warga negara India yang beramai-ramai masuk ke Indonesia. Diduga hal ini karena lonjakan kasus COVID-19 di negara tersebut.

"Pertama, terkait ada kedatangan WNI dan WNA, kemarin sudah banyak warga India masuk ke Indonesia, banyak sekali," kata Kasubdit Karantina Kesehatan Ditjen P2P Kemenkes, dr Bengat, di Pekanbaru, Rabu (22/4/2021).


Disebutkan, mereka datang ke Indonesia melalui jalur udara dengan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Saat ini sekelompok WNA asal India tersebut sedang dikarantina di satu hotel agar mudah diawasi.


"Sekarang India sedang tsunami COVID-19 dan mereka masuk ke Jakarta sekarang. Di Samarinda sudah ada yang positif, jadi kami tadi sudah bahas dengan pimpinan untuk diperketat, kita mau tahu apakah ada varian baru," jelas dr Bengat.


Pakar tegaskan untuk perketat pengawasan

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara yang pernah berkantor di India, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan pemerintah tentang adanya risiko varian baru Corona yang masuk lewat WNA asal India tersebut. Oleh karena itu, ia mengatakan ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah, sebagai berikut.


1. Awasi dengan ketat

Prof Tjandra menegaskan setiap orang yang masuk ke Indonesia, termasuk dari India, harus menjalani karantina terlebih dahulu sebelum dapat beraktivitas.


"Pelaksanaan karantina ini harus terus berlangsung dengan ketat sesuai aturan yang berlaku dan kalau ada yang dicurigai sakit, maka harus ditangani sesuai prosedur serta kemungkinan kontaknya ditelusuri secara ketat," kata Prof Tjandra melalui pesan singkat yang diterima detikcom, Jumat (23/4/2021).


2. Periksa secara menyeluruh

Menurut Prof Tjandra, sebaiknya pengawasan ketat bukan hanya dilakukan pada mereka yang datang baru-baru ini saja. Namun, WNA yang sudah tiba dalam beberapa hari lalu juga perlu diperiksa.


"Singapura misalnya, mereka menutup penerbangan dari sebagian negara Eropa pada pertengahan Desember 2020 karena informasi varian baru B117, tapi lalu mereka juga menelusuri siapa saja yang sudah datang sejak pertengahan November 2020," jelasnya.


"Dengan cara ini maka Singapura waktu itu dapat menemukan varian baru B117 di negaranya," lanjutnya.


3. Lakukan pemeriksaan whole genome sequencing

Prof Tjandra menjelaskan pemeriksaan whole genome sequencing sangat penting dilakukan bagi mereka yang tiba di Indonesia dan positif COVID-19. Pasalnya, ini untuk mengidentifikasi kemungkinan masuknya varian atau mutasi virus Corona ke Tanah Air.


"Misalnya sekarang sakit COVID-19 padahal baru datang dari negara-negara yang melaporkan peningkatan kasus yang mungkin berhubungan dengan mutasi baru," ujar Prof Tjandra.


"Peningkatan jumlah pemeriksaan whole genome sequencing menjadi kunci utama untuk identifikasi kemungkinan varian dan mutasi baru yang mungkin ada di negara kita," tuturnya.

https://tendabiru21.net/movies/supercop-2/


Baru Lagi! Ilmuwan AS Temuan Varian Corona BV-1, Kemungkinan Lebih Menular


 Para ilmuwan di Texas A&M University Global Health Research Complex (GHRC) mengidentifikasi varian baru COVID-19 yang namanya BV-1. Baru ketemu satu kasus dengan gejala ringan, tetapi dinilai mengkhawatirkan.

Menurut para ilmuwan, temuan ini perlu dilaporkan ke dunia meski belum bisa dipastikan seberapa signifikan pengaruhnya. Yang pasti, varian ini memiliki mutasi yang sama dengan beberapa variants of concern (VoC).


"Varian ini mengkombinasikan penanda genetik secara terpisah berkaitan dengan penularan yang cepat, penyakit parah, dan resistensi tinggi untuk menetralkan antibodi," kata virolog dari GHRC, Ben Neuman, dikutip dari tamu.edu, Jumat (23/4/2021).


Varian baru ini terdeteksi pertama kali pada sampel saliva atau air liur mahasiswa Texas A&M yang menjalani program pemeriksaan. Sampel tersebut terdeteksi positif pada 5 Maret, lalu dites ulang dan terkonfirmasi di rumah sakit.


Pemeriksaan berikutnya pada 25 Maret menunjukkan mahasiswa tersebut masih positif, mengindikasikan bahwa varian ini mungkin menyebabkan infeksi lebih lama dibanding COVID-19 biasa pada usia 18-24 tahun. Hasil negatif baru didapat pada pemeriksaan ketiga , 9 April.

https://tendabiru21.net/movies/the-watch/